Rabu, 06 Agustus 2025

METH

 


https://www-chemistryworld-com.translate.goog/podcasts/methamphetamine/3005861.article

Tulisan kali ini membahas informasi mengenai salah satu senyawa kimia yang tergolong sebagai zat terlarang apabila digunakan tanpa pengawasan atau sepengetahuan tenaga medis. Senyawa ini saya angkat dalam tulisan ini semata-mata untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan edukasi masyarakat. Senyawa apakah yang dimaksud? Mari kita pahami bersama penjelasan mengenai senyawa tersebut.

Senyawa ini bernama Metamfetamin (metamfetamin). Metamfetamin adalah obat psikostimulan dan simpatomimetik, serta termasuk dalam golongan amfetamin dari amina simpatomimetik. Metamfetamin dapat menimbulkan efek seperti euforia, peningkatan kewaspadaan dan energi, serta peningkatan harga diri.

Metamfetamin, mirip dengan stimulan sistem saraf, memiliki rumus molekul (C10H15N) dengan berat molekul 19,23. Metamfetamin umumnya tersedia sebagai garam HCl dan dikenal sebagai speed, sabu, es, di Indonesia dikenal sebagai sabu-sabu. Metamfetamin adalah zat psikotropika golongan dua, suatu stimulan yang bekerja pada susunan saraf pusat sehingga menimbulkan kecanduan apabila digunakan. Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia paling banyak disebabkan oleh metamfetamin dalam 5 tahun terakhir. Angkanya bahkan melebihi 1000 kasus pertahun. (Jennifer & Saptutyningsih, 2015).

Metamfetamina, yang kerap disebut sebagai sabu, merupakan zat psikoaktif yang digunakan secara luas oleh militer selama Perang Dunia II. Senyawa ini dikenal karena efeknya yang dapat meningkatkan kewaspadaan, mengurangi rasa lelah, serta menambah stamina — karakteristik yang dianggap menguntungkan dalam situasi peperangan.

Obat ini termasuk dalam golongan amfetamin dari amina simpatomimetik. Metamfetamin dapat menimbulkan efek seperti euforia, peningkatan kewaspadaan dan energi, serta peningkatan harga diri. Metamfetamin merupakan obat yang diresepkan di sebagian besar negara karena potensi kecanduan dan penyalahgunaannya yang tinggi.

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2022, harga sabu-sabu di Indonesia bervariasi tergantung pada lokasi, kualitas, dan jaringan distribusinya. Rata-rata harga sabu dilaporkan mencapai sekitar Rp3,5 juta per gram, atau sekitar Rp3,5 miliar per kilogram. Namun, dalam beberapa kasus, sabu-sabu juga ditemukan dijual dengan harga Rp700 ribu per gram, menjadikannya sekitar Rp700 juta per kilogram untuk versi dengan kualitas atau kadar kemurnian yang lebih rendah.

Metamfetamin (metilamfetamin atau desoksiefedrin), disingkat dengan nama meth, dikenal di Asia Tenggara, Hongkong, Jepang, dan Arab Saudi sebagai sabu-sabu. Senyawa meth ini adalah obat yang sering digunakan untuk penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau penderita gangguan perkembangan syaraf yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus. atau narkolepsi. Obat ini juga digunakan untuk menurunkan berat badan pada pasien obesitas yang tidak berhasil dengan diet dan olahraga. Nama dagang metamfetamin adalah Desoxyn, namun sayangnya banyak disalahgunakan sebagai narkotika. Obat ini berbentuk kristal yang dapat dihisap melalui pipa.

Secara detailnya senyawa metamfetamin adalah anggota golongan amfetamin yang gugus aminonya  (S) – amfetamin mengandung substituen metil. Metamfetamin berperan sebagai neurotoksin, obat psikotropika, stimulan sistem saraf pusat, xenobiotik, dan kontaminan lingkungan. Metamfetamin merupakan anggota amfetamin dan amina sekunder. Metamfetamin secara fungsional berkaitan dengan (S) - amfetamin . Metamfetamin merupakan basa konjugat dari metamfetamin(1+).

Amfetamin, ditemukan sebelum metamfetamin, pertama kali disintesis pada tahun 1887 di Jerman oleh ahli kimia Rumania yang bernama Lazar Edeleanu yang menamainya fenilisopropilalamina. Tidak lama kemudian, metamfetamin disintesis dari efedrina pada tahun 1893 oleh kimiawan Nagai Nagayoshi dari Jepang. Tiga dekade kemudian, pada tahun 1919, metamfetamina hidroklorida disintesis oleh farmakologi Akira Ogata melalui reduksi efedrina menggunkana fosfor merah dan iodin.

Karena meth disinyalir dapat merugikan kesehatan masyarakat luas maka obat ini dibatasi secara hukum dalam penggunaannya. Pembatasan hukum terhadap penggunaan metamfetamina  di seluruh negara mendorong munculnya jalur produksi ilegal. Pada dekade 1960-an hingga 1980-an, metamfetamina yang diproduksi secara ilegal mulai dikenal dengan nama crystal meth. Zat ini kemudian menyebar ke Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Pada era 1980-an, penggunaannya semakin meningkat, terutama di kalangan masyarakat sipil, dengan cara pemakaian yang bervariasi seperti dihirup, ditelan, atau disuntikkan untuk mendapatkan efek yang lebih cepat dan intens.

Sekarang kita pahami begaimana cara kerja metamfetamin dalam tubuh manusia. Metamfetamin bekerja dengan cara memengaruhi zat kimia di otak dan sistem saraf yang mengatur perilaku hiperaktif. Cara kerja ini akan membantu penderita ADHD lebih fokus, mudah berkonsentrasi, dan memiliki perilaku yang lebih terkendali. Amfetamin bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat; hal ini dilakukan dengan mendorong pelepasan neurotransmiter penting, pembawa pesan kimiawi seperti dopamin. Hal ini memiliki efek merangsang area otak yang terkait dengan kewaspadaan dan kerja jantung, sehingga tekanan darah dan detak jantung meningkat. Amfetamin meredakan kelelahan dan membuat pengguna merasa lebih kuat, euforia, dan lebih waspada

Karakteristik dari senyawa metamfetamin dapat kita lihat pada tabel di bawah ini.

Golongan

Obat resep

Kategori

Stimulan sistem saraf pusat (central nervous system/CNS)

Manfaat

Mengatasi ADHD dan obesitas

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak usia di atas 6 tahun

Metamfetamin untuk ibu hamil

Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.

Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Metamfetamin untuk ibu menyusui

Metamfetamin dapat terserap ke dalam ASI sehingga tidak boleh digunakan selama menyusui.

Bentuk obat

Tablet

Menurut laporan akhir Survei Pengembangan Narkoba Nasional 201. Di Indonesia, data pengguna aktif metamfetamin adalah 760.783 (BNN, 2015). Pengguna sabu terbanyak berasal dari golongan rumah tangga (189.799 orang), golongan pelajar (151.535 orang), dan pekerja (19.799 orang) (Todeschini et al., 2015). Penyalahgunaan metamfetamin menyeret total 55.619 tersangka dalam jangka waktu 5 tahun. Pecandu narkoba di Indonesia kebanyakan adalah laki-laki dan perempuan dan mengantongi ijazah sekolah menengah atas (SMA). Anehnya, kebanyakan orang yang menggunakan obat-obatan terlarang berusia di atas 29 tahun (Nurlaelah et al., 2019).

Kandungan obat di dalam tubuh bisa dikendalikan oleh cairan tubuh contohnya adalah urin, keringat, air liur, dan darah. Selain itu rambut juga dapat menjadi salah satu opsi untuk menganalisis kandungan atau senyawa obat dalam tubuh. Rambut juga dapat digunakan dalam beberapa kasus kejahatan untuk menentukan kesesuaian deoxyribonucleic acid (DNA). Keuntungan menggunakan sampel rambut dibandingkan cairan tubuh seperti urin atau darah untuk analisis kandungan atau senyawa ini adalah sampel rambut. Dimana sampel rambut lebih informatif tentang kandungan suatu obat dengan jangka waktu minggu hingga bulan dibandingkan dengan dua cairan tubuh tadi yang hanya terdeteksi beberapa hari atau jam. Untuk membuktikan seseorang menggunakan narkoba (pengguna), diambil sampel berupa sampel cairan tubuh (urin, darah, keringat, air liur) atau non-cairan tubuh (rambut). Terdeteksinya data dari hasil analisis sampel individu akan menjadi langkah identifikasi dalam menentukan pengguna narkoba. (Obat & Indonesia, 2010)

Sebagian besar obat-obatan terlarang seperti kokain dan heroin berbahan dasar tumbuhan, dan dapat dicegat di perbatasan negara, tetapi metamfetamin adalah obat sintetis. Salah satu alasan penyalahgunaan amfetamin tersebar luas di negara-negara seperti AS adalah karena metamfetamin dapat dengan mudah disintesis, tidak hanya di laboratorium, tetapi juga di taman trailer, kamar motel, dan peternakan. Petunjuk penggunaan buku resep tersedia dengan mudah di internet. Dua metode yang telah dijelaskan melibatkan reduksi efedrin (yang juga tersedia dalam obat batuk bebas) dengan litium dalam amonia cair, atau fosfor merah dan yodium sebagai agen pereduksi.

Dari semua penjelasan di atas mengenai senyawa metamfetamin, kita dapat menyimpulkan bahwa penggunaan obat, apa pun jenisnya, harus selalu mengikuti aturan pakai yang tepat serta berada dalam batas kewajaran. Kehati-hatian dan kesadaran menjadi kunci utama, disertai dengan kebiasaan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis yang berwenang sebelum mengonsumsi suatu obat. Dengan cara ini, kita dapat menghindari risiko penyalahgunaan dan menjaga kesehatan diri serta lingkungan sekitar.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa metamfetamin bukanlah obat yang dapat digunakan secara sembarangan. Meskipun dalam dunia medis senyawa ini memiliki manfaat tertentu, penyalahgunaannya dapat menimbulkan dampak yang sangat merusak, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Oleh karena itu, marilah kita bijak dalam menyikapi penggunaan obat-obatan, selalu berkonsultasi dengan tenaga medis yang berwenang, serta ikut berperan dalam menyebarkan edukasi tentang bahaya penyalahgunaan zat psikotropika. Masa depan yang sehat dan berkualitas dimulai dari kesadaran dan tanggung jawab kita bersama. Semoga kita diberikan kesehatan lahir batin oleh Allah SWT tanpa penggunaan obat-obatan terlarang.(EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...