https://www.rri.co.id/iptek/290893/mengenal-kecerdasan-buatan-artificial-intelligence
Indonesia
mengalami perkembangan teknologi yang pesat dalam beberapa dekade terakhir.
Sebagai contoh kemajuan teknologi di Indonesia adalah: teknologi informasi,
teknologi pendidikan, teknologi keuangan, teknologi data besar dan kecerdasan
buatan, kendaraan otonom, dan smart city. Perkembangan teknologi ini
sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, seperti mempersingkat proses
berbagi informasi, membuat pekerjaan lebih mudah, dan meningkatkan akses
pembelajaran. Itu mungkin dampak positifnya, jangan lupa tentu ada dampak negatif
yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi tersebut. Dampak negatif dari
kemajuan suatu teknologi adalah: pelanggaran hak cipta, kejahatan siber, serta
pengaruh negatif terhadap bersosialisasi.
Saat
ini saya akan menyoroti teknologi kecerdasan buatan. Istilah kecerdasan buatan
atau artificial intelligence (AI) muncul pertama kali pada
1956 dalam Konferensi Dartmouth. Namun, sebetulnya konsep kecerdasan buatan ini
sudah ditanamkan jauh sebelum itu. Para ahli dari masa ke masa telah melakukan
penelitian untuk terus mengembangkan kecerdasan buatan ini. Di antaranya Dr.
Lukas selaku dosen di BINUS UNIVERSITY sekaligus ketua dari Indonesia
Artificial Intelligence Society (IAIS), membahas secara singkat perjalanan
perkembangan kecerdasan buatan dari tahun ke tahun dalam acara Guest Lecture
Program Studi Magister Teknik Informatika (MTI) BINUS GRADUATE PROGRAM.
Dari guest
lecture yang disampaikan Dr. Lukas tersebut, dapat diambil kesimpulan
bahwa perkembangan AI terbagi menjadi empat bagian, yakni dimulai dari
perkembangan teori, gelombang pertama yang menandai munculnya pemikiran untuk
memberikan pengetahuan bagi mesin, gelombang kedua ketika mesin mulai mengolah
data yang dimasukkan, serta gelombang ketiga saat internet telah ditemukan.
Menurut
sumber Merdeka.com. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan
buatan adalah teknologi terbaru dan tercanggih yang digunakan untuk
melengkapi sistem komputer dengan kemampuan membuat keputusan seperti manusia.
Tujuan dari AI sendiri yaitu meniru kecerdasan manusia untuk melakukan beragam
tugas yang kompleks seperti pengenalan pola, ucapan, ramalan, dan diagnosis
medis. AI sendiri digunakan dalam aplikasi berbasis navigasi seperti Uber,
asisten suara seperti Siri, layanan streaming video, perangkat IoT, dan di
mesin pencari Google dan Bing. Di antara kecanggihan AI yang sering
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah search engine, aplikasi berbelanja
online, Chat GPT, autocorrect, media sosial, mobile banking, dan aplikasi
transportasi online.
Sebagai
seorang guru, saya sangat bersyukur atas semua kemajuan teknologi tersebut.
Karena teknologi itu dapat digunakan untuk membantu dalam proses belajar
mengajar di kelas bersama para siswa. Akan tetapi, ada keresahan yang
menyelimuti hati saya. Akankah fungsi seorang guru/pendidik akan terkalahkan
sehingga profesi ini akan hilang suatu saat nanti? Dalam AI terdapat semua
konsep dan materi dari semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran yang saya
ampu yaitu kimia. Para siswa dapat dengan mudah bertanya pada AI tentang
segalanya mulai dari materi ringan, contoh-contoh soal beserta jawabannya, dan
lain sebagainya. Kalau ternyata demikian kehadiran seorang guru mungkin sudah
tidak diharapkan lagi oleh para siswanya.
Selain
para siswa, saya sebagai guru sering juga menggunakan teknologi buatan yang disebut
AI ini. Saya jadikan alat sebagai referensi baru untuk mempermudah mencari ilmu
dan pengetahuan baru yang sudah tersedia dalam AI. Karena saya tidak memungkiri
ilmu-ilmu kimia yang saya punya, adalah ilmu-ilmu zaman dulu, yang mungkin hari
ini sudah ada tambahan dan revisi dari ilmuwuan masa kini. Ilmu dan pengalaman
baru biasanya diunggah di internet oleh seseorang/sekelompok orang untuk
dijadikan pembanding terhadap ilmu lama. Seorang guru haruslah terus berusaha,
untuk kreatif dan inovatif dalam mencari dan memahami hal baru, agar proses
pembelajaran di kelas tidak membosankan dan tidak melulu membahas ilmu yang dikatakan
itu-itu juga. Setelah mendapatkan referensi dari AI, saya mempunyai pencerahan
ataupun gambaran tentang segala yang sudah mengalami pembaruan.
Kekuatan
dari kecerdasan buatan ini, sangatlah berpotensi dalam menyita perhatian para
siswa di sekolah manapun. Kelihatannya mereka lebih tertarik dengan bertanya pada
AI daripada bertanya kepada gurunya, karena AI langsung menjawab tanpa banyak
basa-basi, lengkap, serta tidak harus menunggu lama. Sementara guru, terkadang dalam
menjawab pertanyaan siswa harus melihat terlebih dahulu kondisi dan situasi
yang terjadi pada saat itu. Banyak guru yang mempertimbangkan akal budinya
untuk tidak menjelaskan selengkap mungkin. Hal tersebut dilakukan agar siswa
dapat lebih berpikir dan mencari tahu sendiri dengan cara mengeksplor pengetahuan
secara langsung berdasarkan pengalamannya. Sedangkan AI tidak peduli siapa yang
bertanya, siswa kelas berapa, kondisinya sedang bagaimana, pokoknya langsung dijawabnya.
Mungkin itulah sedikit perbedaan jawaban yang diberikan oleh AI dan guru.
Saya
sangat mengakui atas semua keterbatasan manusia sebagai guru dalam mentransfer
ilmu pengetahuan kepada para siswa. Fitrah manusia seringkali dihinggapi oleh
kondisi emosional dalam jiwa. Seiring usia bertambah, kondisi emosional
seseorang akan mengalami perubahan, dan perubahannya ke arah penurunan kualitas
berpikir. Entah bagi orang/guru lain, namun yang saya rasakan adalah seperti
itu. Namun saya meyakini sepintar-pintarnya AI tidak akan melebihi kepintaran
manusia. Sebagaimana diketahui bersama, AI ini diciptakan juga oleh manusia. Mengapa
AI sepertinya mengetahui segala permasalahan di dunia ini? Karena dia menyalin dari
ilmu-ilmu yang diunggah oleh manusia ke Google.
Dan AI diprogram untuk langsung mendeteksi di mana keberadaan materi/keilmuan
yang muncul dalam pertanyaan di layar
kaca.
Sementara
yang saya takuti selama ini bukan tersaingi oleh AI ataupun ditinggalkan oleh
para siswa. Namun saya takut para siswa semakin dimanjakan segala sesuatunya,
maka semakin tumpullah akal budinya. Kalau begitu, tidak ada gunanya untuk
pergi ke sekolah. Sedangkan ketakutan yang kedua adalah para siswa menjadikan
AI ini bukan suatu alat untuk mempermudah, namun malah menjadi tujuan yang
ingin mereka capai. Dan ketakutan saya yang terakhir adalah para siswa menjadi
tidak bisa memfungsikan hatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Di samping
beberapa ketakutan saya tersebut, ada juga kepercayaan diri bagi para
guru/pendidik yang bisa dikatakan sebagai keunggulan dan kelebihan guru
manusia. Pertama, guru dapat secara langsung mendidik bukan hanya mentransfer
ilmu pengetahuan; kedua, guru dapat memberikan contoh secara langsung sebagai
teladan terhadap hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan; ketiga, guru dapat
mengevaluasi secara objektif maupun subjektif terhadap siswa; keempat, guru dapat mendemonstrasikan secara langsung
bagaimana praktikum dilakukan (mapel kimia dan mapel lainnya yang memerlukan
praktikum); dan yang kelima, guru dapat menggunakan hati, intuisi, logika, harapan,
maupun kebijaksanaan dalam memberikan pengajaran kepada para siswanya. Toh selama
ini AI tidak bisa menjangkau ke ranah-ranah tersebut. Entah suatu saat nanti,
apabila AI ini divisualisasikan sebagai robot-robot yang bergerak dan mengajar ke
kelas. Mungkin butuh pemrograman yang lebih canggih lagi. Namun lucu sekali jikalau
saat itu terjadi, guru manusia digantikan posisinya dengan guru robot.
Untuk
mengakhiri tulisan ini, saya harapkan semua orang untuk berpikir secara bijak tentang
hakikat mengapa kita harus terus belajar dalam mengeksplorasi pengetahuan dan
pengalaman. Selalu berinovasi dan terus beradaptasi terhadap perubahan dan
kemajuan teknologi. Dan seandainya kita bisa menjadi pelaku dari kemajuan
teknologi tersebut, itu lebih baik daripada kita hanya sebagai pemakai kemajuan
teknologi. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar