Selasa, 28 Januari 2025

FATAMORGANA

 



https://artikula.id/eenput/menjadi-manusia-sempurna-perspektif-sufi/

Saya akan menuliskan sebuah kisah yang terinspirasi dari beberapa peristiwa nyata dalm kehidupan sehari-hari. Para pembaca akan berkenalan dengan seorang tokoh yang bernama “Aku”. Silakan pahami dan nikmati cerita dalam tulisan ini dengan seksama. Selain itu, tokoh “Aku” ini tidak bertujuan untuk menyindir orang lain ataupun mempresentasikan “Aku” yang sebenarnya.

Aku berasal dari keluarga yang bisa dikatakan cukup mampu secara ekonomi. Ayahku seorang PNS di salah satu instansi kemiliteran, sedangkan ibuku seorang Guru PNS. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, dan kebetulan kedua kakakku adalah perempuan. Wajar sekali ketika kedua orang tuaku sangatlah memanjakanku dalam banyak hal.

Banyak orang yang mengatakan bahwa paras wajahku luar biasa tampan dan rupawan, terutama menurut pandangan kedua orang tuaku dan kakak-kakakku. Perasaanku pun sependapat dengan itu; aku merasa memiliki ketampanan dari ayahku, serta kelembutan dari ibuku. Selain itu, aku adalah anak yang pintar, cerdas, rajin beribadah, penuh kasih sayang, bertanggung jawab, berani, disiplin, suka menolong orang yang kesusahan, dan tidak pernah putus asa dalam segala hal. Menurutku, semua itu adalah kelebihanku sebagai manusia di muka bumi.

Seingatku, sejak TK, SD, SMP, SMA, hingga masuk perguruan tinggi, aku selalu bersekolah di  sekolah negeri dan selalu mendapatkan peringkat pertama serta menjadi bintang kelas. Kata ibuku, semua pencapaian itu adalah hal yang wajar karena sejak kecil aku rutin mengikuti bimbingan belajar, les mengaji, les renang, les piano, dan sering dibimbing ataupun dididik langsung oleh kedua orang tuaku tentang kecakapan-kecakapan hidup yang berguna untuk masa depanku. Contohnya, aku dilatih menjahit pakaian dan memasak bersama kedua kakakku oleh ibu, kemudian dilatih bela diri oleh ayah. Semua yang aku pelajari dapat kupahami dan kuapliaksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika aku berusia sekitar 12 tahun, aku mengikuti les tahfidz Qur’an dengan seorang ustaz yang didatangkan langsung ke rumah oleh ayahku. Hasilnya, aku berhasil menghafal beberapa juz Al-Qur’an, dan itu membuat kedua orang tuaku semakin sayang padaku. Tampan, pintar, cerdas, baik, penyayang, dan soleh, itulah kata-kata yang sering diucapkan oleh orang-orang yang mengenalku. Meskipun demikian, aku tak pernah merasa tinggi hati ataupun sombong kepada orang lain.

Singkat cerita, aku melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Bandung  dan mengambil jurusan Pendidikan Kimia. Dengan mudah, aku diterima di jurusan tersebut hanya dengan mengandalkan nilai rapot. Sebenarnya, aku kurang menyukai profesi guru, tetapi nasihat ibuku menjadi pertimbanganku. Aku tidak mau disebut sebagai anak yang tidak patuh kepada kedua orang tua.

Butuh waktu tiga setengah tahun menyelesaikan pendidikan di PTN tersebut, dan aku memutuskan untuk mengikuti seleksi PNS Guru Kimia. Kata ayah, ibu, dan kedua kakakku pasti aku pasti bisa lulus seleksi PNS dalam satu kali percobaan. Ternyata benar dugaan mereka, aku dinyatakan lulus menjadi CPNS Guru Kimia setelah mengalahkan ratusan pelamar yang bersaing memperebutkan kuota untuk tiga orang Guru Kimia. Alhamdulillah,  aku hanya butuh satu kali percobaan untuk lulus menjadi Guru PNS. Penempatanku pun tidaklah rumit, lokasi sekolah tempat tugasku masih berada di sekitar kota kecamatan.

Setelah kurang lebih lima tahun bekerja sebagai Guru PNS di sekolah menengah atas, kedua orang tuaku mulai memintaku untuk segera berumahtangga. mengingat usiaku sudah 27 tahun. Mencari seorang gadis idaman, tentu bukan hal sulit bagiku. Aku memliki banyak kenalan gadis yang  bisa aku pilih sesuai keinginanku. Akhirnya, aku memilih gadis impianku, seorang pengusaha butik yang dulu merupakan teman sekelasku sewaktu di SMA. Ia cantik, pintar, ramah, solehah, dan anak orang kaya.

Kami dikarunia dua orang anak perempuan yang lucu-lucu. Karena istriku adalah pemilik butik, ia memiliki fleksibilitas untuk mengasuh dan mendidik anak-anak kami dengan baik. Sementara, aku melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2, dan mengambil jurusan Manajemen Pendidikan. Menurut kedua orang tuaku, ilmu tersebut dapat menjadi bekal untuk kelak menjadi seorang pimpinan sekolah (kepala sekolah). Qodarullah, aku mengikuti seleksi Calon Kepala Sekolah (Cakep) dan hasilnya, aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik dari seluruh Cakep yang ada di provinsi Jawa Barat.

Sebagai kepala sekolah yang baru, aku ditempatkan di sekolah yang agak kecil dan penduduknya masih sedikit, sehingga berdampak pada jumlah siswa yang masuk ke sekolah. Namun, aku tetap bersyukur karena dalam kurun waktu yang tidak lama, aku mampu menjadi seorang kepala sekolah, sementara orang lain butuh waktu yang cukup lama. Kondisi bangunan sekolahnya perlu diperbaiki, antusiasme belajar siswa juga kurang, banyak siswa yang kesiangan,  beberapa guru bersikap acuh tak acuh terhadap masalah siswa, serta hubungan dengan masyarakat sekitar pun kurang kondusif. Mungkin inilah tantangan bagiku selaku kepala sekolah yang baru.

Dengan beberapa pendekatan ilmu serta pengalaman yang aku dapatkan, selama menjadi guru, dan tentunya aku memohon doa restu kepada kedua orang tua agar dimudahkan dalam menjalankan tugas ini, aku melaksanakan ibadah haji untuk yang kedua kalinya bersama istri. Hal tersebut menjadi peluang untuk  berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar aku dapat menjalankan tugas dan fungsiku dengan sebaik-baiknya. Sepertinya, semua doa-doaku dikabulkan Tuhan. Sepulangnya dari tanah suci, kondisi sekolahku menjadi lebih baik. Ada bantuan rehab kelas sebanyak lima ruangan, para siswa seakan menjadi takut dan segan padaku begitu pula yang terjadi dengan para guru, semuanya tunduk dan patuh pada kata-kataku.

Suatu hari, aku sedang berada di ruangan sendirian, tiba-tiba dadaku sesak dan rasanya engap. Nyaris aku tak bisa meminta pertolongan pada orang-orang di sekitarku. Aku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Pikiranku melayang ke negeri yang jauh di sana. Terbayang kedua orang tuaku, kakak-kakakku, istriku tercinta, kedua anak kebanggaanku dan kursi yang tadi aku duduki.

Aku terbangun dan melihat ruangan yang gelap. Terdengar ada suara yang bertanya padaku. “Mengapa kamu bangun?” Aku balik bertanya, “Mengapa ruanganku gelap? Aku tidak bisa melihat apapun!” ada suara tawa yang aku dengar. “Ini bukan ruanganmu, wahai manusia!, ini alam kubur, dan kamu sudah mati!” jawab suara itu. Aku pun merinding ketakutan, namun aku berusaha tidak memperlihatkannya. Aku mencoba menguasai diri dan bertanya lagi. “Apakah benar aku sudah mati? Kalau begitu bawa aku menghadap kepada Tuhan, agar aku dapat memohon dan berdoa untuk menunda dulu kematianku!”

Aku dibawa ke suatu ruangan yang megah dan sangat indah. Kulihat ada suatu cahaya yang duduk di atas singgasana. Kemudian aku bertanya pada cahaya itu, “Apakah Engkau adalah Tuhanku, yang telah mematikan aku?”

“Ya, Aku Tuhan Penguasa Alam Semesta, Mengapa kamu ingin berjumpa dengan-Ku sebelum tiba saatnya?” jawab cahaya yang sangat menyilaukan mataku. “Tuhanku, aku memohon pada-Mu, agar menunda kematianku, karena masih ada banyak urusanku yang belum selesai di dunia!” pintaku sambil bersimpuh.

“Mengapa kamu sangat percaya diri jika permintaanmu akan di kabulkan?” pertanyaan pun dilontarkan kembali. “Aku sangat percaya sekali, bahwa Engkau Tuhanku, Engkau akan mengabulkan semua permohonan dan doa-doaku seperti halnya sewaktu di dunia! Kemungkinan aku adalah kekasih-Mu wahai Tuhanku!” jawabku kembali.

Kemudian, cahaya itu pergi meninggalkanku seorang diri, namun dengan suara yang sangat jelas ditelingaku, terdengar kata-kata, “Kau bukan kekasih-Ku, kau tidak spesial bagiku, karena kau bukan manusia pilihanku dan bukan manusia suci!”

Aku termangu seorang diri, memikirkan apa jawaban Tuhan yang terakhir. Ketika itu, seorang laki-laki yang tidak aku kenali menghampiri tempat dudukku.  Dia berbicara halus dan sopan, “Wahai sang aku lebih baik kamu ikut denganku ke surga dan menunggu orang yang menciptakanmu!”

Mendengar hal itu, aku terperanjat kaget, dalam hatiku, aku bertanya, “Bukankan aku diciptakan oleh Tuhan yang berbentuk cahaya tadi? Mana mungkin aku diciptakan oleh manusia lagi? Mungkin orang ini gila.” Laki-laki tersebut tersenyum simpul, seakan tahu apa yang aku pikirkan. “Dengarkanlah, wahai sang Aku, kamu tidaklah nyata. Semua keluargamu juga tidak nyata, termasuk anak istrimu pun adalah sebuah ilusi.”

            “Mengapa aku tak nyata? Aku hidup di dunia, bersama keluargaku, berjuang, berusaha, berdoa, dan bekerja. Apakah semuanya itu palsu? Dan kemanakah semua amal ibadahku sewaktu di dunia?” Aku semakin heran dan bingung. Kemudian, lelaki itupun berbicara lagi, “Daripada kamu berdebat denganku, lebih baik kamu nikmati saja ilusi ini, sampai tiba saatnya orang yang telah membuatmu ada, tapi bukan orang tuamu ataupun para leluhurmu! Serta ingatlah, semua amal ibadahmu adalah untuk dirimu sendiri!”

            Terasa peluhku membanjiri seluruh tubuhku, dan aku mencoba bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang telah membuatku ada, atau yang telah menciptakanku?”

Yang telah menciptakanmu adalah EAS. Dialah yang membuatmu ada dengan segenap sifat dan karakter yang utuh, sempurna sebagai manusia di muka bumi.”

            Sebelum aku berbicara lagi, lelaki itupun berkata sambil mendekatiku, “Kamu bukan kekasih Tuhan, karena kamu tidak diuji oleh Tuhan. Kamu hanya sosok ilusi dalam fiksi, dan cahaya tadi yang kamu temui bukan Tuhan, melainkan persepsimu sebagai Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan tidak bisa kamu jangkau dan kamu raih berbekal sebuah ilusi.”

“Bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi?” pintaku pada lelaki itu yang hendak beranjak dariku. “Silakan saja, mungpung masih ada waktu.” jawabnya tegas sambil menatap mataku. “Dimanakah sekarang orang yang telah menciptakanku itu?”

            Orang yang telah menciptakanmu itu adalah manusia nyata, yang kini masih hidup di dunia. Dia menciptakan sosok ideal sepertimu, yang sejatinya tidak pernah nyata adanya. Dia masih menerima berbagai macam ujian dan cobaan hidup dari Tuhan YME, untuk membuktikan ketaatan dan kepatuhannya. Dia menciptakanmu bertujuan untuk menghibur diri dan orang banyak, dikala duka sedang melanda hati. Namun, ketika saatnya tiba, dia akan datang ke sini, dan sosok “aku” akan masuk ke dalam imajinasinya, serta sirna seperti fatamorgana di padang pasir. Dia yang akan menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan dirimu. (EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...