Sabtu, 27 September 2025

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

 

https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an activity, not a passive affect; it is a standing in, not a falling for’, yang artinya: ‘Cinta adalah sebuah aktivitas, bukan sebuah perasaan pasif; cinta adalah sebuah pendirian, bukan sebuah kejatuhan.’ (Erich Fromm).

Siapakah Erich Fromm?

Erich Pinchas Fromm (23 Maret 1900 – 18 Maret 1980) merupakan seorang psikolog sosial, psikoanalis, sosiolog, humanisme, sosialis demokrat dan filsuf berkebangsaan Jerman. Dia merupakan ketua asosiasi pada Sekolah Frankfurt untuk Teori Kritik. Dia dilahirkan di Frankfurt am Main. Erich Fromm pertama kali belajar pada tahun 1918 di Universitas Goethe Frankfurt untuk semester dua di Yurisprudensi. Pada musim panas 1919, Fromm studi di Universitas Heidelberg di fakultas sosiologi.

Setelah kita mengetahui siapa beliau, marilah kita lanjutkan dengan membahas filsafat cinta menurut Erich Fromm. Pada tulisan ini, saya hanya akan menekankan pada filsafat cintanya, tanpa membicarakan pandangannya mengenai teori-teori lain.

Menurutnya, problem cinta itu ada dua yaitu tentang Seni dan Perasaan Suka. Cinta sebagai Seni memerlukan pengetahuan dan latihan atau praktik. Sedangkan cinta sebagai perasaan suka adalah keberuntungan dan pengalaman jatuh cinta.

Banyak orang melihat masalah cinta sebagai problem dicintai dan bukannya problem mencintai. Tidak sedikit orang menganggap masalah cinta sebagai masalah obyek, bukan masalah bakat atau perilaku. Orang berpikir bahwa mencintai itu masalah sederhana, yang sulit ialah mencari objek yang tepat untuk dicintai. Apakah Anda mengerti dengan kalimatnya? 

Marilah kita uraikan orientasi cinta manusia pada masa modern ini. Ada empat orientasi cinta yang harus kita pahami, yaitu sebagai berikut:

1.     Orientasi Reseptif

Sumber kebahagiaan dan pemenuhan keinginannya di luar diri. Fokus pada apa dan siapa yang dicintai. “Mencintai” orang yang memberi cinta atau apa saja yang tampak seperti cinta.

2.     Orientasi Eksploitatif

Bentuk ekstrim dari orientasi reseptif, ada unsur pemaksaan dan manipulasi agar yang dicintai memuaskan keinginannya. Mereka mencintai pada apa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingannya. Saat obyek yang dicintai tidak bisa lagi dieksploitasi, mereka akan “bosan”.

3.     Orientasi Menimbun

Fokus pada kepemilikan. Orang yang merasa aman dan nyaman dalam memiliki sesuatu, menjaganya, menyimpannya, dan merasa bersalah saat “memanfaatkan” atau apalagi membuang apa yang dianggap miliknya.

Cinta bagi tipe ini adalah semacam kepemilikan, juga kenangan masa lalu, dan lain sebagainya. Tipe ini cenderung dingin dan tidak produktif.

4.     Orientasi Pasar

Fokus pada bagaimana menjual dirinya di “pasar”, bagaimana ia membungkus dirinya, bagaimana membuat orang lain tertarik kepadanya.

Cinta di mata orang ini adalah komoditasi; keuntungan apa yang bisa diperoleh dari cinta, yang relevan dengan modal (bungkus dan penampilan) yang sudah dikeluarkan.

Melihat keempat orientasi cinta di atas membuat saya berpikir, orientasi cinta manakah yang sebenarnya ada dalam diri saya selama ini dan saya jalani dalam kehidupan sehari-hari? Tentunya, Anda pun mungkin akan berpikir hal yang sama seperti yang saya pikirkan, bukan?

Cinta sebagai watak. Cinta adalah sikap, satu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, tidak semata menuju satu ‘obyek cinta’. Jika seseorang hanya mencintai satu orang saja, dan tidak peduli terhadap yang lainnya, ini bukanlah cinta namun ‘egoisme yang diperluas’.

Maka cinta yang sebenarnya tidak tergantung obyeknya. Orang yang mencintai hanya menuggu saat menemukan obyek yang tepat saja. Ibarat orang yang mau melukis, namun ia tidak mau mempelajari seni lukis, hanya menunggu menemukan obyek yang bagus dan tepat untuk dilukis. Padahal jika ia ahli melukis, obyek apapun akan tampak bagus dan indah.

Cinta sebagai jawaban problem eksistensial mansuia. Tanpa kehendaknya ia lahir, melawan kehendaknya ia mati (meninggal sebelum orang yang dicintai atau orang yang dicintai meninggal sebelum dia). Cinta ini mempunyai kesadaran akan kesepian dan keterpisahan. Kesadaran akan ketidakberdayaannya di hadapan kekuatan alam dan masyarakat.

Menerima otoritas dari luar dan tunduk kepada penguasa serta menyesuaikan diri dengan masyarakat. Menjadi budak untuk mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Bersatu dengan yang lain dalam semangat cinta dan kerjasama dalam menciptakan ikatan serta tanggung jawab bersama.

Cinta yang matang. Adalah kekuatan yang aktif dalam diri, mendobrak sekat antar manusia, namun tetap mengizinkannya menjadi dirinya sendiri. Dengan kata lain cinta yang matang adalah kesatuan dengan syarat tetap mempertahankan kebutuhan individualitasnya.

Cinta yang matang berbeda dengan kesatuan simbiotik. Kesatuan simbiotik adalah melarikan diri dari perasaan yang tak tertahankan karena keterasingan dan keterpisahan. Menyerahkan diri sepenuhnya menjadi bagian dari pribadi lain yang memimpinnya/membimbingnya/melindunginya.

Menurut Erich Fromm, terdapat beberapa unsur dasar cinta, yaitu sebagai berikut:

1.     Care (perhatian)

Yaitu menaruh perhatian yang serius dan mendalam terhadap kehidupan, perkembangan maju dan mundurnya, baik dan rusaknya obyek yang dicintainya.

2.     Responsibility (tanggung jawab)

Yaitu bertanggung jawab atas kemajuan, kebahagiaan, dan kesejahteraan obyek yang dicintainya.  Tanggung jawab di sini bukan berarti melakukan “dominasi” atau “menguasai” obyek yang dicintai untuk di-dikte sekendaknya. Tetapi lebih berarti turut terlibat dalam kehidupan obyek yang dicintainya dalam rangka kemajuan dan kesejahteraannya.

3.     Respect (hormat)

Maksudnya menghormati obyek yang dicintai seperti apa adanya, menerima apa adanya, dan tidak bersikap sekehendak hati terhadap obyek yang dicintainya.

4.     Knowledge (pengetahuan)

Yaitu memahami seluk beluk obyek yang dicintainya. Apabila obyek yang dicintainya itu manusia, maka harus dipahami kepribadiannya, latar belakang yang membentuknya maupun kecenderungannya. Juga harus dipahami, bahwa kepribadian seseorang itu terus berkembang.

Erich Fromm menegaskan bahwa cinta yang baik itu adalah cinta yang produktif. Cinta produktif itu menggeser modus “memiliki” menjadi modus “menjadi”. Mempunyai syarat kemandirian, kebebasan, dan penalaran yang kritis. Cinta produktif mempunyai ciri dimana keadaan aktif, bukan dalam arti aktivitas lahiriah, namun dalam arti optimalisasi aktual potensi-potensi kemanusiaan yang dimiliki. Menjadi aktif berarti memperbarui diri sendiri, tumbuh, mengatasi penjara ego, penuh semangat untuk memberi.

Cinta produktif akan membentuk diri menjadi pribadi yang merdeka dalam melakukan segala aktivitas melalui kesadaran akal budi. Orientasi cinta yang memberi akan melenyapkan perasaan terasing dan terpisah.

Love means to commit oneself without guarantee, to give oneself completely in the hope that our love will produce love in the loved person. Love is an act of faith, and whoever is of little faith is also of little love.

It takes a moment to tell someone you love them, but it takes a life time to prove it.”

Dua kutipan dari Erich Fromm di atas menjadi penutup tulisan saya kali ini. Semoga Tuhan membimbing dan menghantarkan kita semua kepada cinta yang produktif dan sejati, terutama cinta kepada Tuhan Yang Maha Pecinta. Jadilah manusia yang memiliki rasa cinta sebagaimana yang diamanahkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin. (EAS).

Sabtu, 20 September 2025

OVERTHINKING

 

https://id.pngtree.com/so/overthinking

Kali ini saya akan menulis tentang tema overthinking. Topik ini selalu menjadi bahan pembicaraan hangat, baik di kalangan remaja maupun orang dewasa, karena banyak yang sering merasakan dampaknya. Sebenarnya, apa itu overthinking? Marilah kita uraikan bersama mengenai definisi, ciri-ciri, dampak, serta cara untuk mengatasinya.”

Overthinking adalah kondisi mental di mana seseorang menggunakan terlalu banyak waktu dan energi untuk memikirkan suatu hal secara berlebihan, berulang, dan seringkali negatif, yang dapat menghambat penyelesaian masalah dan mengganggu kesejahteraan mental. Tipe overthinking ada dua: ruminasi, yaitu memikirkan masa lalu secara terus-menerus, dan khawatir, yaitu memikirkan prediksi negatif tentang masa depan. 

Overthinking dapat menghabiskan energi mental, menyebabkan stres, kecemasan, gangguan tidur, dan bahkan depresi. Ini berbeda dengan berpikir kritis atau memecahkan masalah secara efektif, karena overthinking cenderung tidak menghasilkan solusi atau kemajuan, melainkan justru memperburuk perasaan negatif dan menghambat tindakan.

Menurut Nareza (2020), proses overthinking biasanya disebabkan oleh adanya perasaan resah akan suatu hal, trauma yang belum selesai, sedang menghadapi masalah besar, bahkan masalah yang awalnya sederhana bisa menjadi besar jika selalu dipikirkan secara berlebihan. Alih-alih mencari jalan keluar, overthinking mungkin saja dapat menimbulkan masalah lainnya. Berpikir secara berlebihan terhadap sesuatu hal merupakan kebiasaan yang tidak seharusnya sering dilakukan. Selain membuang-buang waktu juga merupakan perbuatan yang tidak ada gunanya.

Menurut American Psychological Association, istilah klinis untuk proses overthinking adalah rumination. Rumination adalah pola berpikir mengenai suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang; terlalu menghawatirkan masa lalu maupun masa depan; atau sering tidak bisa tidur sepanjang malam untuk memikirkan hal yang sama (Kumar, 2009). Rumination mengakibatkan seseroang menjadi lebih fokus kepada kejadian serta perasaan negatif yang telah dialaminya.

Dengan kata lain overthinking adalah suatu keadaan dimana seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir pada sesuatu, tanpa dibarengi dengan proses penyelesaian atau problem solving secara efektif. Berpikir tidak perlu; berpikir tidak tepat; dan berpikir yang terlalu banyak.

Ada tiga tipe overthinking yaitu orang yang perpeksionis, segala sesuatunya harus sempurna sedetil mungkin, semuanya serba dirancang; kata orang, seseorang yang menuruti pandangan atau komentar orang lain terhadap dirinya secara terus menerus; dan masa depan, seseorang yang lebih sering memikirkan khayalan-khayalan atau prediksi-prediksi tentang kejadian di masa yang akan datang.

Ciri-ciri utama dari overthinking meliputi:

  • Ruminasi: Terus-menerus memikirkan masa lalu, menganalisis ulang peristiwa, percakapan, atau keputusan yang sudah terjadi, seringkali dengan penyesalan atau kekhawatiran tentang "bagaimana jika" atau "seandainya".
  • Kekhawatiran Berlebihan (Worrying): Terlalu fokus pada potensi masalah di masa depan, membayangkan skenario terburuk, dan merasa cemas tentang hal-hal yang belum terjadi atau bahkan mungkin tidak akan terjadi.
  • Analisis Paralisis: Terlalu banyak menganalisis setiap detail dan kemungkinan, yang akhirnya membuat sulit atau bahkan tidak bisa mengambil keputusan atau tindakan.
  • Pikiran Berulang: Pikiran yang sama terus berputar di kepala, sulit dihentikan, meskipun sudah disadari bahwa itu tidak membantu.

Banyak sekali efek atau dampak dari overthinking ini. Dampak yang disebabkan oleh overthinking adalah:

1.   Hidup tidak menyenangkan

Hidup menjadi sumpek karena habis waktu sia-sia, tegang, lelah, dan tidak bisa tidur dengan nyenyak.

2.   Segala aktivitas menjadi tidak maksimal

Mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan hal ini akan memengaruhi kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.

3.   Emosi yang terus naik-turun

Mudah marah, mudah gelisah, insecure, mencari pelampiasan misalnya melalui makanan, postingan, orang lain, juga menjauhi orang lain.

4.   Gangguan kesehatan fisik

Dengan pikiran yang terganggu, maka kondisi fisik pun akan terganggu pula. Demam, pusing, nyeri dada,  jantung bergerak kencang, sesak nafas, hingga tekakanan darah tinggi atau kekurangan darah akan menyerang tubuh.

Melihat dampak serius yang ditimbulkan oleh overthinking, sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai manusia untuk menemukan solusi. Saya yakin kita semua pernah mengalami kondisi overthinking ini, khususnya ketika berada dalam situasi dan permasalahan hidup yang kompleks. Apabila kita kini telah memahami bahwa dampak overthinking dapat mengganggu seluruh tatanan hidup, maka seyogianya kita menggali pengetahuan untuk mengatasi masalah tersebut secara cepat dan tepat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa berpikir secara berlebihan terhadap sesuatu hal merupakan kebiasaan yang tidak seharusnya sering dilakukan. Selain membuang-buang waktu, overthinking juga tidak baik dan dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik seseorang. Dengan demikian, sekarang kita coba terapkan beberapa cara di bawah ini untuk mengurangi kebiasaan overthinking:

1.     Jangan biasakan overthinking

Sadarilah bahwa overthinking itu tidak menguntungkan dari aspek apapun.

2.     Sikapi segala sesuatu secara sederhana dan wajar

Urailah segala sesuatu dalam bagian kecil, selesaikanlah masalah setahap demi setahap, konsentrasilah pada satu hal di satu waktu.

3.     Ambil sudut pandang baru

Ambillah sudut pandang baru yang lebih segar, saat tidak ada lagi jalan keluar bisa diambil dari satu permasalahan.

4.     Berlatihlah mendisiplinkan diri

Jangan mau dikontrol pikiran, kitalah yang mengontrol pikiran, dan jangan mudah terdistraksi oleh apapun atau siapapun.

5.     Bersikap positif dan optimis

Jangan berpikir serba negatif, kita tidak mungkin mengontrol segala hal yang ada di dunia.

6.     Gembira dan bahagia

Lengkapi hidup dengan melakukan apa yang kita cintai dan membuat kita gembira.

7.     Hidup di masa kini

Kita hidup di masa kini. Jangan dibelenggu masa lalu, atau dicemaskan oleh masa depan yang belum tentu akan terjadi.

8.     Bercerita kepada orang lain yang dipercaya

Berbicara kepada terapis, teman, atau siapa saja orang yang dapat dipercaya dapat memberikan kelegaan pada pikiran. Selain itu, kita juga akan mendapat perspektif baru mengenai hal-hal yang menjadi pemikiran kita. 

9.     Menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan

Daripada hanya dibiarkan berputar-putar di dalam kepala, cobalah ungkapkan isi pikiran melalui tulisan. Lewat tulisan, kita tidak perlu bergantung kepada orang lain untuk mendengarkan cerita kita.

10.  Selalu berdoa kepada Tuhan

Selaku umat yang beragama, selayaknya kita harus tetap yakin dan percaya akan pertolongan dari-Nya atas segala masalah yang datang dalam hidup kita. Tidak selamanya semua masalah yang kita pikirkan mempunyai solusi dari dalam diri kita sendiri. Bisa saja solusinya datang dari Tuhan Yang Maha Esa.

Saya akan menuliskan nasihat dari beberapa tokoh tentang overthinking, di antaranya sebagai berikut:”

a.     Nothing can harm you as much as your own thoughts unguarded.” (Buddha).

b.     To think too much is a disease.” (Fydur Dostoyeusky).

c.     Thinking too little about things or thinking too much both make us obstinate and fanatical.”(Blaise pascal).

d.     Take time to deliberate but when the time for action has arrived, stop thinking and go.” (Napoleon Bonaparte).

e.     Don’t wait. The time will never be just right.” (Napoleon Hill).

f.      You don’t have to see whole staircase, just take the first step.” (Martha Luther King Jr).

g.     Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore dream and discover.” (Mark Twain).

Dari penjelasan di atas, kita dapat sedikit demi sedikit mengikis overthinking dari dalam diri. Bagaimanapun kondisi overthinking tersebut, besar maupun kecil, harus kita singkirkan sejauh-jauhnya. Apa pun masalahnya, kita harus tetap hidup dan menjalaninya dengan sempurna serta bijaksana. Tanpa adanya kesadaran dalam diri, kita tidak akan pernah mampu menikmati keindahan hidup di dunia.

Akhir kata, semoga kita dapat menghilangkan overthinking dalam diri, walaupun perlahan namun pasti. Allah SWT akan selalu meridai setiap usaha baik dari makhluk-Nya di muka bumi. Buanglah overthinking, dan mari kedepankan rasa bahagia serta syukur karena kita masih diberikan kehidupan saat ini, di sini, dalam kondisi ini. Lupakanlah masa lalu dan jadikan ia sebagai pelajaran berharga. Tidak perlu memprediksi masa depan, karena belum tentu kita akan sampai pada masa itu. (EAS)”

Minggu, 14 September 2025

RABI'AH AL ADAWIYAH

 

https://www.detik.com/jatim/berita/d-6940319/kisah-rabiah-al-adawiyah

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas salah satu tokoh perempuan sufi yang terkenal dalam agama Islam. Siapakah beliau? Beliau adalah Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi yang sangat dikagumi karena mahabbah ilahiyahnya kepada Allah SWT. Marilah kita ikuti penjelasan selanjutnya.

Rabiah Al-Adawiyah, seorang perempuan yang lahir di tengah kemiskinan namun namanya abadi sebagai teladan zuhud dan cinta Ilahi murni. Kisah hidupnya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cerminan ajaran tentang bagaimana cinta menjadi satu-satunya motivasi dalam beribadah, melampaui segala ketakutan akan neraka atau harapan akan surga.

Dalam buku Khazanah Orang Besar Islam dari Penakluk Jerussalam hingga Angka Nol karya RA Gunadi dan M Shoelhi disebutkan bahwa Rabiah Al dawiyah lahir pada tahun 713 M di Basrah (Irak). Kedua orang tuanya meninggal tatkala ia masih kecil dan ketiga kakaknya  juga meninggal saat wabah kelaparan melanda Basrah.

Rabiah Al Adawiyah berasal dari orang tua yang saleh, walaupun kedua orang tuanya bukan merupakan orang yang kaya. Ketika akan dilahirkan, kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit, sehingga untuk melahirkan pun tidak mempunyai apa-apa. Namun konon katanya, ayah beliau bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan diberikan surat untuk diberikan kepada orang saleh yang kaya raya di kota Basrah, agar dapat memberikan bantuan keuangan  di saat proses kelahiran bayi Rabiah Al Adawiyah. Dan ketika ayahnya bangun dari mimpi, ternyata benar ada surat dalam genggamannya yang harus diberikan kepada orang saleh dan kaya raya.

Singkat waktu surat pemberian dari baginda Rasulullah diberikan kepada orang tersebut. Alangkah terkejutnya, dia menerima teguran langsung terkait bacaan dzikirnya dari baginda Rasulullah yang telah wafat. Kemudian orang saleh itu memberikan sejumlah makanan dan bantuan keuangan kepada ayahnya Rabiah Al Adawiyah. Karena orang saleh itu merasa senang dan bahagia, dapat teguran secara langsung dari baginda Rasulullah melalui mimpi. Sedangkan semua orang tidak mengetahui tentang kebiasaannya membaca dzikir seperti itu. Dalam hatinya berpikir Rasulullah mengetahui dan meridhai semua yang dikerjakannya tersebut.

Ketika Rabiah Al Adawiyah menjadi yatim piatu, ia harus hidup mandiri dan asing serta menjadi budak belian. Sehingga ia harus menderita dalam kehidupannya. Namun ada kisah yang di luar logika, ketika Rabiah Al Adawiyah sedang beribadah di dalam kamarnya, majikannya melihat ada cahaya di kepala Rabiah Al Adawiyah. Oleh sebab itu, Rabiah Al Adawiyah dibebaskan dari perbudakan. Majikannya takut ada hal-hal yang buruk terjadi padanya, kalau tetap menjadikan Rabiah Al Adawiyah sebagai budaknya.

Sebelum menjadi sufi besar, Rabiah Al Adawiyah sering menyendiri dan menyepi di tempat yang kira-kira aman baginya. Dia terus merenungkan dan belajar tentang ketuhanan secara serius dan mendalam. Secara umum, Rabiah Al-Adawiyah tidak memiliki guru spiritual (mursyid) formal dalam perjalanan sufinya seperti yang lazim ditemukan dalam tarekat-tarekat sufi. Ia dikenal sebagai seorang mistikus yang mencapai makam (tingkatan) spiritualnya melalui pengalaman pribadi dan hubungan langsung dengan Tuhan.

Ajaran dan spiritualitasnya lahir dari zuhud (asketisme) yang ekstrem, ibadah yang tak kenal lelah, dan meditasi mendalam. Ia sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk cinta Ilahi, menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan hidup. Hal ini membuat banyak orang pada zamannya, termasuk ulama dan ahli hukum Islam terkemuka seperti Hasan Al-Basri, datang kepadanya untuk meminta nasihat spiritual, bukan sebaliknya.

Jadi, Rabiah Al-Adawiyah lebih dikenal sebagai guru spiritual bagi banyak orang, bukan sebagai murid. Ia adalah salah satu figur perempuan pertama yang meletakkan fondasi penting bagi ajaran cinta Ilahi murni dalam tradisi tasawuf.

Rabiah Al Adawiyah mendefiniskan arti cinta dan hakikat cinta itu sendiri. Apa itu cinta? “Sukar menjelaskan apa hakikat cinta itu, ia hanya memperlihatkan gambaran kerinduan dari satu perasaan. Hanya orang yang merasakannya dapat mengetahui. Bagaimana mungkin engkau dapat menggambarkan sesuatu yang engkau sendiri bagai telah hilang dari hadapan -Nya walaupun wujudnya masih ada. Oleh karena hatimu yang gembira membuat lidahmu bungkam.”

Menurut Rabiah Al-Adawiyah, untuk mencapai mahabbah ada syarat-syarat yang harus diikuti, yang disebut Menjelang Mahabbah, yaitu sebagai berikut:

1.     Taubat dan Ridha kepada Allah SWT

Taubat menurut Rabiah adalah taubat seseorang yang melakukan maksiat adalah berdasarkan kehendak Allah, bukan kehendak manusia itu sendiri. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan membukakan pintu taubat bagi seseorang yang berbuat maksiat.

Mengenai Ridha, diriwayatkan oleh Al-Kalabadzi, suatu ketika Sofyan Saury berkata di depan Rabiah: “Ya Tuhanku, ridhailah diriku ini.” Maka Rabiah berkata: “Tidakkah engkau malu meminta keridhaan dari Tuhan, yang engkau sendiri tidak ridha kepada-Nya.”

2.     Menyerap keindahan dan keagungan-Nya.

Tuhan, semua yang aku dengar di alam raya ini.

Ocehan burung, desiran dedaunan.

Gemercik air di pancuran. Nyanyian burung bersahutan.

Hembusan angin, suara halilintar dan suara kilat yang berkejaran.

Kini kusadari sebagai tanda bukti atas keagungan-Mu.

Dan sebagai saksi abadi, atas keEsaan-Mu.

Juga sebagai kabar bagi manusia.

Bahwa tak satu pun ada yang menandingi-Mu dan menyekutui-Mu.

Saya akan menuliskan beberapa syair dari Rabiah Al-Adawiyah yang beliau tuliskan sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Allah SWT.

a.     Dua Dimensi Cinta

Aku mencintai dengan dua cinta, yaitu cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu.

Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu.

Cinta karena dirimu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau ku lihat.

Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.

Bagimu pujian untuk semua itu. 


b.     Lenyapnya Semua Hijab

Allah menutupi hati makhluk-Nya dengan hijab yang halus.

Para Ulama terhalang karena keluasan ilmunya.

Para Zahid terhijab karena amalnya,

Dan para Hukama tak mampu menembus karena kahalusan hikmahnya.

Orang Arif tak ada yang mengahalanginya.

Hal itu karena mereka menempatkan hati dalam Cahaya Cinta Ilahi.


c.     Allah Saja Fokus Hidupku

Saudara-saudaraku

Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagiaanku

Kekasihku selalu dihadapanku

Tak mungkin aku dapat pengganti-Nya

Cinta-Nya kepada makhluk cobaan bagiku

Dialah tujuan hidupku

Oh, hati yang ikhlas

Oh, tumpuan harapan

Barilah jalan untuk meredam keresahan

Oh, Tuhan sumber bahagia dan kehidupan

Kepada-Mu saja kuserahkan hidup dan keinginan

Kupusatkan seluruh jiwa ragaku

Demi mencari Ridha-Mu.

 

d.     Kerinduan Tiada Henti

Wahai Tuhanku tenggelamkanlah daku dalam mencintai-Mu

Sehingga tidaklah aku tidak lagi membimbangkan-Mu

Ya Rabb,

Bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran

Pintu-pintu istana telah terkunci

Dan tiap pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya

Inilah aku berada di hadirat-Mu

 

e.     Tanpa Pamrih Apapun Selain Dia

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka

Bakarlah aku di dalamnya

Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga

Campakanlah aku darinya

Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata

Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.

Itulah lima syair yang saya kutip. Sebenarnya, masih banyak syair lain yang menggambarkan betapa Rabiah Al-Adawiyah sangat mencintai dan merindukan Tuhan-Nya, bukan yang lainnya. Syair-syair itu tergambar lembut, namun berisi keteguhan hati yang sangat kuat. Beribu makna dapat kita ambil dari setiap baitnya.

Saya bukanlah seorang sufi atau ulama, saya hanya ingin memperlihatkan bahwa dahulu kala ada seorang wanita yang sangat mencintai dan merindukan Allah SWT sedahsyat itu. Ada rasa takut, malu, segan, dan rendah diri dalam jiwa ketika membaca tentang kecintaannya kepada Allah Sang Khaliq. Hati ini pun bertanya, di manakah letak rasa cintaku kepada Tuhan Semesta Alam? Namun, saya yakin seyakin-yakinya bahwa Tuhanku, Allah SWT, mengetahui bahwa dalam hati ini tersimpan rasa cinta kepada-Nya. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai pecinta sesama manusia dan alam seisinya. Aamiin Yaa Rabbal A’laamiin. (EAS).”


FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...