https://www-chemistryworld-com.translate.goog/podcasts/methamphetamine/3005861.article
Tulisan kali ini membahas informasi mengenai salah satu senyawa
kimia yang tergolong sebagai zat terlarang apabila digunakan tanpa pengawasan
atau sepengetahuan tenaga medis. Senyawa ini saya angkat dalam tulisan ini
semata-mata untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan edukasi masyarakat. Senyawa
apakah yang dimaksud? Mari kita pahami bersama penjelasan mengenai senyawa
tersebut.
Senyawa ini bernama Metamfetamin (metamfetamin). Metamfetamin adalah
obat psikostimulan dan simpatomimetik, serta termasuk dalam golongan amfetamin
dari amina simpatomimetik. Metamfetamin dapat menimbulkan efek seperti euforia,
peningkatan kewaspadaan dan energi, serta peningkatan harga diri.
Metamfetamin, mirip dengan stimulan sistem saraf, memiliki rumus
molekul (C10H15N) dengan berat molekul 19,23.
Metamfetamin umumnya tersedia sebagai garam HCl dan dikenal sebagai speed, sabu,
es, di Indonesia dikenal sebagai sabu-sabu. Metamfetamin adalah zat
psikotropika golongan dua, suatu stimulan yang bekerja pada susunan saraf pusat
sehingga menimbulkan kecanduan apabila digunakan. Kasus penyalahgunaan narkoba
di Indonesia paling banyak disebabkan oleh metamfetamin dalam 5 tahun terakhir.
Angkanya bahkan melebihi 1000 kasus pertahun. (Jennifer & Saptutyningsih,
2015).
Metamfetamina, yang kerap disebut sebagai sabu,
merupakan zat psikoaktif yang digunakan secara luas oleh militer selama Perang
Dunia II. Senyawa ini dikenal karena efeknya yang dapat meningkatkan
kewaspadaan, mengurangi rasa lelah, serta menambah stamina — karakteristik yang
dianggap menguntungkan dalam situasi peperangan.
Obat ini termasuk dalam golongan amfetamin dari
amina simpatomimetik. Metamfetamin dapat menimbulkan efek seperti euforia,
peningkatan kewaspadaan dan energi, serta peningkatan harga diri. Metamfetamin
merupakan obat yang diresepkan di sebagian besar negara karena potensi
kecanduan dan penyalahgunaannya yang tinggi.
Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2022, harga
sabu-sabu di Indonesia bervariasi tergantung pada lokasi, kualitas, dan
jaringan distribusinya. Rata-rata harga sabu dilaporkan mencapai sekitar Rp3,5
juta per gram, atau sekitar Rp3,5 miliar per kilogram. Namun, dalam beberapa
kasus, sabu-sabu juga ditemukan dijual dengan harga Rp700 ribu per gram,
menjadikannya sekitar Rp700 juta per kilogram untuk versi dengan kualitas atau
kadar kemurnian yang lebih rendah.
Metamfetamin (metilamfetamin atau desoksiefedrin), disingkat dengan
nama meth, dikenal di Asia Tenggara, Hongkong, Jepang, dan Arab Saudi sebagai
sabu-sabu. Senyawa meth ini adalah obat yang sering digunakan untuk penderita
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau penderita gangguan
perkembangan syaraf yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus. atau narkolepsi.
Obat ini juga digunakan untuk menurunkan berat
badan pada pasien obesitas yang tidak berhasil dengan diet dan olahraga. Nama dagang metamfetamin adalah Desoxyn, namun sayangnya
banyak disalahgunakan sebagai narkotika. Obat ini berbentuk kristal yang dapat
dihisap melalui pipa.
Secara detailnya senyawa metamfetamin
adalah anggota golongan amfetamin yang gugus aminonya (S) – amfetamin mengandung
substituen metil. Metamfetamin berperan sebagai neurotoksin, obat
psikotropika, stimulan sistem saraf pusat, xenobiotik, dan kontaminan
lingkungan. Metamfetamin merupakan anggota amfetamin dan amina sekunder.
Metamfetamin secara fungsional berkaitan dengan (S) - amfetamin . Metamfetamin merupakan basa konjugat dari metamfetamin(1+).
Amfetamin, ditemukan sebelum metamfetamin, pertama kali disintesis
pada tahun 1887 di Jerman oleh ahli kimia Rumania yang bernama Lazar
Edeleanu yang menamainya fenilisopropilalamina. Tidak lama kemudian,
metamfetamin disintesis dari efedrina pada tahun 1893 oleh kimiawan Nagai
Nagayoshi dari Jepang. Tiga dekade kemudian, pada tahun 1919, metamfetamina
hidroklorida disintesis oleh farmakologi Akira Ogata melalui reduksi efedrina
menggunkana fosfor merah dan iodin.
Karena meth disinyalir dapat merugikan kesehatan masyarakat
luas maka obat ini dibatasi secara hukum dalam penggunaannya. Pembatasan hukum
terhadap penggunaan metamfetamina di
seluruh negara mendorong munculnya jalur produksi ilegal. Pada dekade 1960-an
hingga 1980-an, metamfetamina yang diproduksi secara ilegal mulai dikenal
dengan nama crystal meth. Zat ini kemudian menyebar ke Inggris dan
negara-negara Eropa lainnya. Pada era 1980-an, penggunaannya semakin meningkat,
terutama di kalangan masyarakat sipil, dengan cara pemakaian yang bervariasi
seperti dihirup, ditelan, atau disuntikkan untuk mendapatkan efek yang lebih
cepat dan intens.
Sekarang kita pahami begaimana cara kerja metamfetamin dalam tubuh
manusia. Metamfetamin
bekerja dengan cara memengaruhi zat kimia di otak dan sistem saraf yang
mengatur perilaku hiperaktif. Cara kerja ini akan membantu penderita ADHD lebih
fokus, mudah berkonsentrasi, dan memiliki perilaku yang lebih terkendali. Amfetamin bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat; hal ini
dilakukan dengan mendorong pelepasan neurotransmiter penting, pembawa pesan
kimiawi seperti dopamin. Hal ini memiliki efek merangsang area otak yang
terkait dengan kewaspadaan dan kerja jantung, sehingga tekanan darah dan detak
jantung meningkat. Amfetamin meredakan kelelahan dan membuat pengguna merasa
lebih kuat, euforia, dan lebih waspada
Karakteristik dari senyawa metamfetamin dapat kita lihat pada tabel di
bawah ini.
|
Golongan |
Obat resep |
|
Kategori |
Stimulan sistem saraf pusat (central nervous
system/CNS) |
|
Manfaat |
Mengatasi ADHD dan obesitas |
|
Dikonsumsi oleh |
Dewasa dan anak-anak usia di atas 6 tahun |
|
Metamfetamin untuk ibu hamil |
Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya
efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu
hamil. |
|
Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat
yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. |
|
|
Metamfetamin untuk ibu menyusui |
Metamfetamin dapat terserap ke dalam ASI sehingga
tidak boleh digunakan selama menyusui. |
|
Bentuk obat |
Tablet |
Menurut laporan akhir Survei Pengembangan Narkoba Nasional 201. Di
Indonesia, data pengguna aktif metamfetamin adalah 760.783 (BNN, 2015).
Pengguna sabu terbanyak berasal dari golongan rumah tangga (189.799 orang),
golongan pelajar (151.535 orang), dan pekerja (19.799 orang) (Todeschini et
al., 2015). Penyalahgunaan metamfetamin menyeret total 55.619 tersangka dalam
jangka waktu 5 tahun. Pecandu narkoba di Indonesia kebanyakan adalah laki-laki
dan perempuan dan mengantongi ijazah sekolah menengah atas (SMA). Anehnya,
kebanyakan orang yang menggunakan obat-obatan terlarang berusia di atas 29
tahun (Nurlaelah et al., 2019).
Kandungan obat di dalam tubuh bisa dikendalikan oleh cairan tubuh
contohnya adalah urin, keringat, air liur, dan darah. Selain itu rambut juga
dapat menjadi salah satu opsi untuk menganalisis kandungan atau senyawa obat
dalam tubuh. Rambut juga dapat digunakan dalam beberapa kasus kejahatan untuk
menentukan kesesuaian deoxyribonucleic acid (DNA). Keuntungan
menggunakan sampel rambut dibandingkan cairan tubuh seperti urin atau darah
untuk analisis kandungan atau senyawa ini adalah sampel rambut. Dimana sampel
rambut lebih informatif tentang kandungan suatu obat dengan jangka waktu minggu
hingga bulan dibandingkan dengan dua cairan tubuh tadi yang hanya terdeteksi
beberapa hari atau jam. Untuk membuktikan seseorang menggunakan narkoba
(pengguna), diambil sampel berupa sampel cairan tubuh (urin, darah, keringat,
air liur) atau non-cairan tubuh (rambut). Terdeteksinya data dari hasil
analisis sampel individu akan menjadi langkah identifikasi dalam menentukan
pengguna narkoba. (Obat & Indonesia, 2010)
Sebagian besar obat-obatan terlarang seperti kokain dan heroin
berbahan dasar tumbuhan, dan dapat dicegat di perbatasan negara, tetapi
metamfetamin adalah obat sintetis. Salah satu alasan penyalahgunaan amfetamin
tersebar luas di negara-negara seperti AS adalah karena metamfetamin dapat
dengan mudah disintesis, tidak hanya di laboratorium, tetapi juga di taman
trailer, kamar motel, dan peternakan. Petunjuk penggunaan buku resep tersedia
dengan mudah di internet. Dua metode yang telah dijelaskan melibatkan reduksi
efedrin (yang juga tersedia dalam obat batuk bebas) dengan litium dalam amonia
cair, atau fosfor merah dan yodium sebagai agen pereduksi.
Dari semua penjelasan di atas mengenai senyawa metamfetamin, kita
dapat menyimpulkan bahwa penggunaan obat, apa pun jenisnya, harus selalu
mengikuti aturan pakai yang tepat serta berada dalam batas kewajaran.
Kehati-hatian dan kesadaran menjadi kunci utama, disertai dengan kebiasaan
untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis yang berwenang
sebelum mengonsumsi suatu obat. Dengan cara ini, kita dapat menghindari risiko
penyalahgunaan dan menjaga kesehatan diri serta lingkungan sekitar.
Sebagai penutup dari tulisan ini, penting bagi kita semua untuk
menyadari bahwa metamfetamin bukanlah obat yang dapat digunakan secara
sembarangan. Meskipun dalam dunia medis senyawa ini memiliki manfaat tertentu,
penyalahgunaannya dapat menimbulkan dampak yang sangat merusak, baik secara
fisik, mental, maupun sosial. Oleh karena itu, marilah kita bijak dalam
menyikapi penggunaan obat-obatan, selalu berkonsultasi dengan tenaga medis yang
berwenang, serta ikut berperan dalam menyebarkan edukasi tentang bahaya
penyalahgunaan zat psikotropika. Masa depan yang sehat dan berkualitas dimulai
dari kesadaran dan tanggung jawab kita bersama. Semoga kita diberikan kesehatan
lahir batin oleh Allah SWT tanpa penggunaan obat-obatan terlarang.(EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar