Minggu, 14 September 2025

RABI'AH AL ADAWIYAH

 

https://www.detik.com/jatim/berita/d-6940319/kisah-rabiah-al-adawiyah

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas salah satu tokoh perempuan sufi yang terkenal dalam agama Islam. Siapakah beliau? Beliau adalah Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi yang sangat dikagumi karena mahabbah ilahiyahnya kepada Allah SWT. Marilah kita ikuti penjelasan selanjutnya.

Rabiah Al-Adawiyah, seorang perempuan yang lahir di tengah kemiskinan namun namanya abadi sebagai teladan zuhud dan cinta Ilahi murni. Kisah hidupnya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cerminan ajaran tentang bagaimana cinta menjadi satu-satunya motivasi dalam beribadah, melampaui segala ketakutan akan neraka atau harapan akan surga.

Dalam buku Khazanah Orang Besar Islam dari Penakluk Jerussalam hingga Angka Nol karya RA Gunadi dan M Shoelhi disebutkan bahwa Rabiah Al dawiyah lahir pada tahun 713 M di Basrah (Irak). Kedua orang tuanya meninggal tatkala ia masih kecil dan ketiga kakaknya  juga meninggal saat wabah kelaparan melanda Basrah.

Rabiah Al Adawiyah berasal dari orang tua yang saleh, walaupun kedua orang tuanya bukan merupakan orang yang kaya. Ketika akan dilahirkan, kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit, sehingga untuk melahirkan pun tidak mempunyai apa-apa. Namun konon katanya, ayah beliau bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan diberikan surat untuk diberikan kepada orang saleh yang kaya raya di kota Basrah, agar dapat memberikan bantuan keuangan  di saat proses kelahiran bayi Rabiah Al Adawiyah. Dan ketika ayahnya bangun dari mimpi, ternyata benar ada surat dalam genggamannya yang harus diberikan kepada orang saleh dan kaya raya.

Singkat waktu surat pemberian dari baginda Rasulullah diberikan kepada orang tersebut. Alangkah terkejutnya, dia menerima teguran langsung terkait bacaan dzikirnya dari baginda Rasulullah yang telah wafat. Kemudian orang saleh itu memberikan sejumlah makanan dan bantuan keuangan kepada ayahnya Rabiah Al Adawiyah. Karena orang saleh itu merasa senang dan bahagia, dapat teguran secara langsung dari baginda Rasulullah melalui mimpi. Sedangkan semua orang tidak mengetahui tentang kebiasaannya membaca dzikir seperti itu. Dalam hatinya berpikir Rasulullah mengetahui dan meridhai semua yang dikerjakannya tersebut.

Ketika Rabiah Al Adawiyah menjadi yatim piatu, ia harus hidup mandiri dan asing serta menjadi budak belian. Sehingga ia harus menderita dalam kehidupannya. Namun ada kisah yang di luar logika, ketika Rabiah Al Adawiyah sedang beribadah di dalam kamarnya, majikannya melihat ada cahaya di kepala Rabiah Al Adawiyah. Oleh sebab itu, Rabiah Al Adawiyah dibebaskan dari perbudakan. Majikannya takut ada hal-hal yang buruk terjadi padanya, kalau tetap menjadikan Rabiah Al Adawiyah sebagai budaknya.

Sebelum menjadi sufi besar, Rabiah Al Adawiyah sering menyendiri dan menyepi di tempat yang kira-kira aman baginya. Dia terus merenungkan dan belajar tentang ketuhanan secara serius dan mendalam. Secara umum, Rabiah Al-Adawiyah tidak memiliki guru spiritual (mursyid) formal dalam perjalanan sufinya seperti yang lazim ditemukan dalam tarekat-tarekat sufi. Ia dikenal sebagai seorang mistikus yang mencapai makam (tingkatan) spiritualnya melalui pengalaman pribadi dan hubungan langsung dengan Tuhan.

Ajaran dan spiritualitasnya lahir dari zuhud (asketisme) yang ekstrem, ibadah yang tak kenal lelah, dan meditasi mendalam. Ia sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk cinta Ilahi, menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan hidup. Hal ini membuat banyak orang pada zamannya, termasuk ulama dan ahli hukum Islam terkemuka seperti Hasan Al-Basri, datang kepadanya untuk meminta nasihat spiritual, bukan sebaliknya.

Jadi, Rabiah Al-Adawiyah lebih dikenal sebagai guru spiritual bagi banyak orang, bukan sebagai murid. Ia adalah salah satu figur perempuan pertama yang meletakkan fondasi penting bagi ajaran cinta Ilahi murni dalam tradisi tasawuf.

Rabiah Al Adawiyah mendefiniskan arti cinta dan hakikat cinta itu sendiri. Apa itu cinta? “Sukar menjelaskan apa hakikat cinta itu, ia hanya memperlihatkan gambaran kerinduan dari satu perasaan. Hanya orang yang merasakannya dapat mengetahui. Bagaimana mungkin engkau dapat menggambarkan sesuatu yang engkau sendiri bagai telah hilang dari hadapan -Nya walaupun wujudnya masih ada. Oleh karena hatimu yang gembira membuat lidahmu bungkam.”

Menurut Rabiah Al-Adawiyah, untuk mencapai mahabbah ada syarat-syarat yang harus diikuti, yang disebut Menjelang Mahabbah, yaitu sebagai berikut:

1.     Taubat dan Ridha kepada Allah SWT

Taubat menurut Rabiah adalah taubat seseorang yang melakukan maksiat adalah berdasarkan kehendak Allah, bukan kehendak manusia itu sendiri. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan membukakan pintu taubat bagi seseorang yang berbuat maksiat.

Mengenai Ridha, diriwayatkan oleh Al-Kalabadzi, suatu ketika Sofyan Saury berkata di depan Rabiah: “Ya Tuhanku, ridhailah diriku ini.” Maka Rabiah berkata: “Tidakkah engkau malu meminta keridhaan dari Tuhan, yang engkau sendiri tidak ridha kepada-Nya.”

2.     Menyerap keindahan dan keagungan-Nya.

Tuhan, semua yang aku dengar di alam raya ini.

Ocehan burung, desiran dedaunan.

Gemercik air di pancuran. Nyanyian burung bersahutan.

Hembusan angin, suara halilintar dan suara kilat yang berkejaran.

Kini kusadari sebagai tanda bukti atas keagungan-Mu.

Dan sebagai saksi abadi, atas keEsaan-Mu.

Juga sebagai kabar bagi manusia.

Bahwa tak satu pun ada yang menandingi-Mu dan menyekutui-Mu.

Saya akan menuliskan beberapa syair dari Rabiah Al-Adawiyah yang beliau tuliskan sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Allah SWT.

a.     Dua Dimensi Cinta

Aku mencintai dengan dua cinta, yaitu cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu.

Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu.

Cinta karena dirimu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau ku lihat.

Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.

Bagimu pujian untuk semua itu. 


b.     Lenyapnya Semua Hijab

Allah menutupi hati makhluk-Nya dengan hijab yang halus.

Para Ulama terhalang karena keluasan ilmunya.

Para Zahid terhijab karena amalnya,

Dan para Hukama tak mampu menembus karena kahalusan hikmahnya.

Orang Arif tak ada yang mengahalanginya.

Hal itu karena mereka menempatkan hati dalam Cahaya Cinta Ilahi.


c.     Allah Saja Fokus Hidupku

Saudara-saudaraku

Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagiaanku

Kekasihku selalu dihadapanku

Tak mungkin aku dapat pengganti-Nya

Cinta-Nya kepada makhluk cobaan bagiku

Dialah tujuan hidupku

Oh, hati yang ikhlas

Oh, tumpuan harapan

Barilah jalan untuk meredam keresahan

Oh, Tuhan sumber bahagia dan kehidupan

Kepada-Mu saja kuserahkan hidup dan keinginan

Kupusatkan seluruh jiwa ragaku

Demi mencari Ridha-Mu.

 

d.     Kerinduan Tiada Henti

Wahai Tuhanku tenggelamkanlah daku dalam mencintai-Mu

Sehingga tidaklah aku tidak lagi membimbangkan-Mu

Ya Rabb,

Bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran

Pintu-pintu istana telah terkunci

Dan tiap pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya

Inilah aku berada di hadirat-Mu

 

e.     Tanpa Pamrih Apapun Selain Dia

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka

Bakarlah aku di dalamnya

Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga

Campakanlah aku darinya

Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata

Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.

Itulah lima syair yang saya kutip. Sebenarnya, masih banyak syair lain yang menggambarkan betapa Rabiah Al-Adawiyah sangat mencintai dan merindukan Tuhan-Nya, bukan yang lainnya. Syair-syair itu tergambar lembut, namun berisi keteguhan hati yang sangat kuat. Beribu makna dapat kita ambil dari setiap baitnya.

Saya bukanlah seorang sufi atau ulama, saya hanya ingin memperlihatkan bahwa dahulu kala ada seorang wanita yang sangat mencintai dan merindukan Allah SWT sedahsyat itu. Ada rasa takut, malu, segan, dan rendah diri dalam jiwa ketika membaca tentang kecintaannya kepada Allah Sang Khaliq. Hati ini pun bertanya, di manakah letak rasa cintaku kepada Tuhan Semesta Alam? Namun, saya yakin seyakin-yakinya bahwa Tuhanku, Allah SWT, mengetahui bahwa dalam hati ini tersimpan rasa cinta kepada-Nya. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai pecinta sesama manusia dan alam seisinya. Aamiin Yaa Rabbal A’laamiin. (EAS).”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...