Sabtu, 10 Mei 2025

Mengatasi Stres Dengan Stoikisme

 

https://www.kobo.com/ww/en/ebook/stoic-six-pack-illustrated

Kita tidak asing lagi dengan kata “stres” . Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sudah mengetahui apa itu stres. Stres dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikis seseorang, sehingga membuatnya menjadi labil dan kurang optimal dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Menurut KBBI stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar, atau disebut juga ketegangan.

Setiap orang dapat mengalami gangguan stres, entah itu karena pekerjaan, masalah keluarga, masalah sosial, ataupun persoalan lainnya. Faktor-faktor stres bisa berasal dari dalam diri ataupun dari lingkungan luar. Menurut ajaran Islam, obat dari stres adalah iman dan taqwa. Sangat tepat, karena dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta berserah diri kepada-Nya, kita akan terhindar dari gangguan stres.

Tulisan kali ini akan membahas beberapa tips mengatasi stres berdasarkan ilmu Soikisme. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Stoikisme, silakan pembaca mencari referensi secara mandiri. Tips-tips ini saya ambil dari Tokoh Stoikisme yaitu Marcus Aurelius dan Epictetus. Marilah kita baca dan pahami kalimat-kalimat dari mereka berdua sebagai panduan untuk mengatasi stres.

1.     Ada yang hadir, ada yang keluar dari keberadaan. Beberapa dari apa yang pernah ada, sekarang sudah hilang. Perubahan demi perubahan terus menerus mengubah dunia, seperti perkembangan waktu yang tak henti-hentinya mengubah keabadian.

2.     Saat engkau mencintai sesuatu, tempatkan di hadapan dirimu posisi yang berlawanan. Apa salahnya saat engkau mencium anakmu, engkau bisikan dengan suara lirih, “Besok kamu pun akan mati”, dan kepada seorang teman, “Besok kamu yang akan pergi atau aku yang akan pergi, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

3.     Apa yang engkau cintai bukanlah milikmu; itu diberikan kepadamu untuk saat ini, bukannya tidak akan diambil lagi, juga tidak diberikan kepadamu untuk selama-lamanya. Seperti buah ara yang diberikan kepadamu atau seikat buah anggur pada musim tertentu dalam setahun. Jika engkau menginginkan buah ini di musim dingin, engkau bodoh. Jika engkau menginginkan putra atau temanmu ketika tidak lagi diizinkan untukmu, engkau harus tahu bahwa engkau menginginkan buah ara di musim dingin.

4.     Kebahagiaan dan kebebasan dimulai dengan pemahaman yang jelas tentang satu prinsip. Beberapa hal berada dalam kendali kita, dan beberapa tidak. Hanya setelah kita pahami aturan mendasar ini, dan belajar membedakan antara apa yang kita bisa dan tidak bisa kendalikan, ketenangan batin dan keefektifan menjadi mungkin.

5.     Jangan berharap segalanya terjadi seperti yang engkau inginkan, namun terimalah segalanya yang terjadi, maka hidupmu akan tenang.

6.     Jangan biarkan pikiranmu tentang keseluruhan hidupmu menghancurkanmu. Jangan isi pikiranmu dengan segala hal buruk yang mungkin masih akan terjadi. Tetap fokus pada situasi saat ini, dan tanyakan pada diri sendiri mengapa tak tertahankan dan rasanya tidak dapat bertahan.

7.     Apapun yang dilakukan atau dikatakan orang. Aku harus tetap menjadi zamrud dan mempertahankan warnaku.

8.     Meskipun benar seseorang dapat menghalangi tindakan kita, mereka tidak dapat menghalangi niat dan sikap kita, yang memiliki kekuatan untuk berubah dan dapat beradaptasi. Karena pikiran menyesuaikan dan mengubah hambatan apapun menjadi sarana untuk mencapainya. Apa yang merupakan penghalang tindakan di ubah menjadi jembatan petunjuk jalan.

9.     Betapa jauh lebih berbahaya konsekuensi dari kemarahan dan kesedihan daripada yang membangkitkannya dalam diri kita.

10.  Kami menangis kepada Tuhan, bagaimana kami bisa lolos dari penderitaan ini? Bodoh, kau tidak punya tangan? Atau mungkin Tuhan lupa memberimu sepasang?

11.  Jangan malu saat membutuhkan bantuan. Engkau memiliki kewajiban untuk dipenuhi, seperti seorang prajurit di tembok pertempuran. Jadi bagaimana jika engkau terluka dan bisa memanjat tanpa bantuan prajurit lain?

12.  Saat engkau tersiksa oleh sesuatu dari luar dirimu, rasa sakit itu sebenarnya bukan dari sesuatu itu sendiri, namun dari anggapanmu terhadapnya. Dan engkau memiliki kekuatan untuk mencabutnya kapan pun engkau mau. Tolak rasa sakitmu dan rasa sakit itu akan lenyap.

13.  Saat engkau melawan orang yang tidak tahu malu, tanyakan kepada dirimu hal ini; Apakah mungkin di dunia ini bersih dari tindakan tidak tahu malu? Tidak. Maka jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Selalu ada orang yang tidak tahu malu di dunia, dan ini adalah salah satunya. Hal yang sama lakukanlah untuk seseorang yang jahat, tidak dapat dipercaya, atau kerendahan moralnya. Mengingat bahwa di seluruh dunia ini pasti beda-beda kelas moral. Akan lebih membuatmu toleran terhadap penghuninya.

14.  Merasa sayang kepada orang lain, meskipun melakukan banyak kesalahan adalah sifat unik manusia. Engkau dapat melakukannya, cukup dengan mengaku bahwa mereka juga manusia. Mereka melakukan itu karena tidak sadar, berlawanan dengan kata hati mereka, dan kita semua akhirnya akan sama-sama mati tidak lama lagi. Dan di atas semuanya mereka tidak benar-benar menyakitimu, mereka tidak melenyapkan kemampuanmu untuk memilih.

15.  Jangan biarkan masa depan mengganggumu. Engkau pasti akan menghadapinya, jika perlu dengan senjata yang sama yang hari ini menjadi senjatamu melawan masa kini.

16.  Jika ada sesuatu yang menghalangimu untuk mencapai tujuan tepat waktu, itu adalah kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika seseorang menyakitimu, itu adalah kesempatan untuk berlatih memaafkan. Jika ada sesuatu yang sulit merintangimu, itu adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.

Dari uraian tips di atas, tentu saja ada kalimat-kalimat yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi setiap orang, karena penyebab stres bisa berbeda-beda. Namun, saya yakin akan ada banyak faedah dan manfaat yang bisa diperoleh apabila kita mau merenungi dan memahami panduan yang disampaikan oleh Marcus Aurelius dan Epictetus.

Sejalan dengan berbagai tips yang telah disebutkan sebelumnya, dalam menjaga kesehatan dan ketenangan hati, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin juga menjelaskan beberapa tahapan penting yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Tujuannya adalah agar jiwa senantiasa terbebas dari rasa stres maupun kejiwaan lainnya. Tahapan-tahapan tersebut meliputi: taubat dan tazkiyatul nafs (penyucian jiwa), zuhud dan qonaah (sifat melepaskan diri dari dunia dan merasa cukup), riyadah dan mujahadah (latihan dan perjuangan jiwa), khauf dan raja’ (takut dan berharap kepada Allah), serta diakhiri dengan sabar, dan tawakal (kesabaran dan berserah diri kepada-Nya).

Akhirnya, melalui tulisan ini saya berharap para pembaca diberikan kemudahan dalam memahami isi dan mendapatkan keleluasaan untuk berpikir jernih dalam menghadapi semua ujian dan cobaan kehidupan di dunia. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah dan pertolongan, serta kekuatan lahir batin kepada kita semua. Aamiin Yaa Rabbal’alammin. EAS.

4 komentar:

  1. MasyaAllah sekalii narasi oleh bu EAS, dari narasi diatas dapat menjadi teladan bagi kita semua

    BalasHapus

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...