Minggu, 07 September 2025

SADDAM HUSSEIN

 

https://www.shutterstock.com/id/search/saddam-hussein

Tokoh kontroversial yang akan saya sajikan adalah tokoh dunia Islam modern. Siapakah dia? Dialah salah satu presiden Irak, Saddam Hussein, sang pemimpin diktator. Dalam tulisan ini, saya akan merangkum kisah beliau mulai dari kelahirannya hingga detik-detik terjadinya eksekusi. Mari kita simak baik-baik kisahnya.

Saddam Hussein Abdul al-Majid al-Tikriti lahir pada 28 April 1937 di desa Al-Awja dekat Tikrit, Irak. Ia berasal dari keluarga miskin petani dari suku Sunni. Masa kecil Saddam diwarnai dengan berbagai kesulitan dan trauma. Ayah kandungnya meninggal sebelum ia lahir, sementara kakak laki-lakinya meninggal karena kanker tak lama setelah kelahirannya. Hal ini membuat ibunya, Subha Tulfah al-Mussallat, mengalami depresi berat.

Karena kondisi keluarga yang sulit, Saddam kecil dititipkan kepada pamannya, Khairallah Talfah, hingga usia 3 tahun. Setelah kembali ke rumah ibunya, Saddam harus menghadapi kekerasan dari ayah tirinya, Ibrahim al-Hassan. Perlakuan buruk yang dialaminya semasa kecil ini diyakini turut membentuk kepribadian Saddam yang keras dan kejam di kemudian hari.

Di usia 10 tahun, Saddam melarikan diri ke Baghdad untuk tinggal kembali bersama pamannya. Di sana ia mulai mendapatkan pendidikan formal, meski tetap terlibat dalam berbagai kegiatan kriminal. Pada usia 16 tahun, Saddam sudah menjadi pemimpin geng jalanan yang selalu membawa senjata. Ia bahkan pernah dipenjara karena terlibat dalam pembunuhan.

Meski demikian, Saddam tetap melanjutkan pendidikannya. Ia sempat belajar di sekolah hukum Irak selama 3 tahun sebelum akhirnya keluar pada 1957. Pengalaman masa mudanya yang keras ini membentuk Saddam menjadi sosok yang ambisius, licik, dan haus kekuasaan - karakteristik yang kelak membawanya ke puncak kekuasaan Irak.

Karir politik Saddam Hussein dimulai ketika ia bergabung dengan Partai Ba'ath pada akhir 1950-an. Partai Ba'ath adalah partai nasionalis Arab yang mengusung ideologi sosialisme Arab dan pan-Arabisme. Saddam tertarik dengan visi partai ini untuk menyatukan dunia Arab di bawah satu pemerintahan.

Pada 1959, Saddam terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Irak saat itu, Abdul Karim Qasim. Upaya ini gagal dan Saddam terpaksa melarikan diri ke Suriah, lalu ke Mesir. Selama di pengasingan, ia tetap aktif dalam kegiatan politik dan menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya.

Saddam kembali ke Irak pada 1963 setelah Partai Ba'ath berhasil menggulingkan pemerintahan Qasim. Namun partai ini hanya berkuasa selama 9 bulan sebelum digulingkan kembali. Saddam kemudian ditangkap dan dipenjara hingga 1966. Pengalaman ini semakin menguatkan tekadnya untuk meraih kekuasaan. Setelah bebas dari penjara pada tahun 1967, Saddam melanjutkan pendidikannya dan lulus dari sekolah hukum Irak.

Titik balik karir politik Saddam terjadi pada 1968, ketika Partai Ba'ath kembali berhasil merebut kekuasaan melalui kudeta tak berdarah. Meski bukan tokoh utama kudeta, Saddam berperan penting di balik layar. Ia diangkat menjadi wakil ketua Dewan Komando Revolusioner, badan tertinggi pemerintahan baru Irak.

Perolehan kekuasaan di Irak terkait erat dengan perkembangan Partai Ba’ath yang dibentuk pada tahun 1947. Partai ini bergerak untuk mencapai penyatuan wilayah Arab dan memperkuat nasionalisme Arab. Pada tahun 1979, partai Ba’ath berhasil mengambil alih kekuasaan di Irak dengan Saddam Husesein sebagai pemimpinnya.

Selama satu dekade berikutnya, Saddam secara sistematis memperkuat posisinya dalam pemerintahan. Ia membangun jaringan intelijen dan keamanan yang loyal kepadanya, serta menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Pada Juli 1979, Saddam akhirnya berhasil memaksa Presiden Ahmed Hassan al-Bakr untuk mundur dan mengambil alih jabatan presiden. Dengan demikian, perolehan kekuasaan di Irak terkait dengan perkembangan Partai Ba'ath, pengambilalihan kekuasaan oleh Saddam Hussein, pembersihan oposisi, peningkatan infrastruktur dan industri, serta penasionalisasi industri minyak. Semua aspek ini telah berdampak besar terhadap sejarah dan perkembangan politik Irak.

Setelah resmi menjadi presiden Irak pada 1979, Saddam Hussein menerapkan berbagai kebijakan kontroversial untuk mengukuhkan kekuasaannya. Beberapa kebijakan utamanya antara lain:

  • Membangun kultus individu - Saddam mempromosikan dirinya sebagai pemimpin yang kuat dan bijaksana. Potret dan patungnya dipajang di seluruh negeri.
  • Menindas oposisi - Kelompok-kelompok yang dianggap mengancam kekuasaannya, terutama kaum Syiah dan Kurdi, ditindas dengan kejam.
  • Mengontrol media dan pendidikan - Pemerintah mengendalikan penuh arus informasi dan kurikulum pendidikan untuk indoktrinasi rakyat.
  • Membangun jaringan intelijen - Saddam memiliki jaringan mata-mata yang luas untuk mengawasi rakyatnya.
  • Nepotisme - Ia menempatkan anggota keluarga dan sukunya di posisi-posisi penting pemerintahan.

Di sisi lain, Saddam juga menerapkan beberapa kebijakan yang menguntungkan rakyat Irak:

  • Modernisasi infrastruktur - Membangun jalan, jembatan, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya.
  • Reformasi pendidikan - Meningkatkan akses pendidikan dan memberantas buta huruf.
  • Emansipasi wanita - Memberikan hak-hak yang lebih luas bagi perempuan Irak.
  • Industrialisasi - Mengembangkan industri minyak dan manufaktur Irak.

Kebijakan-kebijakan ini membuat Irak menjadi salah satu negara Arab paling maju di era 1970-80an. Namun kemajuan ini dibayar mahal dengan hilangnya kebebasan sipil dan pelanggaran HAM yang masif. Di antaranya menimbulkan beberapa tragedi yang menjadi sorotan dunia internasional yaitu:

a.     Kebijakan Luar Negeri dan Konflik Internasional

Kebijakan luar negeri Saddam Hussein ditandai dengan ambisi untuk menjadikan Irak sebagai kekuatan dominan di kawasan Timur Tengah. Hal ini memicu berbagai konflik dengan negara-negara tetangga dan Barat, terutama Amerika Serikat. 

b.     Perang Iran-Irak (1980-1988)

Pada September 1980, Saddam menginvasi Iran dengan dalih merebut kembali wilayah yang dipersengketakan. Perang ini berlangsung selama 8 tahun dan menelan korban jiwa hingga 1 juta orang. Meski berakhir tanpa pemenang yang jelas, perang ini menguras sumber daya Irak dan memaksa Saddam untuk berhutang besar-besaran.

c.     Invasi Kuwait (1990)

Untuk mengatasi krisis ekonomi pasca Perang Iran-Irak, Saddam memutuskan menginvasi Kuwait pada Agustus 1990. Ia menuduh Kuwait melakukan "pencurian minyak" dari ladang minyak perbatasan. Invasi ini memicu reaksi keras dunia internasional.

d.     Perang Teluk I (1991)

Invasi Kuwait memicu intervensi koalisi internasional pimpinan AS. Dalam operasi "Badai Gurun", pasukan koalisi berhasil mengusir Irak dari Kuwait hanya dalam waktu 100 jam. Kekalahan ini memaksa Saddam untuk menerima gencatan senjata dan sanksi PBB.

e.     Era Sanksi (1991-2003)

Pasca Perang Teluk I, Irak dikenai sanksi ekonomi yang ketat oleh PBB. Saddam diwajibkan menghancurkan persenjataan pemusnah massalnya di bawah pengawasan internasional. Meski demikian, Saddam tetap bersikap menantang dan sering menghalangi kerja tim inspeksi PBB.

f.      Invasi Irak (2003)

Puncak konfrontasi Saddam dengan Barat terjadi pada 2003, ketika AS dan sekutunya menginvasi Irak. Dengan dalih bahwa Irak masih menyimpan senjata pemusnah massal dan mendukung terorisme, koalisi pimpinan AS menggulingkan rezim Saddam hanya dalam waktu 3 minggu.

Invasi Irak yang dimulai pada 20 Maret 2003 menandai awal dari kejatuhan rezim Saddam Hussein. Dalam waktu singkat, pasukan koalisi pimpinan AS berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak. Pada 9 April 2003, patung Saddam di pusat Baghdad dihancurkan, menandai berakhirnya era kekuasaannya.

Saddam sendiri berhasil melarikan diri dan bersembunyi selama beberapa bulan. Namun pada 13 Desember 2003, ia akhirnya tertangkap oleh pasukan AS di sebuah lubang persembunyian dekat kampung halamannya di Tikrit. Penangkapan ini disiarkan ke seluruh dunia, menunjukkan betapa jauhnya kejatuhan sang diktator yang dulu begitu berkuasa.

Di dalam persidangan tersebut, Saddam Hussein didakwa dengan beberapa kasus, di antaranya melakukan pelanggaran HAM karena telah membunuh 148.000 warga Syiah di kota Dujail pada tahun 1982. Selain itu, Amerika Serikat (AS) menuduh Saddam Hussein memiliki senjata kimia pemusnah massal, serta menuduh rezim Saddam memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.

Pada 5 November 2006, Saddam Hussein dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Irak di bawah pemerintahan Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Eksekusi hukuman mati dilaksanakan pada 30 Desember 2006 dengan cara digantung di sebuah fasilitas militer dekat Baghdad. Yang menarik perhatian dunia adalah proses eksekusi tersebut sempat direkam dan disebarkan melalui media televisi maupun ponsel. Peristiwa ini menorehkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan rakyat Irak, tetapi juga bagi dunia internasional.

Sebelum dieksekusi, Saddam Hussein diberi kesempatan oleh petugas untuk mengajukan permintaan terakhir. Ia pun meminta Al-Qur’an, namun entah mengapa permintaan itu ditolak. Kemudian ia meminta mantel yang biasa dikenakannya, dengan alasan cuaca yang sangat dingin dan ia tidak ingin memakai penutup kepala. Akhirnya, Saddam Hussein menjalani detik-detik penggantungannya dengan kepala terbuka, seraya mengucapkan “Allahu Akbar” dan “Laa ilaaha illallah” berulang kali, hingga akhirnya menutup hidupnya dengan dua kalimat syahadat.

Saddam Hussein meninggalkan warisan yang sangat luar biasa yang menjadi topik perdebatan hingga kini. Bagi sebagian orang, ia dianggap sebagai tiran kejam yang menindas rakyatnya. Namun bagi yang lain, Saddam dipandang sebagai pemimpin kuat yang berhasil memajukan dan mempersatukan Irak. Terlepas dari penilaian terhadapnya, tidak dapat dipungkiri bahwa Saddam Hussein adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Timur Tengah. Kebijakannya, baik domestik maupun internasional, telah membentuk lanskap politik kawasan hingga saat ini.

Beberapa warisan positif yang ditinggalkan oleh Saddam Hussein bagi negara dan rakyatnya Adalah sebagai berikut:

1.   Moderinsasi Irak- Di bawah pimpinan Saddam Hussein, Irak mengalamai kemajuan pesat dalam hal infrastruktur, Pendidikan, dan eksehatan.

2.   Sekularisasi – Saddam Hussein mempromosikan nilai-nilai sekuler dan membatasi pengaruh agama dalam politik.

3.   Emansipasi Wanita- Perempuan Irak mendapat hak-hak yang lebih luas dalam segala sektor kehidupan dan politik.

4.   Stabilitas – Meski dengan cara reprseif, Saddam Hussein berhasil menjaga stabilitas di negara yang multi-etnis.

Kisah Saddam Hussein mengingatkan kita akan bahaya kekuasaan yang tak terbatas dan pentingnya check and balance dalam sistem pemerintahan. Ia juga menjadi pelajaran tentang kompleksitas politik internasional, di mana sekutu di masa lalu bisa berubah menjadi musuh di kemudian hari.

Akhirnya, dari tulisan ini saya kutip kata-kata beliau menjelang ajalnya tiba. Selain ucapan “Allahu Akbar” dan “Laa ilaaha illallah”, ada pula kalimat lain yang begitu menggetarkan jiwa: “Hidup bangsa ini, hidup rakyat, hidup Palestina, dan hidup jihad.”
Selamat jalan, wahai pemimpin. Aku yakin engkau berada di jalan kebenaran, bahkan tanah kubur pun tak mampu menyentuhmu. Surga adalah istanamu. Aamiin Yaa Rabbal A’laamiin. (EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...