https://id.pngtree.com/so/overthinking
Kali ini saya akan menulis tentang tema overthinking. Topik
ini selalu menjadi bahan pembicaraan hangat, baik di kalangan remaja maupun
orang dewasa, karena banyak yang sering merasakan dampaknya. Sebenarnya, apa
itu overthinking? Marilah kita uraikan bersama mengenai definisi,
ciri-ciri, dampak, serta cara untuk mengatasinya.”
Overthinking adalah kondisi
mental di mana seseorang menggunakan terlalu banyak waktu dan energi untuk
memikirkan suatu hal secara berlebihan, berulang, dan seringkali negatif, yang
dapat menghambat penyelesaian masalah dan mengganggu kesejahteraan
mental. Tipe overthinking ada dua: ruminasi, yaitu memikirkan masa
lalu secara terus-menerus, dan khawatir, yaitu memikirkan prediksi negatif
tentang masa depan.
Overthinking dapat menghabiskan energi mental,
menyebabkan stres, kecemasan, gangguan tidur, dan bahkan depresi. Ini berbeda
dengan berpikir kritis atau memecahkan masalah secara efektif, karena
overthinking cenderung tidak menghasilkan solusi atau kemajuan, melainkan
justru memperburuk perasaan negatif dan menghambat tindakan.
Menurut Nareza (2020), proses overthinking biasanya
disebabkan oleh adanya perasaan resah akan suatu hal, trauma yang belum
selesai, sedang menghadapi masalah besar, bahkan masalah yang awalnya sederhana
bisa menjadi besar jika selalu dipikirkan secara berlebihan. Alih-alih mencari
jalan keluar, overthinking mungkin saja dapat menimbulkan masalah
lainnya. Berpikir secara berlebihan terhadap sesuatu hal merupakan kebiasaan
yang tidak seharusnya sering dilakukan. Selain membuang-buang waktu juga merupakan perbuatan yang tidak ada gunanya.
Menurut American Psychological Association, istilah klinis
untuk proses overthinking adalah rumination. Rumination adalah
pola berpikir mengenai suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang; terlalu
menghawatirkan masa lalu maupun masa depan; atau sering tidak bisa tidur
sepanjang malam untuk memikirkan hal yang sama (Kumar, 2009). Rumination
mengakibatkan seseroang menjadi lebih fokus kepada kejadian serta perasaan
negatif yang telah dialaminya.
Dengan kata lain overthinking adalah suatu keadaan dimana
seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir pada sesuatu, tanpa
dibarengi dengan proses penyelesaian atau problem solving secara
efektif. Berpikir tidak perlu; berpikir tidak tepat; dan berpikir yang terlalu
banyak.
Ada tiga tipe overthinking yaitu orang yang perpeksionis,
segala sesuatunya harus sempurna sedetil mungkin, semuanya serba dirancang; kata
orang, seseorang yang menuruti pandangan atau komentar orang lain terhadap dirinya
secara terus menerus; dan masa depan, seseorang yang lebih sering memikirkan
khayalan-khayalan atau prediksi-prediksi tentang kejadian di masa yang akan
datang.
Ciri-ciri utama dari overthinking meliputi:
- Ruminasi: Terus-menerus memikirkan masa lalu, menganalisis ulang peristiwa,
percakapan, atau keputusan yang sudah terjadi, seringkali dengan
penyesalan atau kekhawatiran tentang "bagaimana jika" atau
"seandainya".
- Kekhawatiran Berlebihan (Worrying): Terlalu fokus
pada potensi masalah di masa depan, membayangkan skenario terburuk, dan
merasa cemas tentang hal-hal yang belum terjadi atau bahkan mungkin tidak
akan terjadi.
- Analisis Paralisis: Terlalu banyak menganalisis setiap detail dan
kemungkinan, yang akhirnya membuat sulit atau bahkan tidak bisa mengambil
keputusan atau tindakan.
- Pikiran Berulang: Pikiran yang sama terus berputar di kepala,
sulit dihentikan, meskipun sudah disadari bahwa itu tidak membantu.
Banyak sekali efek atau dampak dari overthinking
ini. Dampak yang disebabkan oleh overthinking adalah:
1. Hidup tidak menyenangkan
Hidup menjadi
sumpek karena habis waktu sia-sia, tegang, lelah, dan tidak bisa tidur dengan
nyenyak.
2. Segala aktivitas menjadi tidak maksimal
Mengalami kesulitan
untuk berkonsentrasi dan hal ini akan memengaruhi kesulitan dalam berinteraksi
dengan orang lain.
3. Emosi yang terus naik-turun
Mudah marah,
mudah gelisah, insecure, mencari pelampiasan misalnya melalui makanan,
postingan, orang lain, juga menjauhi orang lain.
4. Gangguan kesehatan fisik
Dengan pikiran
yang terganggu, maka kondisi fisik pun akan terganggu pula. Demam, pusing,
nyeri dada, jantung bergerak kencang,
sesak nafas, hingga tekakanan darah tinggi atau kekurangan darah akan menyerang
tubuh.
Melihat dampak serius yang ditimbulkan oleh overthinking,
sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai manusia untuk menemukan solusi. Saya
yakin kita semua pernah mengalami kondisi overthinking ini, khususnya
ketika berada dalam situasi dan permasalahan hidup yang kompleks. Apabila kita
kini telah memahami bahwa dampak overthinking dapat mengganggu seluruh
tatanan hidup, maka seyogianya kita menggali pengetahuan untuk mengatasi
masalah tersebut secara cepat dan tepat.
Tidak bisa dipungkiri bahwa berpikir secara berlebihan terhadap
sesuatu hal merupakan kebiasaan yang tidak seharusnya sering dilakukan. Selain membuang-buang
waktu, overthinking juga tidak baik dan dapat menimbulkan berbagai
dampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik seseorang. Dengan demikian,
sekarang kita coba terapkan beberapa cara di bawah ini untuk mengurangi
kebiasaan overthinking:
1.
Jangan biasakan overthinking
Sadarilah bahwa overthinking itu tidak menguntungkan dari
aspek apapun.
2.
Sikapi segala sesuatu secara sederhana dan wajar
Urailah segala sesuatu dalam bagian kecil, selesaikanlah masalah
setahap demi setahap, konsentrasilah pada satu hal di satu waktu.
3.
Ambil sudut pandang baru
Ambillah sudut pandang baru yang lebih segar, saat tidak ada lagi
jalan keluar bisa diambil dari satu permasalahan.
4.
Berlatihlah mendisiplinkan diri
Jangan mau dikontrol pikiran, kitalah yang mengontrol pikiran, dan
jangan mudah terdistraksi oleh apapun atau siapapun.
5.
Bersikap positif dan optimis
Jangan berpikir serba negatif, kita tidak mungkin mengontrol segala hal yang ada di dunia.
6.
Gembira dan bahagia
Lengkapi hidup dengan melakukan apa yang kita cintai dan membuat
kita gembira.
7.
Hidup di masa kini
Kita hidup di masa kini. Jangan dibelenggu masa lalu, atau
dicemaskan oleh masa depan yang belum tentu akan terjadi.
8.
Bercerita kepada orang lain yang dipercaya
Berbicara kepada terapis, teman, atau siapa saja orang yang dapat
dipercaya dapat memberikan kelegaan pada pikiran. Selain itu, kita juga akan
mendapat perspektif baru mengenai hal-hal yang menjadi pemikiran kita.
9.
Menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan
Daripada hanya dibiarkan berputar-putar di dalam kepala, cobalah ungkapkan isi pikiran melalui tulisan. Lewat tulisan, kita tidak perlu bergantung kepada orang lain untuk mendengarkan cerita kita.
10.
Selalu berdoa kepada Tuhan
Selaku umat yang beragama, selayaknya kita harus tetap yakin dan
percaya akan pertolongan dari-Nya atas segala masalah yang datang dalam hidup
kita. Tidak selamanya semua masalah yang kita pikirkan mempunyai solusi dari dalam
diri kita sendiri. Bisa saja solusinya datang dari Tuhan Yang Maha Esa.
Saya akan menuliskan nasihat dari beberapa tokoh tentang overthinking,
di antaranya sebagai berikut:”
a.
“Nothing can harm you as much as your own thoughts unguarded.”
(Buddha).
b.
“To think too much is a disease.” (Fydur Dostoyeusky).
c.
“Thinking too little about things or thinking too much both make
us obstinate and fanatical.”(Blaise pascal).
d.
“Take time to deliberate but when the time for action has
arrived, stop thinking and go.” (Napoleon Bonaparte).
e.
“Don’t wait. The time will never be just right.” (Napoleon
Hill).
f.
“You don’t have to see whole staircase, just take the first step.”
(Martha Luther King Jr).
g.
“Twenty years from now you will be more disappointed by the
things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the
bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore
dream and discover.” (Mark Twain).
Dari penjelasan di atas, kita dapat sedikit demi sedikit mengikis overthinking
dari dalam diri. Bagaimanapun kondisi overthinking tersebut, besar
maupun kecil, harus kita singkirkan sejauh-jauhnya. Apa pun masalahnya, kita
harus tetap hidup dan menjalaninya dengan sempurna serta bijaksana. Tanpa
adanya kesadaran dalam diri, kita tidak akan pernah mampu menikmati keindahan
hidup di dunia.
Akhir kata, semoga kita dapat menghilangkan overthinking
dalam diri, walaupun perlahan namun pasti. Allah SWT akan selalu meridai setiap
usaha baik dari makhluk-Nya di muka bumi. Buanglah overthinking, dan
mari kedepankan rasa bahagia serta syukur karena kita masih diberikan kehidupan
saat ini, di sini, dalam kondisi ini. Lupakanlah masa lalu dan jadikan ia
sebagai pelajaran berharga. Tidak perlu memprediksi masa depan, karena belum
tentu kita akan sampai pada masa itu. (EAS)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar