https://www.detik.com/jatim/berita/d-6940319/kisah-rabiah-al-adawiyah
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas salah satu tokoh
perempuan sufi yang terkenal dalam agama Islam. Siapakah beliau? Beliau adalah Rabi’ah
Al-Adawiyah, seorang sufi yang sangat dikagumi karena mahabbah ilahiyahnya
kepada Allah SWT. Marilah kita ikuti penjelasan selanjutnya.
Rabiah Al-Adawiyah, seorang perempuan yang lahir di tengah
kemiskinan namun namanya abadi sebagai teladan zuhud dan cinta Ilahi murni.
Kisah hidupnya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cerminan ajaran
tentang bagaimana cinta menjadi satu-satunya motivasi dalam beribadah,
melampaui segala ketakutan akan neraka atau harapan akan surga.
Dalam buku Khazanah Orang Besar Islam dari Penakluk Jerussalam
hingga Angka Nol karya RA Gunadi dan M Shoelhi disebutkan bahwa Rabiah Al
dawiyah lahir pada tahun 713 M di Basrah (Irak). Kedua orang tuanya meninggal
tatkala ia masih kecil dan ketiga kakaknya
juga meninggal saat wabah kelaparan melanda Basrah.
Rabiah Al Adawiyah berasal dari orang tua yang saleh, walaupun
kedua orang tuanya bukan merupakan orang yang kaya. Ketika akan dilahirkan,
kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit, sehingga untuk melahirkan pun tidak
mempunyai apa-apa. Namun konon katanya, ayah beliau bermimpi bertemu dengan
Nabi Muhammad SAW, dan diberikan surat untuk diberikan kepada orang saleh yang
kaya raya di kota Basrah, agar dapat memberikan bantuan keuangan di saat proses kelahiran bayi Rabiah Al Adawiyah.
Dan ketika ayahnya bangun dari mimpi, ternyata benar ada surat dalam
genggamannya yang harus diberikan kepada orang saleh dan kaya raya.
Singkat waktu surat pemberian dari baginda Rasulullah diberikan
kepada orang tersebut. Alangkah terkejutnya, dia menerima teguran langsung terkait
bacaan dzikirnya dari baginda Rasulullah yang telah wafat. Kemudian orang saleh
itu memberikan sejumlah makanan dan bantuan keuangan kepada ayahnya Rabiah Al
Adawiyah. Karena orang saleh itu merasa senang dan bahagia, dapat teguran
secara langsung dari baginda Rasulullah melalui mimpi. Sedangkan semua orang
tidak mengetahui tentang kebiasaannya membaca dzikir seperti itu. Dalam hatinya
berpikir Rasulullah mengetahui dan meridhai semua yang dikerjakannya tersebut.
Ketika Rabiah Al Adawiyah menjadi yatim piatu, ia harus hidup
mandiri dan asing serta menjadi budak belian. Sehingga ia harus menderita dalam
kehidupannya. Namun ada kisah yang di luar logika, ketika Rabiah Al Adawiyah sedang
beribadah di dalam kamarnya, majikannya melihat ada cahaya di kepala Rabiah Al
Adawiyah. Oleh sebab itu, Rabiah Al Adawiyah dibebaskan dari perbudakan. Majikannya
takut ada hal-hal yang buruk terjadi padanya, kalau tetap menjadikan Rabiah Al
Adawiyah sebagai budaknya.
Sebelum menjadi sufi besar, Rabiah Al Adawiyah sering menyendiri
dan menyepi di tempat yang kira-kira aman baginya. Dia terus merenungkan dan
belajar tentang ketuhanan secara serius dan mendalam. Secara umum, Rabiah Al-Adawiyah tidak
memiliki guru spiritual (mursyid) formal dalam perjalanan sufinya seperti yang
lazim ditemukan dalam tarekat-tarekat sufi. Ia dikenal sebagai seorang mistikus
yang mencapai makam (tingkatan) spiritualnya melalui pengalaman pribadi dan
hubungan langsung dengan Tuhan.
Ajaran dan spiritualitasnya lahir dari zuhud
(asketisme) yang ekstrem, ibadah yang tak kenal lelah, dan meditasi mendalam.
Ia sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk cinta Ilahi, menjadikannya sebagai
satu-satunya tujuan hidup. Hal ini membuat banyak orang pada zamannya, termasuk
ulama dan ahli hukum Islam terkemuka seperti Hasan Al-Basri, datang
kepadanya untuk meminta nasihat spiritual, bukan sebaliknya.
Jadi, Rabiah Al-Adawiyah lebih dikenal
sebagai guru spiritual bagi banyak orang, bukan sebagai murid. Ia adalah
salah satu figur perempuan pertama yang meletakkan fondasi penting bagi ajaran
cinta Ilahi murni dalam tradisi tasawuf.
Rabiah Al Adawiyah mendefiniskan arti cinta
dan hakikat cinta itu sendiri. Apa itu cinta? “Sukar menjelaskan apa hakikat
cinta itu, ia hanya memperlihatkan gambaran kerinduan dari satu perasaan. Hanya
orang yang merasakannya dapat mengetahui. Bagaimana mungkin engkau dapat
menggambarkan sesuatu yang engkau sendiri bagai telah hilang dari hadapan -Nya
walaupun wujudnya masih ada. Oleh karena hatimu yang gembira membuat lidahmu
bungkam.”
Menurut Rabiah Al-Adawiyah, untuk mencapai mahabbah ada
syarat-syarat yang harus diikuti, yang disebut Menjelang Mahabbah, yaitu
sebagai berikut:
1. Taubat dan Ridha kepada Allah SWT
Taubat menurut Rabiah adalah taubat seseorang yang melakukan maksiat adalah berdasarkan kehendak Allah, bukan kehendak manusia itu sendiri. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan membukakan pintu taubat bagi seseorang yang berbuat maksiat.
Mengenai Ridha, diriwayatkan oleh Al-Kalabadzi,
suatu ketika Sofyan Saury berkata di depan Rabiah: “Ya Tuhanku, ridhailah
diriku ini.” Maka Rabiah berkata: “Tidakkah engkau malu meminta keridhaan dari
Tuhan, yang engkau sendiri tidak ridha kepada-Nya.”
2. Menyerap keindahan dan keagungan-Nya.
Tuhan, semua yang aku dengar di alam raya ini.
Ocehan burung, desiran dedaunan.
Gemercik air di pancuran. Nyanyian burung bersahutan.
Hembusan angin, suara halilintar dan suara kilat yang berkejaran.
Kini kusadari sebagai tanda bukti atas keagungan-Mu.
Dan sebagai saksi abadi, atas keEsaan-Mu.
Juga sebagai kabar bagi manusia.
Bahwa tak satu pun ada yang menandingi-Mu dan menyekutui-Mu.
Saya akan menuliskan beberapa syair dari Rabiah Al-Adawiyah yang
beliau tuliskan sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Allah SWT.
a. Dua Dimensi Cinta
Aku mencintai dengan dua cinta, yaitu cinta karena diriku dan cinta
karena diri-Mu.
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu.
Cinta karena dirimu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga
Engkau ku lihat.
Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
Bagimu pujian untuk semua itu.
b. Lenyapnya Semua Hijab
Allah menutupi hati makhluk-Nya dengan hijab yang halus.
Para Ulama terhalang karena keluasan ilmunya.
Para Zahid terhijab karena amalnya,
Dan para Hukama tak mampu menembus karena kahalusan hikmahnya.
Orang Arif tak ada yang mengahalanginya.
Hal itu karena mereka menempatkan hati dalam Cahaya Cinta Ilahi.
c. Allah Saja Fokus Hidupku
Saudara-saudaraku
Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagiaanku
Kekasihku selalu dihadapanku
Tak mungkin aku dapat pengganti-Nya
Cinta-Nya kepada makhluk cobaan bagiku
Dialah tujuan hidupku
Oh, hati yang ikhlas
Oh, tumpuan harapan
Barilah jalan untuk meredam keresahan
Oh, Tuhan sumber bahagia dan kehidupan
Kepada-Mu saja kuserahkan hidup dan keinginan
Kupusatkan seluruh jiwa ragaku
Demi mencari Ridha-Mu.
d. Kerinduan Tiada Henti
Wahai Tuhanku tenggelamkanlah daku dalam mencintai-Mu
Sehingga tidaklah aku tidak lagi membimbangkan-Mu
Ya Rabb,
Bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran
Pintu-pintu istana telah terkunci
Dan tiap pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya
Inilah aku berada di hadirat-Mu
e. Tanpa Pamrih Apapun Selain Dia
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka
Bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga
Campakanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.
Itulah lima syair yang saya kutip. Sebenarnya, masih banyak syair
lain yang menggambarkan betapa Rabiah Al-Adawiyah sangat mencintai dan
merindukan Tuhan-Nya, bukan yang lainnya. Syair-syair itu tergambar lembut,
namun berisi keteguhan hati yang sangat kuat. Beribu makna dapat kita ambil
dari setiap baitnya.
Saya bukanlah seorang sufi atau ulama, saya hanya ingin
memperlihatkan bahwa dahulu kala ada seorang wanita yang sangat mencintai dan
merindukan Allah SWT sedahsyat itu. Ada rasa takut, malu, segan, dan rendah
diri dalam jiwa ketika membaca tentang kecintaannya kepada Allah Sang Khaliq.
Hati ini pun bertanya, di manakah letak rasa cintaku kepada Tuhan Semesta Alam?
Namun, saya yakin seyakin-yakinya bahwa Tuhanku, Allah SWT, mengetahui bahwa
dalam hati ini tersimpan rasa cinta kepada-Nya. Semoga Allah selalu menjadikan
kita sebagai pecinta sesama manusia dan alam seisinya. Aamiin Yaa Rabbal
A’laamiin. (EAS).”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar