Jumat, 03 Januari 2025

Pantangan Seorang Guru

 

Dokumen pribadi

Profesi seorang guru adalah profesi yang saya hindari sewaktu muda dulu. Namun takdir berkata lain, Tuhan telah menggariskan profesi guru dalam kehidupan saya. Qodarullah sekarang, saya menjadi seorang guru kimia pada sekolah menengah atas di salah satu kabupaten. Sudah hampir 11 tahun mengabdi menjadi guru/pendidik. Tugas guru yang setiap harinya harus menjalankan rutinitas mengajar dan mendidik para siswa di sekolah. Terkadang  kesibukan diberi tugas tambahan lain selain mengajar dan sebagai anggota keluarga (ibu rumah tangga) yang memungkinkan kurang fokus dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Namun, semua halangan dan rintangan atau masalah  apapun harus dapat dikesampingkan ketika sudah berhadapan dengan siswa di dalam kelas. Seperti itulah kira-kira sebagai awalan dari tulisan saya. 

Kita lihat terlebih dahulu definisi Guru, Menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik professional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 juga mengatur bahwa guru harus memiliki kualifikasi akademik minimal, kompetensi pendidikan, dan sertifikasi pendidik profesional. Selain itu, guru juga harus memenuhi persyaratan lain, seperti: 

·       Sehat jasmani dan rohani

·       Memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas

·       Memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional

·   Guru memiliki kompetensi yang terdiri dari empat aspek, yaitu: Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Profesional

 

Sebegitu pentingnya tugas pokok dan fungsi seorang guru yang di atur dalam undang-undang tersebut. Sehingga menambah krusialnya peranan seorang guru dalam mencerdaskan anak bangsa. Saya pikir,  tugas pokok dan fungsi guru sangat mulia dan bisa termasuk sebagai ladang pahala bagi kehidupan di akhirat kelak. Namun nyatanya pada era digital seperti sekarang tugas pokok dan fungsi guru semakin bias. Seperti awan yang terbawa arah angin, kemana angin bertiup ke sana awan menuju.

Dahulu masih segar diingatan saya, ada seorang dosen yang bertanya, “Mengapa kamu ingin menjadi guru?  Karena menjadi guru itu tidak gampang, kalau kamu ingin jadi guru kamu harus menjadi orang yang baik.” Pertanyaan dan pernyataan itulah yang membuat saya saat itu tidak bisa menjawab sepatah katapun. Bila dipikir-pikir ada benarnya juga, ketika saya memutuskan untuk kuliah pada jurusan pendidikan tersebut, saya sudah lulus sarjana kimia murni, lalu buat apa saya harus cape-cape kuliah sarjana pendidikan lagi. Nyaris waktu itu, saya hanya tertegun dan berdiam diri tanpa menjawab sepatah katapun. Akhirnya dosen hanya tersenyum, dan beliau paham mengapa saya malah terdiam atau bengong keitka di beri pertanyaan tersebut.

Barulah ketika saya berpengalaman menjadi seorang guru seperti sekarang, memahami apa jawaban dan makna di balik pernyataan bapak dosen dulu. Berawal dari kata “GURU” yang berarti digugu dan ditiru. Otomatis semua perilaku dalam keseharian guru itu akan ditiru oleh anak didiknya, entah kapan ataupun dimana tempatnya. Karena hal yang paling utama, siswa melihat dari luarnya atau secara fisik bagaimana guru itu dalam kesehariannya. Mulai dari cara berpakaian, berjalan, tersenyum, tertawa, kecewa, marah, mengajar, bertindak, dan semua yang tersirat dari sang guru tersebut. Siswa akan memberikan penilaian kepada semua gurunya, baik itu di perlihatkan dalam bentuk ucapan dan tindakan atau hanya di dalam hati saja. Banyak siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tertentu karena mereka menilai jelek dari unsur tersurat gurunya. Walaupun terkesan subjektif, namun sering terjadi pada banyak siswa di sekolah manapun.

Teringat kembali dengan pernyataan bapak dosen yang terakhir, bahwa menjadi guru itu berarti harus menjadi orang baik. Karena logikanya apabila gurunya orang baik maka akan mewariskan sifat-sifat yang baik pada siswanya. Namun perspektif baik ini dilihat dari segi apa? Atau dilihat dari sudut pandang yang mana? Apakah guru yang baik itu selalu mentolerir semua kesalahan siswa? Apakah guru yang baik itu selalu bersikap ramah dan hangat pada siswa? Apakah guru yang baik itu selalu memanjakan siswanya? Apakah guru yang baik itu selalu memberikan nilai yang tinggi pada seluruh siswanya? Semua pertanyaan ini sering berkecamuk dalam pikiran saya. Tapi, seiring berjalannya waktu, pengalaman sebagai guru mengajarkan banyak hal yang berharga pada saya.

Ternyata baik itu secara umum yang dapat diterima oleh akal sehat, sesuai norma-norma yang berlaku di masyarakat sekolah ataupun masyarakat pada umumnya. Ada patokan-patokan yang boleh dinormalisasi, ada juga hal-hal yang harus tetap berjalan secara saklek dan tanpa alasan apapun wajib diikuti. Seperti kedisiplinan, sikap tanggung jawab, nilai keTuhanan, nilai keadilan, nilai kejujuran, kasih sayang, objektivitas dalam menilai/mengevaluasi, serta yang terpenting  menanamkan nilai-nilai adab yang tidak boleh di langgar sama sekali. Di luar dari nilai-nilai tersebut mungkin bisa agak longgar dalam penerapannya.

Sebagai guru, saya harus memahami benar kondisi psikologis semua siswa yang berada di dalam ruangan kelas. Guru harus menguasai ilmu psikologi pendidikan atau  psikologi perkembangan peserta didik, karena dengan memahami dan mempelajari keunikan karakteristik siswa, akan lebih mudah menjalankan tugas pokok seorang guru. Jangan ada seorang guru yang hobinya hanya menyalahkan siswa saja, dibilang siswa gak becuslah, siswa nakal, siswa bodoh, siswa pembangkang, menggosipkan siswa pada rekan guru, membanding-bandingkan dengan siswa lain, menghina karya atau jawaban siswa yang salah, menjelekkan guru lain atau mempermalukan siswa dihadapan teman sekelasnya, dan hal negatif lainnya.

Saya sebut hal-hal negatif di atas sebagai suatu pantangan atau larangan yang tidak boleh di lakukan oleh seorang guru. Misalnya, seorang guru memberikan pertanyaan pada siswa, dan ada siswa yang menjawab namun jawabannya kurang benar. Ada beberapa guru yang langsung memarahinya dan menertawakan jawaban siswa yang di pikirnya tidak berkaitan dengan pertanyaannya. Mengapa demikian? karena siswa menjawab berdasakan pengalaman dan ilmu yang dia dapatkan dan yang sudah terinternalisasi dalam hati dan jiwanya. Kebanyakan siswa, menjawab bukan karena tahu jawabannya namun karena ingin tahu jawaban yang sesungguhnya. Mereka mengharapkan kita mengaitkan jawabannya yang kalang kabut seperti benang kusut menjadi benar menurut ilmu yang sedang dipelajarinya. Kalau guru bisanya marah terhadap jawaban siswa yang dianggap tidak nyambung, berarti gurunya wajib belajar lagi tentang pemaknaan sebuah kalimat.

Memang butuh kesabaran dan kesadaran yang tinggi, kita harus mengkaji lagi susunan kata dari kalimat yang dijadikan pertanyaan pada siswa. Bisa saja pertanyaan guru itu kurang jelas, bermakna ambigu, atau terlalu umum sehingga siswa bingung dalam menjawabnya. Dan menjawab seadanya sesuai dengan pengalaman hidupnya dan pengetahuan yang sudah ada dalam benaknya. Jangan sampai guru menghukum siswa gara-gara salah dalam menjawab pertanyaan. Siswa sudah berani bicara untuk menjawab saja, itu sudah sangat luar biasa. Butuh perjuangan besar melawan ketakutan yang ada dalam diri mereka sendiri.

Memang kata hukuman bermakna konotasi. Apakah guru boleh menghukum siswa? Mungkin banyak guru yang sepakat tidak boleh. Namun menurut saya, menghukum siswa sah-sah saja asal tidak keluar dari norma yang berlaku, sesuaikan dengan kadar kesalahannya, dan usahakan hukumannya sesuatu yang dapat membangun kesadaran siswa untuk dapat berbuat lebih baik. Bukan malah sebaliknya, menghukum siswa hanya karena ingin memperlihatkan kekuasaan guru sebagai orang yang paling berkuasa di kelas dan serba mampu dalam segalanya. Saya kira para guru paham, cara menghukum siswa yang dapat mengkonstruksi ke arah yang lebih baik. Jangan juga, berpatokan tidak boleh menghukum siswa, yang akhirnya siswa melanggar norma yang berlaku, itu namanya salah kaprah.

Guru harus memberikan suri teladan kepada para siswanya. Berikan contoh yang baik dalam keseharian dan berperilaku.  Karena tugas guru bukan hanya mentransfer pengetahuan namun wajib mentransformasi nilai-nilai positif kepada para siswanya. kalau hanya mentransfer pengetahuan pastilah guru kalah dengan teknologi canggih saat ini. Sebagai contoh realnya, jangan sekali-kali seorang guru mengharapkan siswanya untuk berdisiplin kalau gurunya juga tidak disiplin, jangan pula mengharapkan kepada siswa untuk terus semangat belajar, kalau semisal kita sebagai guru juga malas belajar dan berpikir. malas dalam mengupgrade ilmu pengetahuan. Dengan perkataan lain, jangan mengharapkan siswa melakukan sesuatu yang tidak dicontohkan oleh gurunya. Karena siswa hanya bisa meniru segala sesuatu yang dilakukan guru baik itu hal positif atau negatif dalam kesehariannya.

Di bagian akhir tulisan ini, saya menyadari beberapa pantangan di atas pernah saya lakukan. Entah karena faktor minimnya pengalaman dan edukasi dalam menjalankan tugas pokok seorang guru. Sehingga ada suatu ganjalan yang menjadikan masalah dalam proses belajar mengajar di kelas. Yang terpenting setelah menyadari jikalau itu adalah sebuah kesalahan, saya harus mengambil hikmahnya dan tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Tulisan ini adalah pengingat bagi saya sendiri, ternyata banyak sekali pantangan-pantangan seorang guru yang wajib kita hindari demi kekondusifan kegiatan PBM (Proses Belajar Mengajar) dan demi kesehatan mental spiritual baik guru itu sendiri maupun bagi siswa yang kita didik. Terutama untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional yang sangat diharapkan oleh bangsa dan negara kita tercinta, Negara Indonesia.

Semoga kita menjadi guru yang memberikan contoh teladan yang baik dan menjadi inspirasi bagi para siswa kita. Aamiin YRA. (EAS)

3 komentar:

  1. Saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa "dalam keseharian guru itu akan ditiru oleh anak didiknya." Guru memiliki peran yang sama pentingnya seperti orang tua di sekolah, di mana wajar jika seorang anak meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari. Hal ini menegaskan betapa mulianya profesi guru, karena pengaruhnya tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua individu, tetapi oleh generasi yang lebih luas. Oleh karena itu, perilaku positif seorang guru sangat penting dalam membentuk karakter siswa yang lebih baik.

    Saya juga mengapresiasi penulis yang menyoroti bahwa menghukum siswa bukanlah hal yang tabu selama dilakukan secara bijak, sesuai kadar kesalahan, dan berunsur mendidik, bukan mempermalukan. Hukuman yang diberikan dengan tepat dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa, membantu mereka memahami kesalahan dan termotivasi untuk memperbaiki diri. Hal ini sejalan dengan cara kerja norma—di mana setiap sekolah, sebagai lembaga pendidikan, memiliki norma-norma yang berlaku. Jika norma tersebut dilanggar, tentunya perlu diberikan sanksi agar kedisiplinan tetap terjaga dan tidak terjadi penyimpangan lebih besar.

    Pandangan ini mempertegas pentingnya kebijaksanaan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, sekaligus mengingatkan siswa untuk menghargai peran guru sebagai pembimbing dan pendidik. Dengan pemahaman yang lebih baik, semoga guru dan siswa dapat saling mendukung, terus memperbaiki diri, dan menjalankan tugas masing-masing dengan dedikasi serta kesadaran penuh. Meskipun penuh tantangan, profesi guru memiliki dampak luar biasa dalam membentuk masa depan bangsa.

    BalasHapus
  2. MasyaAllah, pemikirannya luar biasa. Lanjutkan ketajaman dalam berpikirnya anakku....

    BalasHapus
  3. Saja jadi tau apa arti nya cinta setelah membaca blog ini

    BalasHapus

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...