https://www.lazada.co.id/tag/gambar-soekarno-pidato-berwarna
Kali ini saya akan menuliskan tentang sosok yang tidak asing lagi
bagi kita sebagai rakyat Indonesia. Ya, beliau adalah Ir. Soekarno, sang
proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Saya akan mengutip
beberapa tulisan Ir. Soekarno yang pernah beliau tuliskan semasa hidupnya.
Beliau memiliki kharisma yang luar biasa, sehingga tidak heran banyak orang
dari dalam maupun luar negeri sangat segan dan menghormati keberadaannya.
Beliau gagah berani, cerdas, seorang poliglot, penulis, ahli beretorika,
sehingga dijuluki sebagai orator ulung. Sungguh membuat saya semakin mengagumi
Ir. Soekarno.
Tulisan Ir. Soekarno yang akan saya kutip kali ini berisi beberapa
pemikirannya terkait agama Islam. Silakan Anda memahami secara mendalam apa
yang sebenarnya ada dalam pikiran serta prinsip hidup yang beliau yakini dalam
segi agama Islam. Walaupun tulisan beliau yang saya tuliskan kembali ini tidak
sepenuhnya lengkap, setidaknya kita dapat mencoba memahaminya sesuai dengan
persepsi dan latar belakang keilmuan masing-masing pembaca.
Mari kita mulai menguraikan beberapa tulisan dari Ir. Soekarno
yang, menurut saya, masih relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Berikut
beberapa kutipan pemikiran beliau:
1.
Pidato Ir. Soekarno di hadapan Muktamar ke-32 Muhammdiyah di Glora
Sukarno, Jakarta, 25 November 1962.
“Ibu adalah meskipun beragama Islam daripada lain, orang Bali. Bapak meskipun beragama Islam beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama Teosofi. Jadi kedua orang tua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”
“Aku tak pernah mendapatkan didikan agama yang teratur karena bapak
tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri Islam pada usia 15 tahun, ketika aku
mengikuti keluarga Pak Tjokro. Masuk satu organisasi agama dan sosial bernama
Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami, di gang
Paneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang
berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya
jawab. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian.”
“Ketika aku dipenjara, aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar. Di dalam penjaralah aku mendapatkan pelajaran agama dan menjadi penganut Islam sesungguhnya.”
2.
Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat 1966
“Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam
kepercayaan. Aku beranjak berpikir dan berbicara dengan Tuhan. Sekalipun di
negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak
disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam."
"Pada waktu aku melangkah ragu memulai permulaan jalan menuju kepada kepercayaan. Aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku, maka kemerdekaan seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama.”
3.
Pidato di Sidang BPUPKI, 1 Juni 1945
“Bukan saja bangsa Indonesia Bertuhan, tetapi masing-masing orang
Indonesia hendaknya Berketuhanan. Tuhannya sendiri, yang Kristen menyembah
Tuhan menurut petunjuk Isa Al-Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi
Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada
padanya."
"Tetapi marilah kita semua bertuhan. Hendaklah negara Indonesia
ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan leluasa.”
“Segenap rakyat bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme-agama. Dan hendaknya negara Indonesia satu negara yang bertuhan. Marilah kita amalkan jalannya agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.”
4.
Soekarno dalam surat Ende 1936
“Taklid adalah satu sebab terbesar dari kemunduran Islam sekarang
ini. Semenjak ada aturan Taklid, di situlah kemunduran Islam cepat sekali. Tak
heran! Dimana genius dirantai, Dimana akal pikiran diterungku, di situlah
datang kematian.”
“…Saya sendiri sebagai seorang terpelajar, barulah mendapat lebih
banyak penghargaan kepada Islam sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam
modern scientifik. Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang
Islam? Sebagian besar ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, karena
salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam: mereka kolot, mereka orthodox,
mereka anti-pengetahuan dan memang tidak berpengetahuan, takhayul, jumud,
menyuruh orang bertaklid saja, menyuruh orang percaya saja mesum mbahnya
mesum.”
“Bagi saya anti-taklidisme itu berarti bukan saja kembali kepada Quran dan Hadits, tetapi kembali kepada Quran dan Hadits dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum.”
5.
Islam Sontoloyo dalam Pandji Islam 1940
“Islam melarang kita memakan Babi. Islam juga melarang kita
menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, dan
menyekutukan Tuhan Yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa
terberat, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba Tuan menghina si
miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik di dalam Tuan
punya pikiran dan perbuatan. Maka tidak banyak orang yang menunjuk kepada Tuan
dengan jari seraya berkata: Tuan menyalahi Islam."
"Tetapi coba Tuan makan Babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan
seluruh dunia akan mengatakan Tuan orang kafir."
"Inilah gambaran jiwa Islam sekarang ini, terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi.”
6.
Sukarno, “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara”
“Kita tidak ingat, bahwa masyarakat ini adalah barang yang tidak
diam, tidak tetap, tidak “mati”,- tetapi hidup mengalir berobah senantiasa,
maju, dinamis, berevolusi. Kita tidak ingat, bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri
telah menjadikan urusan dunia, menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan
dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau
makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “Kafir”. Kita gemar sekali mencap
segala barang baru dengan cap “Kafir”. Pengetahuan Barat-kafir; radio dan
kedokteran-kafir; sendok dan garpu dan kursi – kafir; tulisan latin-kafir; yang
bergaulan dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun -kafir."
"Padahal apa yang kita namakan Islam? Bukan roh Islam yang
berkobar-kobar, bukan amal Islam yang mengagumkan tetapi…..dupa dan karma dan
jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau
kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggenggam
tasbih selalu berputar,-dialah yang kita namakan Islam."
"Astgafirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang
mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik,
mengkafirkan kemoderenan dan ke-uptodate-an? Yang mau tinggal mesum sahaja,
tinggal kuno sahaja, tinggal terbelakang sahaja, tinggal “naik onta” dan “makan
zonder sendok” sahaja, seperti di zaman Nabi-nabi. Islam is progress,-
Islam itu kemajuan.”
7.
Salat Iedul Fitri 1383 H/1964 M, di Mesjid baiturrahman, Istana
Merdeka, Jakarta.
“Tanah air ini, saudara-saudara diancam bahaya. Tuhan perintahkan kepada kita, Hai buatlah tanah airmu ini terhindar dari bahaya. Tanah air ini adalah satu amanah Tuhan dan diancam tanah air ini oleh bahaya. Kewajiban kita untuk menyelamatkannya dari bahaya.”
Itulah tujuh sumber tulisan Ir. Soekarno mengenai pandangannya terhadap agama Islam. Saya kira, seluruh tulisannya sarat dengan konsep dan makna yang mendalam. Ada satu kutipan dari beliau yang begitu menyentuh, yaitu: “Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.” (Bung Karno, 1933).
Saya ucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
menganugerahkan sosok Presiden pertama RI yang begitu luar biasa, baik dalam
pandangan Islam maupun dalam sikap kepahlawanannya. Terlepas dari
semua jasa-jasa beliau kepada bangsa dan negara, ada hal yang membuat hati ini
sedih dan pilu, yaitu sisa hidup beliau yang berakhir tragis di tahanan
pemerintah Indonesia. Negeri yang beliau proklamasikan, justru menjadi negeri
yang menahan beliau hingga akhir hayatnya. Semoga Allah SWT menempatkan beliau
di tempat yang indah di sisi-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar