Jika
mendengar kata mantan, saya selalu teringat dengan sebuah judul lagu
yang dahulu dipopulerkan oleh Giring Nidji. Judulnya adalah Akulah Sang
Mantan. Untuk sekadar mengingatkan, saya tuliskan sebagian lirik lagunya di
bawah ini.
Sang Mantan
Dulu aku kau puja
Dulu aku kau sayang
Dulu aku sang juara
Yang s’lalu engkau cinta
Kini roda telah berputar
Kini aku kau hina
Kini aku kau buang
Jauh dari hidupmu
Kini aku sengsara
Roda memang telah berputar
….
Menurut sumber yang saya temukan, kata "mantan" diperkenalkan
oleh Ahmad Bastari Suan di majalah Pembinaan Bahasa Indonesia tahun
1984. Kata "mantan" diperkenalkan sebagai pengganti kata
"bekas", yang dianggap kurang sopan untuk orang yang dihormati atau
pernah menduduki jabatan mulia.
Mari kita memahami beberapa arti kata
“Mantan”
1.
Liputan6.com,
Jakarta. Mantan adalah salah satu kata yang sering digunakan dalam bahasa
Indonesia. Banyak orang mengaitkan kata ini dengan makna "bekas
pacar" atau "bekas pasangan". Memang, tidak dapat dipungkiri
bahwa arti mantan dalam konteks ini sering digunakan dalam percakapan
sehari-hari. Namun, sebenarnya makna mantan lebih luas daripada sekadar itu.
2.
Secara
Bahasa, kata “mantan” bermakna seseorang atau sesuatu yang pernah memiliki
hubungan, kedudukan, atau situasi tertentu, namun telah berakhir atau tidak
lagi ada. Dalam konteks hubungan pribadi, mantan sering digunakan untuk
menyebut seseorang yang pernah menjadi pasangan romantis atau pacar di masa
lalu.
3.
Menurut
Wikipedia, kata "mantan" adalah istilah yang merujuk pada
sesuatu yang sebelumnya pernah ada, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.
4.
Menurut
Filsafat kata “mantan” tidak memiliki arti khusus, tetapi kata ini dapat digunakan untuk
menggambarkan seseorang yang pernah memiliki status tertentu, namun sekarang
sudah tidak lagi.
5.
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "mantan" berarti bekas atau
sesuatu yang telah berubah statusnya. Kata "mantan" bisa
digunakan untuk menyebut orang, jabatan, atau posisi yang pernah dimiliki
seseorang.
Merujuk pada beberapa definisi tersebut, saya memiliki arti tersendiri untuk
kata “mantan”. Mantan adalah segala sesuatu, baik itu seseorang, benda, fungsi
dan kedudukan, yang dulu pernah kita miliki, dan saat ini bukan lagi milik kita.
Namun, banyak orang yang membatasi pemaknaan dari kata “mantan” itu
sendiri. Artinya jadi semakin sempit, yaitu hanya berkaitan dengan hubungan asmara. Padahal dalam
kamus, mantan juga dapat merujuk pada sesuatu yang telah berubah atau berakhir,
seperti mantan pegawai, mantan presiden, atau mantan kepala sekolah. Dengan
demikian, pemahaman kita harus diperbarui bahwa makna “mantan” tidak hanya
terbatas pada bidang cinta, tetapi juga dapat mencakup berbagai aspek kehidupan
lainnya.
Mantan dapat berarti orang yang pernah memiliki hubungan khusus di masa
lalu, baik dalam pernikahan maupun pacarana, misalnya “Dia adalah mantan
pacarku yang sekarang telah menikah,” atau “Dia adalah mantan istriku.” Dua
kalimat ini menggambarkan bahwa kata mantan berhubungan dengan kisah asmara
sepasang kekasih atau suami istri.
Ada juga, mantan yang merujuk pada bekas jabatan atau posisi yang pernah
diemban oleh seseorang. Arti ini sering digunakan dalam dunia politik atau
organisasi. Contohnya, "Dia adalah mantan presiden yang memiliki pengaruh
besar dalam negara ini." atau “Saya adalah mantan wakasek di suatu sekolah
negeri.”
Selain itu, mantan juga dapat merujuk pada sesuatu yang telah berubah
atau tidak menyandang status sebelumnya. Misalnya, "Dia adalah mantan
pelaku kriminal yang sekarang telah menjadi anggota penegak hukum," atau
“Dia adalah mantan wanita penghibur”.
Sedangkan kata "bekas" merujuk pada sesuatu yang telah
digunakan atau dimiliki sebelumnya. Istilah ini lebih sering digunakan dalam
konteks barang atau benda. Misalnya, "mobil bekas" merujuk pada mobil
yang telah digunakan oleh orang lain sebelumnya. Istilah ini memiliki makna
yang lebih luas dan dapat mengacu pada segala jenis barang atau benda yang
memiliki sejarah pemakaian sebelumnya.
Ada satu istilah yang kita kenal untuk membedakan kata “mantan” dan “bekas” ini, yang istilah ameliorasi. Ameliorasi kata adalah proses
mengubah atau meningkatkan makna suatu kata dari bentuk yang kurang sopan atau
kurang terhormat menjadi lebih bermartabat. Salah satu contohnya adalah
ameliorasi kata "bekas" yang berubah menjadi "mantan". Kata
“mantan” adalah bentuk Ameliorasi dari kata “bekas.”
Dalam konteks tersebut, ameliorasi kata menjadi penting untuk menjaga
kesantunan dan penghargaan terhadap individu yang dipertimbangkan. Penggunaan
kata "mantan" memperlihatkan kelas dan kesopanan yang lebih tinggi,
menjadikannya pilihan yang lebih pantas. Dengan menggantikan kata
"bekas" dengan "mantan", kita menunjukkan hormat terhadap
orang atau sesuatu yang pernah memiliki peran penting atau dihormati. Dalam hal
ini, ameliorasi kata menjadi pola bahasa yang memperkuat nilai-nilai kesopanan
dan pentingnya penghormatan terhadap orang lain. Untuk mempertegas, kata “mantan”
menunjukan seseorang (manusia), sedangkan kata “bekas” menunjukan suatu benda.
Kesimpulannya, penggunaan kata "mantan" dan "bekas"
tergantung pada konteksnya. Kata "mantan" digunakan untuk
menggambarkan hubungan asmara yang telah berakhir, sementara kata
"bekas" lebih umum digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang telah
usai atau tidak digunakan lagi. Sebagai manusia yang mengetahui sopan santun
yang baik, kita harus bijak memilih situasi dan kondisi dalam menggunakan kata “mantan” atau kata
“bekass”. Sebab, apabila kita tidak dapat memilih konteks yang tepat, hal itu
akan menimbulkan perdebatan serta percekcokan yang tidak perlu terjadi.
Memang pada kenyataannya, setiap orang merasa risih apabila disebut
mantan. Mengapa demikian? Karena definisi kata “mantan” inilah yang banyak konotasinya.
Seringkali orang memahami makna kata “mantan” hanya sebatas hubungan asmara
yang sudah berakhir.
Hati terasa sakit dan merana apabila kita sudah dianggap sebagai mantan,
termasuk juga mantan dalam arti yang luas, seperti mantan pejabat, mantan
koruptor, mantan suami, dan mantan-mantan lainnya. Seakan dunia kiamat bila
kita sudah dicap sebagai mantan yang tidak bisa move on, sementara “lawan
mantan” tersebut sudah mempunyai kehidupan baru..
Dari pemikiran anak remaja, khususnya remaja akhir (usia anak SMA), sudah
pasti kata “mantan” mengarah pada satu kisah asmara yang berakhir pilu, dan itu
tidak dapat dipungkiri. Bagaimana dengan pemikiran gurunya? Mungkin pemikiran
guru yang moderat akan menafsirkan kata “mantan” dalam pemahaman yang lebih
umum dibandingkan dengan pemahaman para muridnya. Namun, untuk para guru muda, belum
tentu pemikirannya sudah seumum kami, para orang tua. Sebab ilmu dan pengalamanlah
yang akan membedakan konsep serta
pemahaman masing-masing tentang arti kata “mantan”.
Apa yang terjadi ketika kita harus bertemu dengan mantan? Menurut saya,
jawabannya adalah menghindari sikap yang mencari perhatian. Artinya, sebagai
mantan dalam konteks apapun, bersikaplah biasa saja, seolah tidak terjadi
apa-apa di masa lalu. Jika kita memperlihatkan sikap yang arogan atau merajuk,
hal itu justru memicu reaksi yang tidak diinginkan. Bersikaplah sewajarnya, apa
adanya, tetap ramah dan tersenyum, seakan tidak pernah terjadi pertentangan. Sikap
ini akan lebih baik untuk kesehatan diri kita, termasuk kesehatan mental
spiritual, serta memudahkan kita dalam menerima kenyataan yang telah terjadi.
Tulisan ini saya akhiri dengan kata bijak: “Pada suatu saat, kita akan kembali
menjadi orang asing bagi orang-orang tertentu, karena situasi dan kondisi yang
telah berubah.” Dunia ini fana dan sementara saja, tidak perlu terlalu
memikirkan hal-hal yang melekat pada diri kita. Sebab, pada akhirnya, kita akan
kembali ke haribaan Sang Khalik untuk mempertangungjawabkan segala perbuatan diri
sendiri. (EAS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar