Sabtu, 16 Agustus 2025

PEOPLE PLEASER

 

https://www.its.ac.id/news/2024/05/05/people-pleaser-upaya-semu-menyenangkan-semua-orang

Tulisan kali ini akan membahas tentang People Pleaser. Sikap ini merupakan kebalikan dari Self-Love yang telah dibahas pada artikel sebelumnya. Dalam pembahasan ini, kita akan melihat dan memahami definisi, ciri atau karakteristiknya, serta cara menghindari sikap tersebut.

People Pleaser adalah seseorang yang memiliki kecenderungan kuat untuk menyenangkan orang lain, seringkali dengan mengorbankan kebutuhan dan keinginan diri sendiri. Mereka cenderung sulit menolak permintaan, bahkan jika itu merugikan mereka, karena takut akan penolakan, konflik, atau mengecewakan orang lain. Meskipun terlihat baik hati, people pleaser seringkali mengalami stres, kecemasan, dan kelelahan karena terus-menerus berusaha memenuhi harapan orang lain. 

Menurut definisi lain, People Pleaser adalah orang-orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain, menjadikan orang lain sebagai tujuan atau pusat hidupnya, sehingga bahkan mengorbankan Kebahagiaan sendiri untuk orang lain, karena menganggap diri sendiri bukan perioritas utama. Mereka menganggap nilai dirinya terletak pada pandangan baik orang lain terhadap dirinya.

Sebenarnya people pleaser adalah julukan informal yang orang gunakan untuk menggambarkan berbagai perilaku, seperti mau mengerjakan pekerjaan orang lain untuk membuat orang tersebut senang, atau berkata-kata manis untuk menyenangkan orang lain.

Beberapa ciri umum dari people pleaser ini adalah: selalu menyenangkan orang lain, menyetujui apapun pendapat/keinginan/permintaan orang lain, kuatir mengecewakan/membuat orang marah, mengabaikan pendapat/kenyamanan pribadi, tidak memiliki banyak waktu luang untuk diri sendiri, membutuhkan pujian untuk merasa berharga, merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain, dan selalu menghindari konflik.

Gambaran seseorang yang mempunyai sikap people pleaser ini biasanya sering bertanya pada dirinya sendiri tentang hal-hal tertentu misalnya: What will they think?, What if I say no?, Will we still be friends?, Will they get mad?, dan I wish I could say no. Apabila dalam bahasa yang kita kenal, tipe people pleaser sering memanifestasikan sikapnya dengan budaya ewuh pakewuh, budaya sungkan, budaya yes-man, dan budaya asal bapak senang.

Sebagian orang sering beranggapan bahwa sikap people pleaser memiliki makna yang sama dengan sikap altruistis. Padahal, keduanya sangat berbeda, meskipun sekilas terlihat memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu orang lain. Namun, terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Mari kita pahami perbedaan tersebut dengan benar.

People pleaser adalah membantu orang lain dengan harapan mendapat balasan seperti yang diinginkan, baik itu sifatnya materi atau finansial ataupun kehormatan dan pengakuan. Sedangkan Altruistis adalah membantu orang lain dengan tidak mengharapkan balasan apapun. Beberapa sikap yang termasuk Altruistis adalah spiritualists, true-friendship, family/parents, dan heroes. Dalam people pleaser mengharapkan balasan, sedangkan pada altruis tidak mengharapkan balasan apapun (ikhlas).

Dengan kata lain, people pleaser berupa inner directed yaitu menyenangkan orang lain agar ia dianggap baik, atau untuk menjaga image baiknya. Sementara altruistis berupa outer directed yaitu demi orang lain di luar dirinya. Sudah pahamkan Anda mengenai perbedaan keduanya?

Beberapa penyebab people pleaser ini di antaranya adalah ketakutan/kekhawatiran, mental rendah diri atau tidak percaya diri, mengikuti sistem sosial yang salah, ketergantungan kepada orang lain secara berlebihan, efek dari lelah lahir batin, sikap self hatred, sering merasa dimanfaatkan, tidak mampu memperbaiki situasi, dan pernah mengecewakan orang lain.

Bagaimana jika sikap people pleaser tanpa disadari telah melekat pada diri kita? Apa yang harus dilakukan? Tentu ada banyak cara untuk menghilangkan sikap tersebut. Saya akan memberikan beberapa langkah agar kita tidak menjadi “alat” bagi orang lain. Adapun cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:

1.     Tetapkan Batasmu

Buatlah prioritas hidup, baik itu berupa nilai, tujuan, atau keyakinan kamu. Tetapkan batasan kamu berdasarkan prioritas kamu.

2.     Ambil Waktu

Karena kamu telah menentukan batasanmu, kamu tahu apakah akan menerima permintaan orang lain atau tidak. Jika kamu ragu apakah bantuan itu masih dalam batas kemampuan kamu atau tidak, mintalah waktu untuk berpikir.

3.     Batasi Penawaran

Misalkan kamu setuju untuk melakukan sesuatu, kamu dapat membatasai penawaran kamu. Membatasi penawaran kamu tidak hanya membuat kamu lebih tegas tetapi juga membatasi jumlah pekerjaan yang harus kamu lakukan.

4.     Belajar Mengatakan Tidak

Jika kamu merasa bantuan itu bertentangan dengan nilai, kamu katakan “tidak” kepada pemohon. Berikan alasan yang valid dan relevan untuk pernyataan “tidak”, agar kamu mudah menyampaikannya kepada pemohon.

5.     Nyatakan Preferensimu

Ekspresikan preferensi atau pendapat kamu dengan jujur. Meski tidak berarti mengabaikan preferensi orang lain dan memaksakan preferensimu sendiri. Nyatakan saja posisi kamu, dan biarkan diskusi yang bersahabat atau mufakat untuk menentukan hasilnya.

Kelima cara di atas tidak mungkin terjadi apabila kita tidak berani memulainya hari ini. Jika tidak segera dimulai dari sekarang, ditambah dengan keberanian yang besar, maka selamanya kita akan menjadi people pleaser. Tentunya, orang lain akan mengenal kita dengan label sebagai orang yang mudah dimanfaatkan dalam segala urusan, termasuk urusan pekerjaan.

Saya akan menuliskan beberapa kata bijak, agar kita dapat meyakinkan diri dan terlepas dari sifat people pleaser. Silakan Anda pahami keseluruhan arti dari kalimat-kalimat bijak tersebut.

a.     Saat kamu katakan “Ya” kepada orang lain, pastikan engkau tidak berkata “Tidak” kepada dirimu sendiri. (Paulo Coehlo).

b.     Pedulikan pikiran orang lain, dan engkau akan selalu menjadi tawanan mereka. (Lao Tzu).

c.     Ketika seseorang percaya diri, ia tidak akan berusaha meyakinkan orang lain. Ketika seseorang nyaman dengan dirinya, ia tidak memerlukan persetujuan orang lain. Ketika seseorang menerima dirinya, seluruh dunia akan menerimanya. (Lao Tzu).

d.   Kalau engkau mencoba menyenangkan semua orang, sebenarnya engkau tidak menyenangkan siapapun. (Aesop).

e.     Satu-satunya jalan menghindari kritik adalah: jangan melakukan apapun, jangan berkata apapun, dan jangan menjadi siapapun. (Aristoteles).

f.      To be yourself in a world that is constanly trying to make you something else is the greatest accomplishment. (Ralph Waldo Emerson).

g.     You have brains in your head. You have feet in your shoes. You can steer yourself any direction you choose. You are on your own. And you know what you know. And you are the one who’ll decide where to go…(Dr. Seuss).

Selain kata-kata bijak di atas, ada juga beberapa kebenaran yang memang mutlak terjadi di dunia ini. Kebenaran yang sesungguhnya nyata dan benar-benar terjadi. Di antara fakta kebenaran itu adalah sebagai berikut:

1.     Even GOD can’t please everyone.

2.     I don’t need anyone approval to be happy

3.     What seem so important is only temporary.

4.     I only have to please one: GOD.

5.     GOD shape me to be me, not someone else.

Itulah beberapa penjelasan tentang people pleaser beserta cara-cara untuk mengatasinya. Memang tidak mudah mengubah sikap dari A menjadi B, karena dibutuhkan pengorbanan, perjuangan, serta dukungan dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sedikit demi sedikit usaha yang dijalankan dengan tulus dan ikhlas akan membuahkan hasil yang memuaskan. Lepaskanlah diri kita dari segala keterikatan atau kemelekatan terhadap sesama makhluk, cukup keterikatan ini hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga Allah SWT memberikan kita manfaat dan kebaikan dari tulisan ini. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. (EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...