https://www.kobo.com/ww/en/ebook/stoic-six-pack-illustrated
Kita tidak asing lagi dengan kata “stres” . Mulai dari
anak-anak hingga orang dewasa sudah mengetahui apa itu stres. Stres dapat
memengaruhi kondisi fisik dan psikis seseorang, sehingga membuatnya menjadi labil
dan kurang optimal dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi.
Menurut KBBI stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan
emosional yang disebabkan oleh faktor luar, atau disebut juga ketegangan.
Setiap orang dapat mengalami gangguan stres, entah itu karena
pekerjaan, masalah keluarga, masalah sosial, ataupun persoalan lainnya. Faktor-faktor
stres bisa berasal dari dalam diri ataupun dari lingkungan luar. Menurut ajaran
Islam, obat dari stres adalah iman dan taqwa. Sangat tepat, karena dengan
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta berserah diri kepada-Nya, kita
akan terhindar dari gangguan stres.
Tulisan kali ini akan membahas beberapa tips mengatasi stres berdasarkan
ilmu Soikisme. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Stoikisme, silakan pembaca
mencari referensi secara mandiri. Tips-tips ini saya ambil dari Tokoh
Stoikisme yaitu Marcus Aurelius dan Epictetus. Marilah kita baca dan pahami kalimat-kalimat
dari mereka berdua sebagai panduan untuk mengatasi stres.
1.
Ada yang hadir, ada yang keluar dari keberadaan. Beberapa dari apa
yang pernah ada, sekarang sudah hilang. Perubahan demi perubahan terus menerus
mengubah dunia, seperti perkembangan waktu yang tak henti-hentinya mengubah
keabadian.
2.
Saat engkau mencintai sesuatu, tempatkan di hadapan dirimu posisi
yang berlawanan. Apa salahnya saat engkau mencium anakmu, engkau bisikan dengan
suara lirih, “Besok kamu pun akan mati”, dan kepada seorang teman, “Besok kamu yang
akan pergi atau aku yang akan pergi, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi.”
3.
Apa yang engkau cintai bukanlah milikmu; itu diberikan kepadamu
untuk saat ini, bukannya tidak akan diambil lagi, juga tidak diberikan kepadamu
untuk selama-lamanya. Seperti buah ara yang diberikan kepadamu atau seikat buah
anggur pada musim tertentu dalam setahun. Jika engkau menginginkan buah ini di
musim dingin, engkau bodoh. Jika engkau menginginkan putra atau temanmu ketika
tidak lagi diizinkan untukmu, engkau harus tahu bahwa engkau menginginkan buah ara
di musim dingin.
4.
Kebahagiaan dan kebebasan dimulai dengan pemahaman yang jelas
tentang satu prinsip. Beberapa hal berada dalam kendali kita, dan beberapa
tidak. Hanya setelah kita pahami aturan mendasar ini, dan belajar membedakan
antara apa yang kita bisa dan tidak bisa kendalikan, ketenangan batin dan
keefektifan menjadi mungkin.
5.
Jangan berharap segalanya terjadi seperti yang engkau inginkan,
namun terimalah segalanya yang terjadi, maka hidupmu akan tenang.
6.
Jangan biarkan pikiranmu tentang keseluruhan hidupmu menghancurkanmu.
Jangan isi pikiranmu dengan segala hal buruk yang mungkin masih akan terjadi. Tetap
fokus pada situasi saat ini, dan tanyakan pada diri sendiri mengapa tak
tertahankan dan rasanya tidak dapat bertahan.
7.
Apapun yang dilakukan atau dikatakan orang. Aku harus tetap menjadi
zamrud dan mempertahankan warnaku.
8.
Meskipun benar seseorang dapat menghalangi tindakan kita, mereka
tidak dapat menghalangi niat dan sikap kita, yang memiliki kekuatan untuk
berubah dan dapat beradaptasi. Karena pikiran menyesuaikan dan mengubah
hambatan apapun menjadi sarana untuk mencapainya. Apa yang merupakan penghalang
tindakan di ubah menjadi jembatan petunjuk jalan.
9.
Betapa jauh lebih berbahaya konsekuensi dari kemarahan dan
kesedihan daripada yang membangkitkannya dalam diri kita.
10.
Kami menangis kepada Tuhan, bagaimana kami bisa lolos dari
penderitaan ini? Bodoh, kau tidak punya tangan? Atau mungkin Tuhan lupa
memberimu sepasang?
11.
Jangan malu saat membutuhkan bantuan. Engkau memiliki kewajiban untuk
dipenuhi, seperti seorang prajurit di tembok pertempuran. Jadi bagaimana jika
engkau terluka dan bisa memanjat tanpa bantuan prajurit lain?
12.
Saat engkau tersiksa oleh sesuatu dari luar dirimu, rasa sakit itu
sebenarnya bukan dari sesuatu itu sendiri, namun dari anggapanmu terhadapnya. Dan
engkau memiliki kekuatan untuk mencabutnya kapan pun engkau mau. Tolak rasa
sakitmu dan rasa sakit itu akan lenyap.
13.
Saat engkau melawan orang yang tidak tahu malu, tanyakan kepada
dirimu hal ini; Apakah mungkin di dunia ini bersih dari tindakan tidak tahu
malu? Tidak. Maka jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Selalu ada
orang yang tidak tahu malu di dunia, dan ini adalah salah satunya. Hal yang
sama lakukanlah untuk seseorang yang jahat, tidak dapat dipercaya, atau
kerendahan moralnya. Mengingat bahwa di seluruh dunia ini pasti beda-beda kelas
moral. Akan lebih membuatmu toleran terhadap penghuninya.
14.
Merasa sayang kepada orang lain, meskipun melakukan banyak kesalahan
adalah sifat unik manusia. Engkau dapat melakukannya, cukup dengan mengaku
bahwa mereka juga manusia. Mereka melakukan itu karena tidak sadar, berlawanan
dengan kata hati mereka, dan kita semua akhirnya akan sama-sama mati tidak lama
lagi. Dan di atas semuanya mereka tidak benar-benar menyakitimu, mereka tidak
melenyapkan kemampuanmu untuk memilih.
15.
Jangan biarkan masa depan mengganggumu. Engkau pasti akan
menghadapinya, jika perlu dengan senjata yang sama yang hari ini menjadi
senjatamu melawan masa kini.
16. Jika ada sesuatu yang menghalangimu untuk mencapai tujuan tepat waktu, itu adalah kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika seseorang menyakitimu, itu adalah kesempatan untuk berlatih memaafkan. Jika ada sesuatu yang sulit merintangimu, itu adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.
Dari uraian tips di atas, tentu saja ada kalimat-kalimat yang mungkin
tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi setiap orang, karena penyebab stres bisa
berbeda-beda. Namun, saya yakin akan ada banyak faedah dan manfaat yang bisa
diperoleh apabila kita mau merenungi dan memahami panduan yang disampaikan oleh
Marcus Aurelius dan Epictetus.
Sejalan dengan berbagai tips yang telah disebutkan sebelumnya,
dalam menjaga kesehatan dan ketenangan hati, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’
‘Ulumuddin juga menjelaskan beberapa tahapan penting yang harus dilakukan
oleh setiap muslim. Tujuannya adalah agar jiwa senantiasa terbebas dari rasa stres
maupun kejiwaan lainnya. Tahapan-tahapan tersebut meliputi: taubat dan
tazkiyatul nafs (penyucian jiwa), zuhud dan qonaah (sifat melepaskan
diri dari dunia dan merasa cukup), riyadah dan mujahadah (latihan dan
perjuangan jiwa), khauf dan raja’ (takut dan berharap kepada Allah), serta
diakhiri dengan sabar, dan tawakal (kesabaran dan berserah diri
kepada-Nya).
Akhirnya, melalui tulisan ini saya berharap para pembaca diberikan
kemudahan dalam memahami isi dan mendapatkan keleluasaan untuk berpikir jernih
dalam menghadapi semua ujian dan cobaan kehidupan di dunia. Semoga Allah SWT
senantiasa melimpahkan hidayah dan pertolongan, serta kekuatan lahir batin kepada
kita semua. Aamiin Yaa Rabbal’alammin. EAS.
Great reminder
BalasHapusPengingat bagi saya juga Bu
HapusMasyaAllah sekalii narasi oleh bu EAS, dari narasi diatas dapat menjadi teladan bagi kita semua
BalasHapusSemoga bermanfaat ya
Hapus