https://www.shutterstock.com/id/search/saddam-hussein
Tokoh kontroversial yang akan saya sajikan adalah tokoh dunia Islam
modern. Siapakah dia? Dialah salah satu presiden Irak, Saddam Hussein,
sang pemimpin diktator. Dalam tulisan ini, saya akan merangkum kisah beliau
mulai dari kelahirannya hingga detik-detik terjadinya eksekusi. Mari kita simak
baik-baik kisahnya.
Saddam Hussein Abdul al-Majid al-Tikriti
lahir pada 28 April 1937 di desa Al-Awja dekat Tikrit, Irak. Ia berasal dari
keluarga miskin petani dari suku Sunni. Masa kecil Saddam diwarnai dengan
berbagai kesulitan dan trauma. Ayah kandungnya meninggal sebelum ia lahir,
sementara kakak laki-lakinya meninggal karena kanker tak lama setelah
kelahirannya. Hal ini membuat ibunya, Subha Tulfah al-Mussallat, mengalami
depresi berat.
Karena kondisi keluarga yang sulit, Saddam
kecil dititipkan kepada pamannya, Khairallah Talfah, hingga usia 3 tahun.
Setelah kembali ke rumah ibunya, Saddam harus menghadapi kekerasan dari ayah
tirinya, Ibrahim al-Hassan. Perlakuan buruk yang dialaminya semasa kecil ini
diyakini turut membentuk kepribadian Saddam yang keras dan kejam di kemudian
hari.
Di usia 10 tahun, Saddam melarikan diri ke
Baghdad untuk tinggal kembali bersama pamannya. Di sana ia mulai mendapatkan
pendidikan formal, meski tetap terlibat dalam berbagai kegiatan kriminal. Pada
usia 16 tahun, Saddam sudah menjadi pemimpin geng jalanan yang selalu membawa
senjata. Ia bahkan pernah dipenjara karena terlibat dalam pembunuhan.
Meski demikian, Saddam tetap melanjutkan
pendidikannya. Ia sempat belajar di sekolah hukum Irak selama 3 tahun sebelum
akhirnya keluar pada 1957. Pengalaman masa mudanya yang keras ini membentuk
Saddam menjadi sosok yang ambisius, licik, dan haus kekuasaan - karakteristik
yang kelak membawanya ke puncak kekuasaan Irak.
Karir politik Saddam Hussein dimulai ketika
ia bergabung dengan Partai Ba'ath pada akhir 1950-an. Partai Ba'ath adalah
partai nasionalis Arab yang mengusung ideologi sosialisme Arab dan
pan-Arabisme. Saddam tertarik dengan visi partai ini untuk menyatukan dunia
Arab di bawah satu pemerintahan.
Pada 1959, Saddam terlibat dalam upaya
pembunuhan terhadap Perdana Menteri Irak saat itu, Abdul Karim Qasim. Upaya ini
gagal dan Saddam terpaksa melarikan diri ke Suriah, lalu ke Mesir. Selama di
pengasingan, ia tetap aktif dalam kegiatan politik dan menyelesaikan pendidikan
sekolah menengahnya.
Saddam kembali ke Irak pada 1963 setelah
Partai Ba'ath berhasil menggulingkan pemerintahan Qasim. Namun partai ini hanya
berkuasa selama 9 bulan sebelum digulingkan kembali. Saddam kemudian ditangkap
dan dipenjara hingga 1966. Pengalaman ini semakin menguatkan tekadnya untuk
meraih kekuasaan. Setelah bebas dari penjara pada tahun 1967, Saddam
melanjutkan pendidikannya dan lulus dari sekolah hukum Irak.
Titik balik karir politik Saddam terjadi
pada 1968, ketika Partai Ba'ath kembali berhasil merebut kekuasaan melalui
kudeta tak berdarah. Meski bukan tokoh utama kudeta, Saddam berperan penting di
balik layar. Ia diangkat menjadi wakil ketua Dewan Komando Revolusioner, badan
tertinggi pemerintahan baru Irak.
Perolehan kekuasaan di Irak terkait erat
dengan perkembangan Partai Ba’ath yang dibentuk pada tahun 1947. Partai ini
bergerak untuk mencapai penyatuan wilayah Arab dan memperkuat nasionalisme
Arab. Pada tahun 1979, partai Ba’ath berhasil mengambil alih kekuasaan di Irak
dengan Saddam Husesein sebagai pemimpinnya.
Selama satu dekade berikutnya, Saddam
secara sistematis memperkuat posisinya dalam pemerintahan. Ia membangun
jaringan intelijen dan keamanan yang loyal kepadanya, serta menyingkirkan
lawan-lawan politiknya. Pada Juli 1979, Saddam akhirnya berhasil memaksa
Presiden Ahmed Hassan al-Bakr untuk mundur dan mengambil alih jabatan presiden.
Dengan demikian, perolehan kekuasaan di Irak terkait dengan perkembangan Partai
Ba'ath, pengambilalihan kekuasaan oleh Saddam Hussein, pembersihan oposisi, peningkatan infrastruktur dan industri,
serta penasionalisasi industri minyak. Semua aspek ini telah berdampak besar terhadap
sejarah dan perkembangan politik Irak.
Setelah resmi menjadi presiden Irak pada
1979, Saddam Hussein menerapkan berbagai kebijakan kontroversial untuk
mengukuhkan kekuasaannya. Beberapa kebijakan utamanya antara lain:
- Membangun kultus individu - Saddam mempromosikan dirinya sebagai
pemimpin yang kuat dan bijaksana. Potret dan patungnya dipajang di seluruh
negeri.
- Menindas oposisi - Kelompok-kelompok yang dianggap mengancam
kekuasaannya, terutama kaum Syiah dan Kurdi, ditindas dengan kejam.
- Mengontrol media dan pendidikan - Pemerintah mengendalikan penuh
arus informasi dan kurikulum pendidikan untuk indoktrinasi rakyat.
- Membangun jaringan intelijen - Saddam memiliki jaringan mata-mata
yang luas untuk mengawasi rakyatnya.
- Nepotisme - Ia menempatkan anggota keluarga dan sukunya di
posisi-posisi penting pemerintahan.
Di sisi lain, Saddam juga menerapkan beberapa kebijakan yang
menguntungkan rakyat Irak:
- Modernisasi infrastruktur - Membangun jalan, jembatan, rumah sakit,
dan fasilitas publik lainnya.
- Reformasi pendidikan - Meningkatkan akses pendidikan dan
memberantas buta huruf.
- Emansipasi wanita - Memberikan hak-hak yang lebih luas bagi
perempuan Irak.
- Industrialisasi - Mengembangkan industri minyak dan manufaktur
Irak.
Kebijakan-kebijakan ini membuat Irak
menjadi salah satu negara Arab paling maju di era 1970-80an. Namun kemajuan ini
dibayar mahal dengan hilangnya kebebasan sipil dan pelanggaran HAM yang masif.
Di antaranya menimbulkan beberapa tragedi yang menjadi sorotan dunia
internasional yaitu:
a.
Kebijakan Luar Negeri dan Konflik
Internasional
Kebijakan luar negeri Saddam Hussein
ditandai dengan ambisi untuk menjadikan Irak sebagai kekuatan dominan di
kawasan Timur Tengah. Hal ini memicu berbagai konflik dengan negara-negara
tetangga dan Barat, terutama Amerika Serikat.
b.
Perang Iran-Irak (1980-1988)
Pada September 1980, Saddam menginvasi Iran dengan dalih merebut kembali wilayah yang dipersengketakan. Perang ini berlangsung selama 8 tahun dan menelan korban jiwa hingga 1 juta orang. Meski berakhir tanpa pemenang yang jelas, perang ini menguras sumber daya Irak dan memaksa Saddam untuk berhutang besar-besaran.
c.
Invasi Kuwait (1990)
Untuk mengatasi krisis ekonomi pasca Perang
Iran-Irak, Saddam memutuskan menginvasi Kuwait pada Agustus 1990. Ia menuduh
Kuwait melakukan "pencurian minyak" dari ladang minyak perbatasan.
Invasi ini memicu reaksi keras dunia internasional.
d.
Perang Teluk I (1991)
Invasi Kuwait memicu intervensi koalisi
internasional pimpinan AS. Dalam operasi "Badai Gurun", pasukan
koalisi berhasil mengusir Irak dari Kuwait hanya dalam waktu 100 jam. Kekalahan
ini memaksa Saddam untuk menerima gencatan senjata dan sanksi PBB.
e.
Era Sanksi (1991-2003)
Pasca Perang Teluk I, Irak dikenai sanksi
ekonomi yang ketat oleh PBB. Saddam diwajibkan menghancurkan persenjataan
pemusnah massalnya di bawah pengawasan internasional. Meski demikian, Saddam
tetap bersikap menantang dan sering menghalangi kerja tim inspeksi PBB.
f.
Invasi Irak (2003)
Puncak konfrontasi Saddam dengan Barat
terjadi pada 2003, ketika AS dan sekutunya menginvasi Irak. Dengan dalih bahwa
Irak masih menyimpan senjata pemusnah massal dan mendukung terorisme, koalisi
pimpinan AS menggulingkan rezim Saddam hanya dalam waktu 3 minggu.
Invasi Irak yang dimulai pada 20 Maret 2003
menandai awal dari kejatuhan rezim Saddam Hussein. Dalam waktu singkat, pasukan
koalisi pimpinan AS berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak. Pada 9
April 2003, patung Saddam di pusat Baghdad dihancurkan, menandai berakhirnya
era kekuasaannya.
Saddam sendiri berhasil melarikan diri dan
bersembunyi selama beberapa bulan. Namun pada 13 Desember 2003, ia akhirnya
tertangkap oleh pasukan AS di sebuah lubang persembunyian dekat kampung
halamannya di Tikrit. Penangkapan ini disiarkan ke seluruh dunia, menunjukkan
betapa jauhnya kejatuhan sang diktator yang dulu begitu berkuasa.
Di dalam persidangan tersebut, Saddam Hussein didakwa dengan
beberapa kasus, di antaranya melakukan pelanggaran HAM karena telah membunuh
148.000 warga Syiah di kota Dujail pada tahun 1982. Selain itu, Amerika Serikat
(AS) menuduh Saddam Hussein memiliki senjata kimia pemusnah massal, serta
menuduh rezim Saddam memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.
Pada 5 November 2006, Saddam Hussein dinyatakan bersalah dan
dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Irak di bawah pemerintahan Perdana
Menteri Nuri al-Maliki. Eksekusi hukuman mati dilaksanakan pada 30 Desember
2006 dengan cara digantung di sebuah fasilitas militer dekat Baghdad. Yang
menarik perhatian dunia adalah proses eksekusi tersebut sempat direkam dan
disebarkan melalui media televisi maupun ponsel. Peristiwa ini menorehkan luka
mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan rakyat Irak, tetapi juga bagi dunia
internasional.
Sebelum dieksekusi, Saddam Hussein diberi kesempatan oleh petugas
untuk mengajukan permintaan terakhir. Ia pun meminta Al-Qur’an, namun entah
mengapa permintaan itu ditolak. Kemudian ia meminta mantel yang biasa
dikenakannya, dengan alasan cuaca yang sangat dingin dan ia tidak ingin memakai
penutup kepala. Akhirnya, Saddam Hussein menjalani detik-detik penggantungannya
dengan kepala terbuka, seraya mengucapkan “Allahu Akbar” dan “Laa ilaaha
illallah” berulang kali, hingga akhirnya menutup hidupnya dengan dua kalimat
syahadat.
Saddam Hussein meninggalkan warisan yang
sangat luar biasa yang menjadi topik perdebatan hingga kini. Bagi sebagian
orang, ia dianggap sebagai tiran kejam yang menindas rakyatnya. Namun bagi yang
lain, Saddam dipandang sebagai pemimpin kuat yang berhasil memajukan dan
mempersatukan Irak. Terlepas dari penilaian terhadapnya, tidak dapat dipungkiri
bahwa Saddam Hussein adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah
modern Timur Tengah. Kebijakannya, baik domestik maupun internasional, telah
membentuk lanskap politik kawasan hingga saat ini.
Beberapa warisan positif yang ditinggalkan
oleh Saddam Hussein bagi negara dan rakyatnya Adalah sebagai berikut:
1. Moderinsasi Irak- Di bawah pimpinan Saddam
Hussein, Irak mengalamai kemajuan pesat dalam hal infrastruktur, Pendidikan,
dan eksehatan.
2. Sekularisasi – Saddam Hussein mempromosikan
nilai-nilai sekuler dan membatasi pengaruh agama dalam politik.
3. Emansipasi Wanita- Perempuan Irak mendapat
hak-hak yang lebih luas dalam segala sektor kehidupan dan politik.
4. Stabilitas – Meski dengan cara reprseif,
Saddam Hussein berhasil menjaga stabilitas di negara yang multi-etnis.
Kisah Saddam Hussein mengingatkan kita akan
bahaya kekuasaan yang tak terbatas dan pentingnya check and balance
dalam sistem pemerintahan. Ia juga menjadi pelajaran tentang kompleksitas
politik internasional, di mana sekutu di masa lalu bisa berubah menjadi musuh
di kemudian hari.
Akhirnya, dari tulisan ini saya kutip kata-kata beliau menjelang
ajalnya tiba. Selain ucapan “Allahu Akbar” dan “Laa ilaaha illallah”, ada pula
kalimat lain yang begitu menggetarkan jiwa: “Hidup bangsa ini, hidup
rakyat, hidup Palestina, dan hidup jihad.”
Selamat jalan, wahai pemimpin. Aku yakin engkau berada di jalan kebenaran,
bahkan tanah kubur pun tak mampu menyentuhmu. Surga adalah istanamu. Aamiin Yaa
Rabbal A’laamiin. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar