Dokumen pribadi
Profesi
seorang guru adalah profesi yang saya hindari sewaktu muda dulu. Namun takdir
berkata lain, Tuhan telah menggariskan profesi guru dalam kehidupan saya. Qodarullah
sekarang, saya menjadi seorang guru kimia pada sekolah menengah atas di salah
satu kabupaten. Sudah hampir 11 tahun mengabdi menjadi guru/pendidik. Tugas guru
yang setiap harinya harus menjalankan rutinitas mengajar dan mendidik para
siswa di sekolah. Terkadang kesibukan
diberi tugas tambahan lain selain mengajar dan sebagai anggota keluarga (ibu
rumah tangga) yang memungkinkan kurang fokus dalam menjalankan tugas pokok dan
fungsinya. Namun, semua halangan dan rintangan atau masalah apapun harus dapat dikesampingkan ketika sudah
berhadapan dengan siswa di dalam kelas. Seperti itulah kira-kira sebagai awalan
dari tulisan saya.
Kita
lihat terlebih dahulu definisi Guru, Menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik professional yang bertugas
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi
peserta didik. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 juga
mengatur bahwa guru harus memiliki kualifikasi akademik minimal, kompetensi
pendidikan, dan sertifikasi pendidik profesional. Selain itu, guru juga
harus memenuhi persyaratan lain, seperti:
·
Sehat
jasmani dan rohani
·
Memenuhi
kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas
·
Memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional
· Guru
memiliki kompetensi yang terdiri dari empat aspek, yaitu: Pedagogik,
Kepribadian, Sosial, Profesional
Sebegitu
pentingnya tugas pokok dan fungsi seorang guru yang di atur dalam undang-undang
tersebut. Sehingga menambah krusialnya peranan seorang guru dalam mencerdaskan
anak bangsa. Saya pikir, tugas pokok dan
fungsi guru sangat mulia dan bisa termasuk sebagai ladang pahala bagi kehidupan
di akhirat kelak. Namun nyatanya pada era digital seperti sekarang tugas pokok
dan fungsi guru semakin bias. Seperti awan yang terbawa arah angin, kemana
angin bertiup ke sana awan menuju.
Dahulu
masih segar diingatan saya, ada seorang dosen yang bertanya, “Mengapa kamu
ingin menjadi guru? Karena menjadi guru
itu tidak gampang, kalau kamu ingin jadi guru kamu harus menjadi orang yang
baik.” Pertanyaan dan pernyataan itulah yang membuat saya saat itu tidak bisa
menjawab sepatah katapun. Bila dipikir-pikir ada benarnya juga, ketika saya
memutuskan untuk kuliah pada jurusan pendidikan tersebut, saya sudah lulus
sarjana kimia murni, lalu buat apa saya harus cape-cape kuliah sarjana pendidikan
lagi. Nyaris waktu itu, saya hanya tertegun dan berdiam diri tanpa menjawab
sepatah katapun. Akhirnya dosen hanya tersenyum, dan beliau paham mengapa saya
malah terdiam atau bengong keitka di beri pertanyaan tersebut.
Barulah
ketika saya berpengalaman menjadi seorang guru seperti sekarang, memahami apa
jawaban dan makna di balik pernyataan bapak dosen dulu. Berawal dari kata “GURU”
yang berarti digugu dan ditiru. Otomatis semua perilaku dalam keseharian guru
itu akan ditiru oleh anak didiknya, entah kapan ataupun dimana tempatnya.
Karena hal yang paling utama, siswa melihat dari luarnya atau secara fisik
bagaimana guru itu dalam kesehariannya. Mulai dari cara berpakaian, berjalan,
tersenyum, tertawa, kecewa, marah, mengajar, bertindak, dan semua yang tersirat
dari sang guru tersebut. Siswa akan memberikan penilaian kepada semua gurunya,
baik itu di perlihatkan dalam bentuk ucapan dan tindakan atau hanya di dalam
hati saja. Banyak siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tertentu karena
mereka menilai jelek dari unsur tersurat gurunya. Walaupun terkesan subjektif,
namun sering terjadi pada banyak siswa di sekolah manapun.
Teringat
kembali dengan pernyataan bapak dosen yang terakhir, bahwa menjadi guru itu
berarti harus menjadi orang baik. Karena logikanya apabila gurunya orang baik
maka akan mewariskan sifat-sifat yang baik pada siswanya. Namun perspektif baik
ini dilihat dari segi apa? Atau dilihat dari sudut pandang yang mana? Apakah
guru yang baik itu selalu mentolerir semua kesalahan siswa? Apakah guru yang
baik itu selalu bersikap ramah dan hangat pada siswa? Apakah guru yang baik itu
selalu memanjakan siswanya? Apakah guru yang baik itu selalu memberikan nilai
yang tinggi pada seluruh siswanya? Semua pertanyaan ini sering berkecamuk dalam
pikiran saya. Tapi, seiring berjalannya waktu, pengalaman sebagai guru
mengajarkan banyak hal yang berharga pada saya.
Ternyata
baik itu secara umum yang dapat diterima oleh akal sehat, sesuai norma-norma
yang berlaku di masyarakat sekolah ataupun masyarakat pada umumnya. Ada
patokan-patokan yang boleh dinormalisasi, ada juga hal-hal yang harus tetap
berjalan secara saklek dan tanpa alasan apapun wajib diikuti. Seperti
kedisiplinan, sikap tanggung jawab, nilai keTuhanan, nilai keadilan, nilai kejujuran, kasih sayang, objektivitas
dalam menilai/mengevaluasi, serta yang terpenting menanamkan nilai-nilai adab yang tidak boleh
di langgar sama sekali. Di luar dari nilai-nilai tersebut mungkin bisa agak
longgar dalam penerapannya.
Sebagai
guru, saya harus memahami benar kondisi psikologis semua siswa yang berada di
dalam ruangan kelas. Guru harus menguasai ilmu psikologi pendidikan atau psikologi perkembangan peserta didik, karena
dengan memahami dan mempelajari keunikan karakteristik siswa, akan lebih mudah
menjalankan tugas pokok seorang guru. Jangan ada seorang guru yang hobinya
hanya menyalahkan siswa saja, dibilang siswa gak becuslah, siswa nakal, siswa
bodoh, siswa pembangkang, menggosipkan siswa pada rekan guru,
membanding-bandingkan dengan siswa lain, menghina karya atau jawaban siswa yang
salah, menjelekkan guru lain atau mempermalukan siswa dihadapan teman sekelasnya, dan hal negatif lainnya.
Saya
sebut hal-hal negatif di atas sebagai suatu pantangan atau larangan yang tidak
boleh di lakukan oleh seorang guru. Misalnya, seorang guru memberikan
pertanyaan pada siswa, dan ada siswa yang menjawab namun jawabannya kurang
benar. Ada beberapa guru yang langsung memarahinya dan menertawakan jawaban
siswa yang di pikirnya tidak berkaitan dengan pertanyaannya. Mengapa demikian?
karena siswa menjawab berdasakan pengalaman dan ilmu yang dia dapatkan dan yang
sudah terinternalisasi dalam hati dan jiwanya. Kebanyakan siswa, menjawab bukan
karena tahu jawabannya namun karena ingin tahu jawaban yang sesungguhnya.
Mereka mengharapkan kita mengaitkan jawabannya yang kalang kabut seperti benang
kusut menjadi benar menurut ilmu yang sedang dipelajarinya. Kalau guru bisanya
marah terhadap jawaban siswa yang dianggap tidak nyambung, berarti gurunya
wajib belajar lagi tentang pemaknaan sebuah kalimat.
Memang
butuh kesabaran dan kesadaran yang tinggi, kita harus mengkaji lagi susunan
kata dari kalimat yang dijadikan pertanyaan pada siswa. Bisa saja pertanyaan
guru itu kurang jelas, bermakna ambigu, atau terlalu umum sehingga siswa
bingung dalam menjawabnya. Dan menjawab seadanya sesuai dengan pengalaman
hidupnya dan pengetahuan yang sudah ada dalam benaknya. Jangan sampai guru
menghukum siswa gara-gara salah dalam menjawab pertanyaan. Siswa sudah berani
bicara untuk menjawab saja, itu sudah sangat luar biasa. Butuh perjuangan besar
melawan ketakutan yang ada dalam diri mereka sendiri.
Memang
kata hukuman bermakna konotasi. Apakah guru boleh menghukum siswa? Mungkin
banyak guru yang sepakat tidak boleh. Namun menurut saya, menghukum siswa
sah-sah saja asal tidak keluar dari norma yang berlaku, sesuaikan dengan kadar
kesalahannya, dan usahakan hukumannya sesuatu yang dapat membangun kesadaran
siswa untuk dapat berbuat lebih baik. Bukan malah sebaliknya, menghukum siswa
hanya karena ingin memperlihatkan kekuasaan guru sebagai orang yang paling
berkuasa di kelas dan serba mampu dalam segalanya. Saya kira para guru paham,
cara menghukum siswa yang dapat mengkonstruksi ke arah yang lebih baik. Jangan juga,
berpatokan tidak boleh menghukum siswa, yang akhirnya siswa melanggar norma
yang berlaku, itu namanya salah kaprah.
Guru
harus memberikan suri teladan kepada para siswanya. Berikan contoh yang baik
dalam keseharian dan berperilaku. Karena
tugas guru bukan hanya mentransfer pengetahuan namun wajib mentransformasi
nilai-nilai positif kepada para siswanya. kalau hanya mentransfer pengetahuan
pastilah guru kalah dengan teknologi canggih saat ini. Sebagai contoh realnya,
jangan sekali-kali seorang guru mengharapkan siswanya untuk berdisiplin kalau
gurunya juga tidak disiplin, jangan pula mengharapkan kepada siswa untuk terus
semangat belajar, kalau semisal kita sebagai guru juga malas belajar dan
berpikir. malas dalam mengupgrade ilmu pengetahuan. Dengan perkataan
lain, jangan mengharapkan siswa melakukan sesuatu yang tidak dicontohkan oleh
gurunya. Karena siswa hanya bisa meniru segala sesuatu yang dilakukan guru baik
itu hal positif atau negatif dalam kesehariannya.
Di
bagian akhir tulisan ini, saya menyadari beberapa pantangan di atas pernah saya
lakukan. Entah karena faktor minimnya pengalaman dan edukasi dalam menjalankan
tugas pokok seorang guru. Sehingga ada suatu ganjalan yang menjadikan masalah
dalam proses belajar mengajar di kelas. Yang terpenting setelah menyadari
jikalau itu adalah sebuah kesalahan, saya harus mengambil hikmahnya dan tidak boleh
melakukan kesalahan lagi. Tulisan ini adalah pengingat bagi saya sendiri,
ternyata banyak sekali pantangan-pantangan seorang guru yang wajib kita hindari
demi kekondusifan kegiatan PBM (Proses Belajar Mengajar) dan demi kesehatan
mental spiritual baik guru itu sendiri maupun bagi siswa yang kita didik. Terutama
untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional yang sangat diharapkan oleh bangsa
dan negara kita tercinta, Negara Indonesia.
Semoga
kita menjadi guru yang memberikan contoh teladan yang baik dan menjadi
inspirasi bagi para siswa kita. Aamiin YRA. (EAS)
Saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa "dalam keseharian guru itu akan ditiru oleh anak didiknya." Guru memiliki peran yang sama pentingnya seperti orang tua di sekolah, di mana wajar jika seorang anak meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari. Hal ini menegaskan betapa mulianya profesi guru, karena pengaruhnya tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua individu, tetapi oleh generasi yang lebih luas. Oleh karena itu, perilaku positif seorang guru sangat penting dalam membentuk karakter siswa yang lebih baik.
BalasHapusSaya juga mengapresiasi penulis yang menyoroti bahwa menghukum siswa bukanlah hal yang tabu selama dilakukan secara bijak, sesuai kadar kesalahan, dan berunsur mendidik, bukan mempermalukan. Hukuman yang diberikan dengan tepat dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa, membantu mereka memahami kesalahan dan termotivasi untuk memperbaiki diri. Hal ini sejalan dengan cara kerja norma—di mana setiap sekolah, sebagai lembaga pendidikan, memiliki norma-norma yang berlaku. Jika norma tersebut dilanggar, tentunya perlu diberikan sanksi agar kedisiplinan tetap terjaga dan tidak terjadi penyimpangan lebih besar.
Pandangan ini mempertegas pentingnya kebijaksanaan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, sekaligus mengingatkan siswa untuk menghargai peran guru sebagai pembimbing dan pendidik. Dengan pemahaman yang lebih baik, semoga guru dan siswa dapat saling mendukung, terus memperbaiki diri, dan menjalankan tugas masing-masing dengan dedikasi serta kesadaran penuh. Meskipun penuh tantangan, profesi guru memiliki dampak luar biasa dalam membentuk masa depan bangsa.
MasyaAllah, pemikirannya luar biasa. Lanjutkan ketajaman dalam berpikirnya anakku....
BalasHapusSaja jadi tau apa arti nya cinta setelah membaca blog ini
BalasHapus