Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang puasa menurut Imam
Al Ghazali. Tulisan ini merupakan pembahasan kedua saya tentang “Puasa”. Materi
ini diambil dari kitab Ihya Ulumuddin, tepatnya dalam bab Asroru
Syiam. Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu siapa Imam Al
Ghazali.
Menurut sumber Kompas.com, Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada 450
H atau 1058 dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin
Ahmad Ath-Thus. Sejak kecil, ia sudah menjadi anak yatim karena ditinggal
ayahnya. Namun, sebelum meninggal, ayahnya menitipkannya ke salah satu
sahabatnya untuk mengurus pendidikannya.
Imam Ghazali adalah seorang akademisi serta ahli tasawuf yang telah
melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu karya terkenal dari Imam Ghazali
berjudul Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama). Semasa
muda, Al-Ghazali merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia pandai
dalam ilmu tafsir Al Quran, hadis, ilmu kalam, dan filsafat.
Al-Ghazali mendapatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di
Kota Thus. Ia belajar ilmu agama bersama seorang guru bernama Ahmad bin
Muhammad Razkafi. Al-Ghazali kecil telah pandai berbahasa Arab dan Parsi. Ia
kemudian belajar mengenai ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fikih, filsafat,
dan mahzab-mahzab besar Islam. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di bidang
ilmu fikih di Jarajan. Guru Imam Al-Ghazali saat itu adalah Imam Harmaim di Naisabur.
Selain itu, Al-Ghazali juga mengembara ke berbagai wilayah untuk
menuntut ilmu, seperti ke Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem. Berkat
kegigihannya dalam belajar, pada 484 H atau 1092, Al-Ghazali diangkat menjadi
rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Itulah sekelumit biografi dari Imam Al
Ghazali, untuk lebih jelasnya, Anda dapat mencari referensi yang lebih
lengkapnya secara mandiri.
Puasa menurut Imam Al Ghazali pada hakikatnya adalah sebagai media
untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Dan hal tersebut benar-benar berfungsi,
apabila orang yang melaksanakan puasa dilandasi oleh kemauan yang kuat dan
motivasi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah melalui cara mengalahkan
keinginan-keinginan yang bersifat lahiriah.
Mengapa puasa dianggap Istimewa? Karena ada dua variabel makna yang
hanya dimiliki oleh ibadah puasa, yakni: 1) Dalam puasa ada rahasia yang tidak
terdapat dalam ibadah lainnya yang bisa terlihat, ibadah puasa tidak terlihat
dan hanya dapat disaksikan oleh Allah semata; 2) Puasa itu pengekang setan yang
menggoda manusia melalui syahwat, sedangkan syahwat hanya bisa diperkuat dengan
makan dan minum.
Menurut sumber lainnya, ada beberapa dalil atau hadits yang menerangkan
keutamaan puasa, di antara ringkasannya adalah sebagai berikut:
1.
Sesungguhnya setan itu berjalan melewati aliran darah manusia, maka
persempitlah jalannya dengan puasa.
2.
Sabda Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah RA: Teruslah menggedor-gedor
pintu surga dengan cara lapar (berpuasa).
3.
Setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT minimal 10 kali lipat hingga
700 kali lipat, kecuali puasa, hanya Allah yang mengetahui balasannya.
4.
Allah SWT membanggakan anak-anak muda yang gemar beribadah,
khususnya anak muda yang berpuasa.
5.
Orang yang berpuasa akan bertemu dengan dua kebahagiaan, yang
pertama saat buka puasa, dan yang kedua saat bertemu dengan Allah SWT.
Ada tujuh konteks dalam ibadah puasa, yaitu: kepatuhan akan kewajiban
dari Allah, pelatihan/riyadah dalam menguasai diri, pengorbanan dalam arti memberikan
persembahan ibadah terbaik kepada Allah, penyucian untuk menaikkan kualitas
kemanusiaan, perjuangan dalam mengalahkan hawa nafsu, keikhlasan beribadah yang
hanya disaksikan oleh Allah, dan hikmah/i’tibar dalam mempelajari manfaat dari
pembelajaran puasa.
Sekarang kita pahami tingkatan atau level puasa. Tingkatan puasa
menurut Imam Al Ghazali adalah sebagai berikut:
1.
Puasa Awam/Umum
Puasa umum ini menitikberatkan kepada menahan hal-hal yang membatalkan,
dalam bentuk kebutuhan perut dan kelamin, tanpa memandang aspek-aspek menahan
diri yang lain. Jadi dengan kata lain, puasa umum ini hanya mencegah perut dan
kelamin dari memenuhi segala keinginannya.
2.
Puasa Khusus
Puasa khusus yaitu berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah,
tangan, kaki, dan anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
Puasa khusus ini, disamping mencegah keinginan dan nafsu kelamin,
juga menahan keinginan dari anggota badan seluruhnya untuk tidak melakukan dosa
dan maksiat.
Orang-orang yang berada pada tingkat puasa khusus memiliki
kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah. Tujuannya untuk
menemukan kenikmatan yang sebenarnya yakni ketenangan dan keterangan batin.
3.
Puasa Khusus Al Khusus
Puasa Khusus Al Khusus yaitu puasa hati dari segala cita-cita yang
hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya daripada selain Allah SWT
secara keseluruhan.
Puasa Khusus Al Khusus menurut Imam Al Ghazali adalah puasanya para
Nabi dan orang-orang yang siddiq serta dekat dengan Allah SWT, mereka menganggap batal puasanya apabila memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, kecuali masalah-masalah
dunia yang mendorong ke arah pemahaman agama, karena hal tersebut dianggap
sebagai tanda ingat kepada akhirat.
Orang-orang yang puasa Khusus Al Khusus merasa berdosa apabila
hari-harinya terisi dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Mereka beranggapan
bahwa hal tersebut bermula dari rasa kurang yakin dengan janji Allah SWT, untuk
mencukupkan rizkinya.
Ada rahasia puasa berdasarkan logikanya Imam Al Ghazali. Manusia derajatnya
di atas hewan, karena memiliki akal, dan di bawah malaikat karena memiliki hawa
nafsu. Saat manusia terjerumus dalam hawa nafsu maka ia akan turun ke tingkat hewan.
Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa nafsu, maka ia terangkat ke tingkat malaikat.
Malaikat itu dekat dengan Allah. Mereka yang perilakunya dekat
dengan malaikat, berdekatanlah ia dengan Allah, sebagaimana dekatnya para
malaikat itu. Inilah rahasia puasa, bukan sekadar menunda makan atau
mengumpulkan dua makan ketika malam, kemudian membenamkan diri dalam hawa nafsu
yang lain sepanjang hari.
Perumpamaan orang yang mencegah dirinya dari makan dan minum, namun
bercampur dengan dosa, adalah seperti orang yang menyapu salah satu daripada
anggota tubuhnya pada wudlu tiga kali. Maka sesungguhnya telah sesuai pada
dhahir bilangannya, namun ia telah meninggalkan yang penting yaitu membasuh. Maka
salatnya akan tertolak lantaran kebodohannya.
Apa yang menjadi “target” dari ibadah puasa ini? Menurut Imam Al
Ghazali puasa memiliki target agar manusia menjadi “Taqwa” kepada Allah SWT. Makna
Taqwa yang pertama adalah takut (haybah),
sesuai dengan firman Allah (2: 281) yang artinya: “Dan bertaqwalah (takutlah)
suatu hari yang kamu dikembalikan kepada Allah.” Makna Taqwa yang kedua adalah taat,
sesuai firman Allah (3: 102) yang artinya: “Hai orang yang beriman,
bertaqwalah (taatlah) kepada Allah dengan benar-benar taqwa (taat). Makna Taqwa
yang ketiga adalah menyucikan hati dari dosa, sesuai dengan firman Allah
(24:52) yang artinya: “ Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut
kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang memperoleh
kemenangan”.
Jadi telah teranglah, bahwa bagi tiap-tiap ibadah itu mempunyai
dhahir dan batin, kulit dan isi. Dan kulitnya itu memiliki beberapa derajat dan
bagi tiap-tiap derajat mempunyai beberapa lapisan. Maka kepadamulah sekarang,
untuk memilih, apakah engkau cukupkan dengan kulit saja tanpa isi, atau engkau
menceburkan diri kepada lapisan isi.
Saya akan tuliskan beberapa quote yang menarik tentang puasa, yaitu:
1.
“Fasting is the first principle of medicine; fast and see the
strength of spirit reveal it self” (Jalaluddin Rumi).
2.
“I believe that there is no prayer without fasting and there is no
real fasting without prayer” (Mahatma Gandhi).
3.
“I fast for greater physical and mental efficiency” (Plato).
4.
“Fasting cures diseases, dries up bodily humors, puts demonds to
flight, get rid of impure thoughts, makes the mind clearer and the heart purer,
the body sanctified, and raises man to the throne of God” (Athenaeus).
5.
“Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan kata-kata
kotor/kata-kata tidak penting atau konyol. Apalagi melakukan hal-hal
kotor/jelek, dan tidak tahu/tidak peduli amat/masa bodoh, Allah tidak butuh
lapar dan hausmu”. (Hadits Nabi).
Itulah bahasan tentang puasa menurut Imam Al Ghazali. Terkait
hikmah atau manfaat yang akan didapatkan dari ibadah puasa, saya rasa Anda dapat
mengetahui dengan menggali sendiri secara lahir maupun batin. Semoga ibadah
puasa kita tidak sekadar menahan rasa haus dan lapar, namun ada suatu nilai lebih
yang dapat kita persembahkan kepada Allah Subhana Wata’ala. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin.
(EAS).
Great information to be applied in our daily life
BalasHapus