Jumat, 14 Maret 2025

PUASA 2

 

https://www.genmuslim.id/khazanah/632890536/kisah-inspiratif-imam-al-ghazali-salah-seorang-ulama-tasawuf-yang-bergelar-hujjatul-islam

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang puasa menurut Imam Al Ghazali. Tulisan ini merupakan pembahasan kedua saya tentang “Puasa”. Materi ini diambil dari kitab Ihya Ulumuddin, tepatnya dalam bab Asroru Syiam. Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada baiknya  kita mengetahui terlebih dahulu siapa Imam Al Ghazali.

Menurut sumber Kompas.com, Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada 450 H atau 1058 dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thus. Sejak kecil, ia sudah menjadi anak yatim karena ditinggal ayahnya. Namun, sebelum meninggal, ayahnya menitipkannya ke salah satu sahabatnya untuk mengurus pendidikannya.

Imam Ghazali adalah seorang akademisi serta ahli tasawuf yang telah melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu karya terkenal dari Imam Ghazali berjudul Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama). Semasa muda, Al-Ghazali merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia pandai dalam ilmu tafsir Al Quran, hadis, ilmu kalam, dan filsafat.

Al-Ghazali mendapatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di Kota Thus. Ia belajar ilmu agama bersama seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Al-Ghazali kecil telah pandai berbahasa Arab dan Parsi. Ia kemudian belajar mengenai ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fikih, filsafat, dan mahzab-mahzab besar Islam. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di bidang ilmu fikih di Jarajan. Guru Imam Al-Ghazali saat itu adalah Imam Harmaim di Naisabur.

Selain itu, Al-Ghazali juga mengembara ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu, seperti ke Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem. Berkat kegigihannya dalam belajar, pada 484 H atau 1092, Al-Ghazali diangkat menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Itulah sekelumit biografi dari Imam Al Ghazali, untuk lebih jelasnya, Anda dapat mencari referensi yang lebih lengkapnya secara mandiri.

Puasa menurut Imam Al Ghazali pada hakikatnya adalah sebagai media untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Dan hal tersebut benar-benar berfungsi, apabila orang yang melaksanakan puasa dilandasi oleh kemauan yang kuat dan motivasi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah melalui cara mengalahkan keinginan-keinginan yang bersifat lahiriah.

Mengapa puasa dianggap Istimewa? Karena ada dua variabel makna yang hanya dimiliki oleh ibadah puasa, yakni: 1) Dalam puasa ada rahasia yang tidak terdapat dalam ibadah lainnya yang bisa terlihat, ibadah puasa tidak terlihat dan hanya dapat disaksikan oleh Allah semata; 2) Puasa itu pengekang setan yang menggoda manusia melalui syahwat, sedangkan syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan dan minum.

Menurut sumber lainnya, ada beberapa dalil atau hadits yang menerangkan keutamaan puasa, di antara ringkasannya adalah sebagai berikut:

1.     Sesungguhnya setan itu berjalan melewati aliran darah manusia, maka persempitlah jalannya dengan puasa.

2.     Sabda Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah RA: Teruslah menggedor-gedor pintu surga dengan cara lapar (berpuasa).

3.     Setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT minimal 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, kecuali puasa, hanya Allah yang mengetahui balasannya.

4.     Allah SWT membanggakan anak-anak muda yang gemar beribadah, khususnya anak muda yang berpuasa.

5.     Orang yang berpuasa akan bertemu dengan dua kebahagiaan, yang pertama saat buka puasa, dan yang kedua saat bertemu dengan Allah SWT.

Ada tujuh konteks dalam ibadah puasa, yaitu: kepatuhan akan kewajiban dari Allah, pelatihan/riyadah dalam menguasai diri, pengorbanan dalam arti memberikan persembahan ibadah terbaik kepada Allah, penyucian untuk menaikkan kualitas kemanusiaan, perjuangan dalam mengalahkan hawa nafsu, keikhlasan beribadah yang hanya disaksikan oleh Allah, dan hikmah/i’tibar dalam mempelajari manfaat dari pembelajaran puasa.

Sekarang kita pahami tingkatan atau level puasa. Tingkatan puasa menurut Imam Al Ghazali adalah sebagai berikut:

1.     Puasa Awam/Umum

Puasa umum ini menitikberatkan kepada menahan hal-hal yang membatalkan, dalam bentuk kebutuhan perut dan kelamin, tanpa memandang aspek-aspek menahan diri yang lain. Jadi dengan kata lain, puasa umum ini hanya mencegah perut dan kelamin dari memenuhi segala keinginannya.

2.     Puasa Khusus

Puasa khusus yaitu berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.

Puasa khusus ini, disamping mencegah keinginan dan nafsu kelamin, juga menahan keinginan dari anggota badan seluruhnya untuk tidak melakukan dosa dan maksiat.

Orang-orang yang berada pada tingkat puasa khusus memiliki kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah. Tujuannya untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya yakni ketenangan dan keterangan batin.

3.     Puasa Khusus Al Khusus

Puasa Khusus Al Khusus yaitu puasa hati dari segala cita-cita yang hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya daripada selain Allah SWT secara keseluruhan.

Puasa Khusus Al Khusus menurut Imam Al Ghazali adalah puasanya para Nabi dan orang-orang yang siddiq serta dekat dengan Allah SWT, mereka menganggap batal puasanya apabila memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, kecuali masalah-masalah dunia yang mendorong ke arah pemahaman agama, karena hal tersebut dianggap sebagai tanda ingat kepada akhirat.

Orang-orang yang puasa Khusus Al Khusus merasa berdosa apabila hari-harinya terisi dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut bermula dari rasa kurang yakin dengan janji Allah SWT, untuk mencukupkan rizkinya.

Ada rahasia puasa berdasarkan logikanya Imam Al Ghazali. Manusia derajatnya di atas hewan, karena memiliki akal, dan di bawah malaikat karena memiliki hawa nafsu. Saat manusia terjerumus dalam hawa nafsu maka ia akan turun ke tingkat hewan. Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa nafsu, maka ia terangkat ke tingkat malaikat.

Malaikat itu dekat dengan Allah. Mereka yang perilakunya dekat dengan malaikat, berdekatanlah ia dengan Allah, sebagaimana dekatnya para malaikat itu. Inilah rahasia puasa, bukan sekadar menunda makan atau mengumpulkan dua makan ketika malam, kemudian membenamkan diri dalam hawa nafsu yang lain sepanjang hari.

Perumpamaan orang yang mencegah dirinya dari makan dan minum, namun bercampur dengan dosa, adalah seperti orang yang menyapu salah satu daripada anggota tubuhnya pada wudlu tiga kali. Maka sesungguhnya telah sesuai pada dhahir bilangannya, namun ia telah meninggalkan yang penting yaitu membasuh. Maka salatnya akan tertolak lantaran kebodohannya.

Apa yang menjadi “target” dari ibadah puasa ini? Menurut Imam Al Ghazali puasa memiliki target agar manusia menjadi “Taqwa” kepada Allah SWT. Makna Taqwa yang pertama adalah  takut (haybah), sesuai dengan firman Allah (2: 281) yang artinya: “Dan bertaqwalah (takutlah) suatu hari yang kamu dikembalikan kepada Allah.” Makna Taqwa yang kedua adalah taat, sesuai firman Allah (3: 102) yang artinya: “Hai orang yang beriman, bertaqwalah (taatlah) kepada Allah dengan benar-benar taqwa (taat). Makna Taqwa yang ketiga adalah menyucikan hati dari dosa, sesuai dengan firman Allah (24:52) yang artinya: “ Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan”.

Jadi telah teranglah, bahwa bagi tiap-tiap ibadah itu mempunyai dhahir dan batin, kulit dan isi. Dan kulitnya itu memiliki beberapa derajat dan bagi tiap-tiap derajat mempunyai beberapa lapisan. Maka kepadamulah sekarang, untuk memilih, apakah engkau cukupkan dengan kulit saja tanpa isi, atau engkau menceburkan diri kepada lapisan isi.

Saya akan tuliskan beberapa quote yang menarik tentang puasa, yaitu:

1.     “Fasting is the first principle of medicine; fast and see the strength of spirit reveal it self” (Jalaluddin Rumi).

2.     “I believe that there is no prayer without fasting and there is no real fasting without prayer” (Mahatma Gandhi).

3.     “I fast for greater physical and mental efficiency” (Plato).

4.     “Fasting cures diseases, dries up bodily humors, puts demonds to flight, get rid of impure thoughts, makes the mind clearer and the heart purer, the body sanctified, and raises man to the throne of God” (Athenaeus).

5.     “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan kata-kata kotor/kata-kata tidak penting atau konyol. Apalagi melakukan hal-hal kotor/jelek, dan tidak tahu/tidak peduli amat/masa bodoh, Allah tidak butuh lapar dan hausmu”. (Hadits Nabi).

Itulah bahasan tentang puasa menurut Imam Al Ghazali. Terkait hikmah atau manfaat yang akan didapatkan dari ibadah puasa, saya rasa Anda dapat mengetahui dengan menggali sendiri secara lahir maupun batin. Semoga ibadah puasa kita tidak sekadar menahan rasa haus dan lapar, namun ada suatu nilai lebih yang dapat kita persembahkan kepada Allah Subhana Wata’ala. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. (EAS).

1 komentar:

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...