Rabu, 08 Januari 2025

Guru Dan Teknologi AI

 


https://www.rri.co.id/iptek/290893/mengenal-kecerdasan-buatan-artificial-intelligence

Indonesia mengalami perkembangan teknologi yang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Sebagai contoh kemajuan teknologi di Indonesia adalah: teknologi informasi, teknologi pendidikan, teknologi keuangan, teknologi data besar dan kecerdasan buatan, kendaraan otonom, dan smart city. Perkembangan teknologi ini sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, seperti mempersingkat proses berbagi informasi, membuat pekerjaan lebih mudah, dan meningkatkan akses pembelajaran. Itu mungkin dampak positifnya, jangan lupa tentu ada dampak negatif yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi tersebut. Dampak negatif dari kemajuan suatu teknologi adalah: pelanggaran hak cipta, kejahatan siber, serta pengaruh negatif terhadap bersosialisasi.

Saat ini saya akan menyoroti teknologi kecerdasan buatan. Istilah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) muncul pertama kali pada 1956 dalam Konferensi Dartmouth. Namun, sebetulnya konsep kecerdasan buatan ini sudah ditanamkan jauh sebelum itu. Para ahli dari masa ke masa telah melakukan penelitian untuk terus mengembangkan kecerdasan buatan ini. Di antaranya Dr. Lukas selaku dosen di BINUS UNIVERSITY sekaligus ketua dari Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS), membahas secara singkat perjalanan perkembangan kecerdasan buatan dari tahun ke tahun dalam acara Guest Lecture Program Studi Magister Teknik Informatika (MTI) BINUS  GRADUATE PROGRAM.

Dari guest lecture yang disampaikan Dr. Lukas tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan AI terbagi menjadi empat bagian, yakni dimulai dari perkembangan teori, gelombang pertama yang menandai munculnya pemikiran untuk memberikan pengetahuan bagi mesin, gelombang kedua ketika mesin mulai mengolah data yang dimasukkan, serta gelombang ketiga saat internet telah ditemukan.

Menurut sumber Merdeka.com. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah teknologi  terbaru dan tercanggih yang digunakan untuk melengkapi sistem komputer dengan kemampuan membuat keputusan seperti manusia. Tujuan dari AI sendiri yaitu meniru kecerdasan manusia untuk melakukan beragam tugas yang kompleks seperti pengenalan pola, ucapan, ramalan, dan diagnosis medis. AI sendiri digunakan dalam aplikasi berbasis navigasi seperti Uber, asisten suara seperti Siri, layanan streaming video, perangkat IoT, dan di mesin pencari Google dan Bing. Di antara kecanggihan AI yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah search engine, aplikasi berbelanja online, Chat GPT, autocorrect, media sosial, mobile banking, dan aplikasi transportasi online.

Sebagai seorang guru, saya sangat bersyukur atas semua kemajuan teknologi tersebut. Karena teknologi itu dapat digunakan untuk membantu dalam proses belajar mengajar di kelas bersama para siswa. Akan tetapi, ada keresahan yang menyelimuti hati saya. Akankah fungsi seorang guru/pendidik akan terkalahkan sehingga profesi ini akan hilang suatu saat nanti? Dalam AI terdapat semua konsep dan materi dari semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran yang saya ampu yaitu kimia. Para siswa dapat dengan mudah bertanya pada AI tentang segalanya mulai dari materi ringan, contoh-contoh soal beserta jawabannya, dan lain sebagainya. Kalau ternyata demikian kehadiran seorang guru mungkin sudah tidak diharapkan lagi oleh para siswanya.

Selain para siswa, saya sebagai guru sering juga menggunakan teknologi buatan yang disebut AI ini. Saya jadikan alat sebagai referensi baru untuk mempermudah mencari ilmu dan pengetahuan baru yang sudah tersedia dalam AI. Karena saya tidak memungkiri ilmu-ilmu kimia yang saya punya, adalah ilmu-ilmu zaman dulu, yang mungkin hari ini sudah ada tambahan dan revisi dari ilmuwuan masa kini. Ilmu dan pengalaman baru biasanya diunggah di internet oleh seseorang/sekelompok orang untuk dijadikan pembanding terhadap ilmu lama. Seorang guru haruslah terus berusaha, untuk kreatif dan inovatif dalam mencari dan memahami hal baru, agar proses pembelajaran di kelas tidak membosankan dan tidak melulu membahas ilmu yang dikatakan itu-itu juga. Setelah mendapatkan referensi dari AI, saya mempunyai pencerahan ataupun gambaran tentang segala yang sudah mengalami pembaruan.

Kekuatan dari kecerdasan buatan ini, sangatlah berpotensi dalam menyita perhatian para siswa di sekolah manapun. Kelihatannya mereka lebih tertarik dengan bertanya pada AI daripada bertanya kepada gurunya, karena AI langsung menjawab tanpa banyak basa-basi, lengkap, serta tidak harus menunggu lama. Sementara guru, terkadang dalam menjawab pertanyaan siswa harus melihat terlebih dahulu kondisi dan situasi yang terjadi pada saat itu. Banyak guru yang mempertimbangkan akal budinya untuk tidak menjelaskan selengkap mungkin. Hal tersebut dilakukan agar siswa dapat lebih berpikir dan mencari tahu sendiri dengan cara mengeksplor pengetahuan secara langsung berdasarkan pengalamannya. Sedangkan AI tidak peduli siapa yang bertanya, siswa kelas berapa, kondisinya sedang bagaimana, pokoknya langsung dijawabnya. Mungkin itulah sedikit perbedaan jawaban yang diberikan oleh AI dan guru.

Saya sangat mengakui atas semua keterbatasan manusia sebagai guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada para siswa. Fitrah manusia seringkali dihinggapi oleh kondisi emosional dalam jiwa. Seiring usia bertambah, kondisi emosional seseorang akan mengalami perubahan, dan perubahannya ke arah penurunan kualitas berpikir. Entah bagi orang/guru lain, namun yang saya rasakan adalah seperti itu. Namun saya meyakini sepintar-pintarnya AI tidak akan melebihi kepintaran manusia. Sebagaimana diketahui bersama, AI ini diciptakan juga oleh manusia. Mengapa AI sepertinya mengetahui segala permasalahan di dunia ini? Karena dia menyalin dari ilmu-ilmu yang diunggah oleh manusia  ke Google. Dan AI diprogram untuk langsung mendeteksi di mana keberadaan materi/keilmuan yang muncul dalam pertanyaan  di layar kaca.

Sementara yang saya takuti selama ini bukan tersaingi oleh AI ataupun ditinggalkan oleh para siswa. Namun saya takut para siswa semakin dimanjakan segala sesuatunya, maka semakin tumpullah akal budinya. Kalau begitu, tidak ada gunanya untuk pergi ke sekolah. Sedangkan ketakutan yang kedua adalah para siswa menjadikan AI ini bukan suatu alat untuk mempermudah, namun malah menjadi tujuan yang ingin mereka capai. Dan ketakutan saya yang terakhir adalah para siswa menjadi tidak bisa memfungsikan hatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping beberapa ketakutan saya tersebut, ada juga kepercayaan diri bagi para guru/pendidik yang bisa dikatakan sebagai keunggulan dan kelebihan guru manusia. Pertama, guru dapat secara langsung mendidik bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan; kedua, guru dapat memberikan contoh secara langsung sebagai teladan terhadap hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan; ketiga, guru dapat mengevaluasi secara objektif maupun subjektif terhadap siswa; keempat,  guru dapat mendemonstrasikan secara langsung bagaimana praktikum dilakukan (mapel kimia dan mapel lainnya yang memerlukan praktikum); dan yang kelima, guru dapat menggunakan hati, intuisi, logika, harapan, maupun kebijaksanaan dalam memberikan pengajaran kepada para siswanya. Toh selama ini AI tidak bisa menjangkau ke ranah-ranah tersebut. Entah suatu saat nanti, apabila AI ini divisualisasikan sebagai robot-robot yang bergerak dan mengajar ke kelas. Mungkin butuh pemrograman yang lebih canggih lagi. Namun lucu sekali jikalau saat itu terjadi, guru manusia digantikan posisinya dengan guru robot.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya harapkan semua orang untuk berpikir secara bijak tentang hakikat mengapa kita harus terus belajar dalam mengeksplorasi pengetahuan dan pengalaman. Selalu berinovasi dan terus beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan teknologi. Dan seandainya kita bisa menjadi pelaku dari kemajuan teknologi tersebut, itu lebih baik daripada kita hanya sebagai pemakai kemajuan teknologi. (EAS).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...