https://artikula.id/eenput/menjadi-manusia-sempurna-perspektif-sufi/
Saya
akan menuliskan sebuah kisah yang terinspirasi dari beberapa peristiwa nyata
dalm kehidupan sehari-hari. Para pembaca akan berkenalan dengan seorang tokoh yang
bernama “Aku”. Silakan pahami dan nikmati cerita dalam tulisan ini dengan seksama.
Selain itu, tokoh “Aku” ini tidak bertujuan untuk menyindir orang lain ataupun mempresentasikan
“Aku” yang sebenarnya.
Aku berasal
dari keluarga yang bisa dikatakan cukup mampu secara ekonomi. Ayahku seorang
PNS di salah satu instansi kemiliteran, sedangkan ibuku seorang Guru PNS. Aku adalah
anak bungsu dari tiga bersaudara, dan kebetulan kedua kakakku adalah perempuan.
Wajar sekali ketika kedua orang tuaku sangatlah memanjakanku dalam banyak hal.
Banyak
orang yang mengatakan bahwa paras wajahku luar biasa tampan dan rupawan, terutama
menurut pandangan kedua orang tuaku dan kakak-kakakku. Perasaanku pun
sependapat dengan itu; aku merasa memiliki ketampanan dari ayahku, serta
kelembutan dari ibuku. Selain itu, aku adalah anak yang pintar, cerdas, rajin
beribadah, penuh kasih sayang, bertanggung jawab, berani, disiplin, suka menolong orang yang
kesusahan, dan tidak pernah putus asa dalam segala hal. Menurutku, semua itu
adalah kelebihanku sebagai manusia di muka bumi.
Seingatku,
sejak TK, SD, SMP, SMA, hingga masuk perguruan tinggi, aku selalu bersekolah di
sekolah negeri dan selalu mendapatkan
peringkat pertama serta menjadi bintang kelas. Kata ibuku, semua pencapaian itu
adalah hal yang wajar karena sejak kecil aku rutin mengikuti bimbingan belajar,
les mengaji, les renang, les piano, dan sering dibimbing ataupun dididik
langsung oleh kedua orang tuaku tentang kecakapan-kecakapan hidup yang berguna untuk
masa depanku. Contohnya, aku dilatih menjahit pakaian dan memasak bersama kedua
kakakku oleh ibu, kemudian dilatih bela diri oleh ayah. Semua yang aku pelajari
dapat kupahami dan kuapliaksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika
aku berusia sekitar 12 tahun, aku mengikuti les tahfidz Qur’an dengan seorang
ustaz yang didatangkan langsung ke rumah oleh ayahku. Hasilnya, aku berhasil
menghafal beberapa juz Al-Qur’an, dan itu membuat kedua orang tuaku semakin
sayang padaku. Tampan, pintar, cerdas, baik, penyayang, dan soleh, itulah kata-kata
yang sering diucapkan oleh orang-orang yang mengenalku. Meskipun demikian, aku tak
pernah merasa tinggi hati ataupun sombong kepada orang lain.
Singkat
cerita, aku melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi negeri (PTN)
di Bandung dan mengambil jurusan
Pendidikan Kimia. Dengan mudah, aku diterima di jurusan tersebut hanya dengan mengandalkan
nilai rapot. Sebenarnya, aku kurang menyukai profesi guru, tetapi nasihat ibuku
menjadi pertimbanganku. Aku tidak mau disebut sebagai anak yang tidak patuh
kepada kedua orang tua.
Butuh
waktu tiga setengah tahun menyelesaikan pendidikan di PTN tersebut, dan aku memutuskan
untuk mengikuti seleksi PNS Guru Kimia. Kata ayah, ibu, dan kedua kakakku pasti
aku pasti bisa lulus seleksi PNS dalam satu kali percobaan. Ternyata benar dugaan
mereka, aku dinyatakan lulus menjadi CPNS Guru Kimia setelah mengalahkan ratusan
pelamar yang bersaing memperebutkan kuota untuk tiga orang Guru Kimia. Alhamdulillah,
aku hanya butuh satu kali percobaan
untuk lulus menjadi Guru PNS. Penempatanku pun tidaklah rumit, lokasi sekolah tempat
tugasku masih berada di sekitar kota kecamatan.
Setelah
kurang lebih lima tahun bekerja sebagai Guru PNS di sekolah menengah atas,
kedua orang tuaku mulai memintaku untuk segera berumahtangga. mengingat usiaku
sudah 27 tahun. Mencari seorang gadis idaman, tentu bukan hal sulit bagiku. Aku
memliki banyak kenalan gadis yang bisa
aku pilih sesuai keinginanku. Akhirnya, aku memilih gadis impianku, seorang pengusaha
butik yang dulu merupakan teman sekelasku sewaktu di SMA. Ia cantik, pintar,
ramah, solehah, dan anak orang kaya.
Kami
dikarunia dua orang anak perempuan yang lucu-lucu. Karena istriku adalah pemilik
butik, ia memiliki fleksibilitas untuk mengasuh dan mendidik anak-anak kami
dengan baik. Sementara, aku melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2, dan
mengambil jurusan Manajemen Pendidikan. Menurut kedua orang tuaku, ilmu tersebut
dapat menjadi bekal untuk kelak menjadi seorang pimpinan sekolah (kepala
sekolah). Qodarullah, aku mengikuti seleksi Calon Kepala Sekolah (Cakep) dan
hasilnya, aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik dari seluruh Cakep yang ada di
provinsi Jawa Barat.
Sebagai
kepala sekolah yang baru, aku ditempatkan di sekolah yang agak kecil dan
penduduknya masih sedikit, sehingga berdampak pada jumlah siswa yang masuk ke sekolah.
Namun, aku tetap bersyukur karena dalam kurun waktu yang tidak lama, aku mampu
menjadi seorang kepala sekolah, sementara orang lain butuh waktu yang cukup
lama. Kondisi bangunan sekolahnya perlu diperbaiki, antusiasme belajar siswa
juga kurang, banyak siswa yang kesiangan, beberapa guru bersikap acuh tak acuh terhadap masalah
siswa, serta hubungan dengan masyarakat sekitar pun kurang kondusif. Mungkin inilah
tantangan bagiku selaku kepala sekolah yang baru.
Dengan
beberapa pendekatan ilmu serta pengalaman yang aku dapatkan, selama menjadi
guru, dan tentunya aku memohon doa restu kepada kedua orang tua agar
dimudahkan dalam menjalankan tugas ini, aku melaksanakan ibadah haji untuk yang
kedua kalinya bersama istri. Hal tersebut menjadi peluang untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar aku
dapat menjalankan tugas dan fungsiku dengan sebaik-baiknya. Sepertinya, semua
doa-doaku dikabulkan Tuhan. Sepulangnya dari tanah suci, kondisi sekolahku
menjadi lebih baik. Ada bantuan rehab kelas sebanyak lima ruangan, para siswa
seakan menjadi takut dan segan padaku begitu pula yang terjadi dengan para guru,
semuanya tunduk dan patuh pada kata-kataku.
Suatu
hari, aku sedang berada di ruangan sendirian, tiba-tiba dadaku sesak dan
rasanya engap. Nyaris aku tak bisa meminta pertolongan pada orang-orang di
sekitarku. Aku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Pikiranku melayang ke negeri
yang jauh di sana. Terbayang kedua orang tuaku, kakak-kakakku, istriku
tercinta, kedua anak kebanggaanku dan kursi yang tadi aku duduki.
Aku terbangun
dan melihat ruangan yang gelap. Terdengar ada suara yang bertanya padaku. “Mengapa
kamu bangun?” Aku balik bertanya, “Mengapa ruanganku gelap? Aku tidak bisa
melihat apapun!” ada suara tawa yang aku dengar. “Ini bukan ruanganmu, wahai
manusia!, ini alam kubur, dan kamu sudah mati!” jawab suara itu. Aku pun
merinding ketakutan, namun aku berusaha tidak memperlihatkannya. Aku mencoba
menguasai diri dan bertanya lagi. “Apakah benar aku sudah mati? Kalau begitu
bawa aku menghadap kepada Tuhan, agar aku dapat memohon dan berdoa untuk
menunda dulu kematianku!”
Aku dibawa
ke suatu ruangan yang megah dan sangat indah. Kulihat ada suatu cahaya yang duduk
di atas singgasana. Kemudian aku bertanya pada cahaya itu, “Apakah Engkau
adalah Tuhanku, yang telah mematikan aku?”
“Ya,
Aku Tuhan Penguasa Alam Semesta, Mengapa kamu ingin berjumpa dengan-Ku sebelum
tiba saatnya?” jawab cahaya yang sangat menyilaukan mataku. “Tuhanku, aku
memohon pada-Mu, agar menunda kematianku, karena masih ada banyak urusanku yang
belum selesai di dunia!” pintaku sambil bersimpuh.
“Mengapa
kamu sangat percaya diri jika permintaanmu akan di kabulkan?” pertanyaan pun
dilontarkan kembali. “Aku sangat percaya sekali, bahwa Engkau Tuhanku, Engkau akan
mengabulkan semua permohonan dan doa-doaku seperti halnya sewaktu di dunia! Kemungkinan
aku adalah kekasih-Mu wahai Tuhanku!” jawabku kembali.
Kemudian,
cahaya itu pergi meninggalkanku seorang diri, namun dengan suara yang sangat
jelas ditelingaku, terdengar kata-kata, “Kau bukan kekasih-Ku, kau tidak spesial
bagiku, karena kau bukan manusia pilihanku dan bukan manusia suci!”
Aku termangu
seorang diri, memikirkan apa jawaban Tuhan yang terakhir. Ketika itu, seorang
laki-laki yang tidak aku kenali menghampiri tempat dudukku. Dia berbicara halus dan sopan, “Wahai sang aku
lebih baik kamu ikut denganku ke surga dan menunggu orang yang menciptakanmu!”
Mendengar
hal itu, aku terperanjat kaget, dalam hatiku, aku bertanya, “Bukankan aku
diciptakan oleh Tuhan yang berbentuk cahaya tadi? Mana mungkin aku diciptakan
oleh manusia lagi? Mungkin orang ini gila.” Laki-laki tersebut tersenyum
simpul, seakan tahu apa yang aku pikirkan. “Dengarkanlah, wahai sang Aku, kamu
tidaklah nyata. Semua keluargamu juga tidak nyata, termasuk anak istrimu pun
adalah sebuah ilusi.”
“Mengapa aku tak nyata? Aku hidup di
dunia, bersama keluargaku, berjuang, berusaha, berdoa, dan bekerja. Apakah
semuanya itu palsu? Dan kemanakah semua amal ibadahku sewaktu di dunia?” Aku
semakin heran dan bingung. Kemudian, lelaki itupun berbicara lagi, “Daripada
kamu berdebat denganku, lebih baik kamu nikmati saja ilusi ini, sampai tiba
saatnya orang yang telah membuatmu ada, tapi bukan orang tuamu ataupun para
leluhurmu! Serta ingatlah, semua amal ibadahmu adalah untuk dirimu sendiri!”
Terasa peluhku membanjiri seluruh
tubuhku, dan aku mencoba bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang telah
membuatku ada, atau yang telah menciptakanku?”
Yang telah
menciptakanmu adalah EAS. Dialah yang membuatmu ada dengan segenap sifat dan
karakter yang utuh, sempurna sebagai manusia di muka bumi.”
Sebelum aku berbicara lagi, lelaki
itupun berkata sambil mendekatiku, “Kamu bukan kekasih Tuhan, karena kamu tidak
diuji oleh Tuhan. Kamu hanya sosok ilusi dalam fiksi, dan cahaya tadi yang kamu
temui bukan Tuhan, melainkan persepsimu sebagai Tuhan. Karena sesungguhnya
Tuhan tidak bisa kamu jangkau dan kamu raih berbekal sebuah ilusi.”
“Bolehkah aku
bertanya satu pertanyaan lagi?” pintaku pada lelaki itu yang hendak beranjak
dariku. “Silakan saja, mungpung masih ada waktu.” jawabnya tegas sambil menatap
mataku. “Dimanakah sekarang orang yang telah menciptakanku itu?”
Orang yang telah menciptakanmu itu
adalah manusia nyata, yang kini masih hidup di dunia. Dia menciptakan sosok
ideal sepertimu, yang sejatinya tidak pernah nyata adanya. Dia masih menerima
berbagai macam ujian dan cobaan hidup dari Tuhan YME, untuk membuktikan
ketaatan dan kepatuhannya. Dia menciptakanmu bertujuan untuk menghibur diri dan
orang banyak, dikala duka sedang melanda hati. Namun, ketika saatnya tiba, dia
akan datang ke sini, dan sosok “aku” akan masuk ke dalam imajinasinya, serta sirna
seperti fatamorgana di padang pasir. Dia yang akan menghadap kepada Tuhan Yang Maha
Esa, bukan dirimu. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar