https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm
Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an
activity, not a passive affect; it is a standing in, not a falling for’,
yang artinya: ‘Cinta adalah sebuah aktivitas, bukan sebuah perasaan pasif;
cinta adalah sebuah pendirian, bukan sebuah kejatuhan.’ (Erich Fromm).
Siapakah Erich Fromm?
Erich Pinchas Fromm (23 Maret 1900 – 18 Maret
1980) merupakan seorang psikolog sosial, psikoanalis, sosiolog, humanisme,
sosialis demokrat dan filsuf berkebangsaan Jerman. Dia merupakan ketua asosiasi
pada Sekolah Frankfurt untuk Teori Kritik. Dia dilahirkan di Frankfurt am Main.
Erich Fromm pertama kali belajar pada tahun 1918 di Universitas Goethe
Frankfurt untuk semester dua di Yurisprudensi. Pada musim panas 1919, Fromm
studi di Universitas Heidelberg di fakultas sosiologi.
Setelah kita mengetahui siapa beliau, marilah kita lanjutkan dengan
membahas filsafat cinta menurut Erich Fromm. Pada tulisan ini, saya hanya akan
menekankan pada filsafat cintanya, tanpa membicarakan pandangannya mengenai
teori-teori lain.
Menurutnya, problem cinta itu ada dua yaitu tentang Seni dan
Perasaan Suka. Cinta sebagai Seni memerlukan pengetahuan dan latihan atau
praktik. Sedangkan cinta sebagai perasaan suka adalah keberuntungan dan
pengalaman jatuh cinta.
Banyak orang melihat masalah cinta sebagai problem dicintai dan bukannya problem mencintai. Tidak sedikit orang menganggap masalah cinta sebagai masalah obyek, bukan masalah bakat atau perilaku. Orang berpikir bahwa mencintai itu masalah sederhana, yang sulit ialah mencari objek yang tepat untuk dicintai. Apakah Anda mengerti dengan kalimatnya?
Marilah kita uraikan orientasi cinta manusia pada masa modern ini. Ada
empat orientasi cinta yang harus kita pahami, yaitu sebagai berikut:
1.
Orientasi Reseptif
Sumber kebahagiaan dan pemenuhan keinginannya di luar diri. Fokus
pada apa dan siapa yang dicintai. “Mencintai” orang yang memberi cinta atau apa
saja yang tampak seperti cinta.
2.
Orientasi Eksploitatif
Bentuk ekstrim dari orientasi reseptif, ada unsur pemaksaan dan
manipulasi agar yang dicintai memuaskan keinginannya. Mereka mencintai pada apa
yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingannya. Saat obyek yang dicintai
tidak bisa lagi dieksploitasi, mereka akan “bosan”.
3.
Orientasi Menimbun
Fokus pada kepemilikan. Orang yang merasa aman dan nyaman dalam
memiliki sesuatu, menjaganya, menyimpannya, dan merasa bersalah saat “memanfaatkan”
atau apalagi membuang apa yang dianggap miliknya.
Cinta bagi tipe ini adalah semacam kepemilikan, juga kenangan masa
lalu, dan lain sebagainya. Tipe ini cenderung dingin dan tidak produktif.
4.
Orientasi Pasar
Fokus pada bagaimana menjual dirinya di “pasar”, bagaimana ia
membungkus dirinya, bagaimana membuat orang lain tertarik kepadanya.
Cinta di mata orang ini adalah komoditasi; keuntungan apa yang bisa
diperoleh dari cinta, yang relevan dengan modal (bungkus dan penampilan) yang sudah
dikeluarkan.
Melihat keempat orientasi cinta di atas membuat saya berpikir,
orientasi cinta manakah yang sebenarnya ada dalam diri saya selama ini dan saya
jalani dalam kehidupan sehari-hari? Tentunya, Anda pun mungkin akan berpikir
hal yang sama seperti yang saya pikirkan, bukan?
Cinta sebagai watak. Cinta adalah sikap, satu orientasi watak yang
menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, tidak semata menuju satu ‘obyek
cinta’. Jika seseorang hanya mencintai satu orang saja, dan tidak peduli
terhadap yang lainnya, ini bukanlah cinta namun ‘egoisme yang diperluas’.
Maka cinta yang sebenarnya tidak tergantung obyeknya. Orang yang
mencintai hanya menuggu saat menemukan obyek yang tepat saja. Ibarat orang yang
mau melukis, namun ia tidak mau mempelajari seni lukis, hanya menunggu
menemukan obyek yang bagus dan tepat untuk dilukis. Padahal jika ia ahli
melukis, obyek apapun akan tampak bagus dan indah.
Cinta sebagai jawaban problem eksistensial mansuia. Tanpa kehendaknya
ia lahir, melawan kehendaknya ia mati (meninggal sebelum orang yang dicintai
atau orang yang dicintai meninggal sebelum dia). Cinta ini mempunyai kesadaran
akan kesepian dan keterpisahan. Kesadaran akan ketidakberdayaannya di hadapan
kekuatan alam dan masyarakat.
Menerima otoritas dari luar dan tunduk kepada penguasa serta
menyesuaikan diri dengan masyarakat. Menjadi budak untuk mendapatkan
perlindungan dan rasa aman. Bersatu dengan yang lain dalam semangat cinta dan kerjasama
dalam menciptakan ikatan serta tanggung jawab bersama.
Cinta yang matang. Adalah kekuatan yang aktif dalam diri, mendobrak
sekat antar manusia, namun tetap mengizinkannya menjadi dirinya sendiri. Dengan
kata lain cinta yang matang adalah kesatuan dengan syarat tetap mempertahankan
kebutuhan individualitasnya.
Cinta yang matang berbeda dengan kesatuan simbiotik. Kesatuan simbiotik
adalah melarikan diri dari perasaan yang tak tertahankan karena keterasingan
dan keterpisahan. Menyerahkan diri sepenuhnya menjadi bagian dari pribadi lain
yang memimpinnya/membimbingnya/melindunginya.
Menurut Erich Fromm, terdapat beberapa unsur dasar cinta, yaitu
sebagai berikut:
1.
Care (perhatian)
Yaitu menaruh perhatian yang serius dan mendalam terhadap kehidupan,
perkembangan maju dan mundurnya, baik dan rusaknya obyek yang dicintainya.
2.
Responsibility (tanggung
jawab)
Yaitu bertanggung jawab atas kemajuan, kebahagiaan, dan
kesejahteraan obyek yang dicintainya. Tanggung
jawab di sini bukan berarti melakukan “dominasi” atau “menguasai” obyek yang
dicintai untuk di-dikte sekendaknya. Tetapi lebih berarti turut terlibat dalam
kehidupan obyek yang dicintainya dalam rangka kemajuan dan kesejahteraannya.
3.
Respect (hormat)
Maksudnya menghormati obyek yang dicintai seperti apa adanya,
menerima apa adanya, dan tidak bersikap sekehendak hati terhadap obyek yang
dicintainya.
4.
Knowledge (pengetahuan)
Yaitu memahami seluk beluk obyek yang dicintainya. Apabila obyek
yang dicintainya itu manusia, maka harus dipahami kepribadiannya, latar belakang
yang membentuknya maupun kecenderungannya. Juga harus dipahami, bahwa
kepribadian seseorang itu terus berkembang.
Erich Fromm menegaskan bahwa cinta yang
baik itu adalah cinta yang produktif. Cinta produktif itu menggeser modus “memiliki”
menjadi modus “menjadi”. Mempunyai syarat kemandirian, kebebasan, dan penalaran
yang kritis. Cinta produktif mempunyai ciri dimana keadaan aktif, bukan dalam
arti aktivitas lahiriah, namun dalam arti optimalisasi aktual potensi-potensi kemanusiaan
yang dimiliki. Menjadi aktif berarti memperbarui diri sendiri, tumbuh,
mengatasi penjara ego, penuh semangat untuk memberi.
Cinta produktif akan membentuk diri menjadi
pribadi yang merdeka dalam melakukan segala aktivitas melalui kesadaran akal
budi. Orientasi cinta yang memberi akan melenyapkan perasaan terasing dan
terpisah.
“Love means to commit oneself without
guarantee, to give oneself completely in the hope that our love will produce
love in the loved person. Love is an act of faith, and whoever is of little
faith is also of little love.”
“It takes a moment to tell someone you
love them, but it takes a life time to prove it.”
Dua kutipan dari Erich Fromm di atas menjadi penutup tulisan saya
kali ini. Semoga Tuhan membimbing dan menghantarkan kita semua kepada cinta
yang produktif dan sejati, terutama cinta kepada Tuhan Yang Maha Pecinta.
Jadilah manusia yang memiliki rasa cinta sebagaimana yang diamanahkan dalam
Al-Qur’an dan Al-Hadits. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin. (EAS).