Kamis, 30 Januari 2025

Alexander The Great vs Diogenes

 


https://www.facebook.com/IKMnews/photos/a.1054410267915680/2528753697147989/

Kali ini, saya akan menuliskan kisah pertemuan antara Alexander The Great atau Alexander Agung dengan Diogenes. Alexander Agung adalah seorang raja, sementara Diogenes adalah orang dari kalangan rakyat biasa. Agar lebih mengenal siapa itu Alexander Agung dan Diogenes ada baiknya saya menceritakan terlebih dahulu asal-usul keduanya.

Menurut sumber yang saya dapatkan, Alexander Agung atau Aleksander III dari Macedonia yang hidup antara 21 Juli 356 SM-10-11 Juni 323 SM. Ia adalah putra Raja Philip II dari Macedonia. Alexander naik takhta sebagai raja pada 336 SM dan kemudian menaklukkan sebagian besar wilayah dunia yang dikenal pada masanya. Gelaran “Agung” setelah namanya menyatakan pengakuan baik atas kejeniusan militer maupun kecakapan diplomatis. Selain itu, Alexander memiliki reputasi sebagai penyebar budaya, bahasa, serta pemikir (filosofis) Yunani di sepanjang wilayah Asia Kecil, Mesir, Mesopotamia hingga India. Ia juga dianggap sebagai penggerak awal dimulainya era yang disebut sejarah dengan “Dunia Helenis” (Hellenistic World).”

Pada usia 14 tahun, Alexander diperkenalkan kepada filsuf Yunani, Aristoteles, yang disewa oleh ayahnya sebagai tutor pribadi. Calon penakluk dunia ini belajar di bawah bimbingan Aristoteles selama tiga tahun, dan keduanya tetap menjalin korespondensi meskipun Alexander kemudian disibukkan dengan kampanye militernya.

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa Alexander Agung tidak pernah kalah dalam upayanya memperluas wilayah kekuasaanya. Hal ini disebabkan oleh kejeniusannya dalam mengatur strategi peperangan, kepiawaiannya dalam diplomasi, serta pemahamannya yang mendalam tentang filsafat. Jika megacu pada pernyataan dari Plato (guru dari Aristoteles), seorang pemimpin ideal adalah mereka yang memiliki ilmu filsafat yang mumpuni atau seorang filsuf. Pernyataan ini sangat sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada Alexander Agung. Terbukti, dengan kebijaksanaan yang dimilikinya, Alexander Agung selalu dihormati dan disegani oleh seluruh masyarakat di wilayah taklukannya. Ia bahkan mampu memperluas kekuasaannya mencakup sepertiga dunia pada masanya.

Sekarang, saya akan mengulas tentang asal usul Diogenes. Berdasarkan sumber yang saya peroleh,  Diogenes dari Sinope hidup sekitar 412-323 SM. Ia merupakan seorang filsuf mazhab Sinisme  dalam tradisi filsafat Yunani. Diogenes dikenal karena kebiasaannya berjalan sambil membawa lentera di hadapan warga Athena, seraya menyatakan bahwa ia sedang mencari orang yang benar-benar jujur. Diogenes berpendapat bahwa kebajikan tertinggi tercapai ketika manusia memiliki rasa puas terhadap dirinya sendiri serta mampu mengabaikan segala bentuk kesenangan duniawi.

Diogenes dari Sinope adalah figur yang paling terkenal dari Mazhab Sinisme, bahkan melebihi Antisthenes yang merupakan pendiri mazhab tersebut. Ia lebih dikenal  justru karena perilaku-perilakunya ketimbang pemikiran filsafatnya. Dengan demikian, ia telah mengembangkan suatu metode pendidikan baru yang disebut epigram moral (chreia), yaitu pengajaran melalui kisah-kisah dengan kehidupan nyata.

Konon, kemasyhuran nama Diogenes yang membuat Raja Alexander Agung penasaran, sehingga ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Diogenes sebelum berangkat memperluas wilayah taklukannya. Saat itu, Diogenes sedang berada dalam tong, ditemani seekor anjing yang setia. Dari pertemuan ini, terjadilah dialog yang sangat terkenal dalam sejarah dan filsafat hingga hari ini. Berikut adalah percakapan umum yang terjadi antara Alexander Agung dan Diogenes.

Alexander: “Aku adalah Alexander, raja Macedonia dan penguasa dunia. Aku datang untuk melihatmu, Diogenes.”

Diogenes: “Dan aku adalah Diogenes, anjing yang hidup di dalam tong, Aku tidak membutuhkanmu, Alexander.”

Alexander: “Aku ingin tahu, apa yang kamu inginkan dari aku?”

Diogenes: “Aku ingin kamu menjauhkan bayanganmu dari matahari. Kamu sedang menghalangi cahaya matahari yang menghangatkan tubuhku.”

Alexander: “Aku tidak pernah menemui orang seperti kamu sebelumnya. Kamu tidak takut padaku, tidak menghormatiku, dan tidak meminta apa-apa dariku?”

Diogenes: “Aku tidak membutuhkan apa-apa darimu, Alexander. Aku sudah memiliki apa yang aku butuhkan. Aku hidup sederhana dan bahagia dengan apa yang aku miliki.”

Alexander: “Aku sangat menghormatimu, Diogenes. Kamu adalah orang yang benar-benar bebas.”

Diogenes: ”Lalu, kemanakah kamu akan pergi, Alexander?”

Alexander: “Aku akan berangkat untuk memperluas wilayahku. Aku ingin menakklukan seluruh dunia menjadi daerah kekuasaanku.”

Diogenes: “Untuk apa kamu lakukan penyerangan-penyerangan itu? Dan ketika dunia sudah kamu taklukkan lantas kamu mau apa?”

Alexander: “Jika aku sudah menaklukkan seluruh dunia menjadi daerah kekuasaanku, aku akan senang dan bahagia serta dapat beristirahat dengan tenang.”

Diogenes: “Dunia itu sangat luas Alexander, tak mungkin kamu bisa menguasai seluruhnya. Bahkan nyawamu tidak cukup panjang untuk menaklukannya. Lagipula untuk menjadi senang dan bahagia tidak harus menaklukan dunia dulu, contohnya aku hanya diam di tong sampah sambil berjemur, aku sudah senang dan bahagia.”

Alexander: “Ketahuilah Diogenes, seandainya aku bukan Raja Alexander Agung, aku ingin menjadi Diogenes.”

Diogenes: “Seandainya aku bukan Diogenes, aku juga ingin tetap menjadi Diogenes.”

Diceritakan dalam percakapan antara Alexander Agung dan Diogenes tersebut, tidak ada pergerakan apa pun yang dilakukan oleh Diogenes. Bahkan ketika berbicara pun, Diogenes tidak memandang ke arah Alexander. Ia malah berbicara kepada anjingnya yang berada di sampingnya. Semua ucapan Diogenes sangat sinis dan apa adanya. Tidak ada kalimat penghormatan atau gestur tubuh yang menunjukkan rasa takut pada Alexander. Namun, Alexander, yang awalnya merasa jengkel dengan tingkah laku Diogenes, akhirnya menyadari siapa orang yang sedang dihadapinya. Hal ini disebabkan pula karena  Alexander mengetahui dengan jelas bahwa Diogenes adalah seorang pengikut ajaran Socrates.

Dalam catatan saya, ada banyak hikmah dari sosok Diogenes, meskipun ia tidak meninggalkan karya berbentuk buku atau sejenisnya. Namun ia, memberikan contoh-contoh perilaku yang konsisten dan  dibuktikan sendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Saya akan menuliskan beberapa pernyataan yang berasal dari Diogenes, yang hingga saat ini masih sering saya dengar dan relevan bagi kehidupan sehari-hari. Saya tidak mengetahui jika pernyataan ini di ucapkan pertama kalinya oleh Diogenes. Tetapi yang pasti, pernyataan-pernyataan ini tetap mengandung makna yang mendalam.

1.     Manusia adalah manusia paling cerdas dan paling tolol.

2.     Kita punya dua telinga dan satu mulut sehingga kita bisa mendengar lebih banyak dan bicara lebih sedikit.

3.     Tidak ada orang yang dapat tersakiti, kecuali oleh dirinya sendiri.

4.     Kalau kamu ingin selalu dalam kebenaran, milikilah sahabat yang baik atau musuh bebuyutan. Sahabat yang baik akan memperingatkanmu, dan musuh bebuyutan akan membongkar dirimu.

5.     Filosof dan Anjing: melakukan yang terbaik dan mendapat balasan paling sedikit.

6.     Bukannya aku gila, hanya saja isi kepalaku berbeda dengan isi kepalamu.

Saya akan menuliskan juga satu Quote dari Diogenes yang sedikit nyeleneh namun benar adanya, yaitu: “In a rich man’s house, there is no place to  spit but his face.”

Sekarang kita lihat satu Quote sekaligus amanat dari raja Alexander Agung: “Kuburkan aku dan jangan buat monumen apapun. Biarkan tanganku tampak menjulur keluar sehingga orang-orang tahu, ia yang menakklukkan dunia tidak membawa apapun saat mati.”

MasyaAllah, sungguh luar biasa pesan moral yang saya dapatkan dari kedua tokoh ini. Dimana yang satu Raja Alexander Agung penakluk sepertiga dunia dan yang satu rakyat biasa, keduanya memberikan pencerahan bagi manusia di muka bumi. Meskipun keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, memiliki kesamaan dalam hal prinsip hidup dan keyakinan yang teguh. Ini adalah salah satu hikmah besar yang bisa kita ambil dari kisah hidup mereka; bahwa kebijaksanaan dan keteguhan hati tidak bergantung pada status atau kedudukan, melainkan pada pemahaman dan penerapan nilai-nilai hidup yang luhur.(EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...