Selasa, 14 Januari 2025

Masa Remaja Yang Paling Sulit

 



Dokumen Pribadi

Sebagai salah seorang pendidik di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri, saya harus paham betul karakteristik para murid yang sangat beraneka ragam. Tentu dibutuhkan bekal ilmu untuk menghadapi dan mencari solusi bagaimana saya harus melaksanakan semua tupoksi sebagai pendidik. Kita sering mendengar bahwa masa-masa SMA adalah masa-masa pemberontakan anak terhadap apapun yang tidak diinginkannya. Apakah betul demikian?

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tentang masa remaja adalah fase kehidupan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dari usia 10 hingga 19 tahun. Di masa ini penting untuk meletakkan dasar kesehatan yang baik. Perkembangan remaja pada usia ini termasuk pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial yang pesat. Hal ini memengaruhi cara mereka merasakan, berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka.

Pada umumnya, siswa SMA berada di masa remaja akhir, yaitu usia 15–18 tahun. Di masa ini, anak-anak mengalami perubahan psikologis dan fisik yang signifikan. Beberapa perkembangan psikologis yang terjadi pada remaja adalah mencari identitas diri, memikirkan tujuan hidupnya, merasa lebih mandiri, mengalami emosi yang naik turun, belajar memaafkan, merasa nyaman dengan lawan jenis, tertarik menjalin hubungan romantis, suasana hati yang berubah-ubah, lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman, mulai berpikir kritis, merasa sudah mampu menjadi orang dewasa, dan lebih memperhatikan penampilan.

Menurut Danmanik (2023), masa remaja merupakan fase perkembangan yang sangat kritis dalam rentang kehidupan manusia. Pada tahap ini, individu mengalami perubahan signifikan dalam berbagai aspek fisik, kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Mereka berada pada fase remaja akhir yang penuh dengan dinamika dan tantangan yang kompleks. Perkembangan peserta didik SMA bersifat multidimensi dan saling terkait. Secara fisik, mereka mengalami perubahan hormonal yang signifikan, seperti pertumbuhan pesat tinggi badan, perubahan berat badan, dan perkembangan karakteristik seksual sekunder. Perubahan ini seringkali menyebabkan kekhawatiran tentang penampilan fisik dan citra tubuh.

Pada fase ini, sangat dibutuhkan dukungan, bantuan, dan pemahaman yang baik dari semua orang dewasa, termasuk guru dan orang tua. Karena untuk menjalani semua proses pada fase ini anak sangat rentan tergelincir pada hal-hal yang tidak diinginkan sehingga muncullah yang dinamakan kenakalan remaja. Dukungan dari orang tua sebagai guru utama dan pertama seorang remaja sangatlah mewarnai cara dari anak tersebut dalam menjalani hal terkait pada fase hidupnya.

Tidak dapat dipungkiri, pada zaman yang serba digital seperti sekarang ikatan batin antara remaja dengan kedua orang tuanya sangat berjarak. Cukup dengan pesan singkat, atau secara online saja untuk menjalankan sebuah komunikasi. Sulit sekali remaja mencari waktu untuk mencurahkan semua isi hatinya kepada kedua orang tua, karena merasa kedua belah pihak tak punya waktu atau sibuk dengan urusannya masing-masing. Belum lagi masalah remaja yang broken home akan menambah pelik kehidupan yang dilaluinya.

Dengan kurangnya hubungan atau ikatan batin dengan kedua orang tua, banyak sekali remaja yang mengalami konflik terkait penentuan minat, nilai-nilai dan tujuan hidup. Sehingga remaja tersebut akan merasa sendiri, kesepian, tertekan, kebingungan dalam mencari arah, dan akhirnya stres yang melanda.

Ada juga kasus yang berlainan seperti hubungan dengan kedua orang tua sangat baik, bahkan orang tua sangat terbuka dan membimbing setiap langkah yang akan diambil oleh anaknya. Namun, karena merasa semua masa depan anak adalah tanggung jawab sepenuhnya dari orang tua, maka orang tua dengan seenaknya mendikte dan memaksakan setiap keputusan untuk sang anak. Hal ini pula dapat memicu konflik pada jiwa dan psikologi seorang anak. Karena anak merasa tidak bebas dengan apa yang dia inginkan dan apa yang orang tua inginkan. Akhirnya timbul ketidakpercayaan pada diri sendiri untuk memutuskan segala sesuatunya. Andaikata bisa mengiyakan apa kata orang tua, namun ada jiwa yang terluka dan hendak memberontak terhadap apa yang terjadi.

Selain itu, remaja SMA juga menghadapi tantangan dalam membina hubungan interpersonal yang sehat dan berkualitas, baik dengan teman sebaya maupun orang dewasa. Masalah seperti konflik dengan teman, penolakan dari kelompok sebaya, dan kesulitan berkomunikasi dengan para guru di sekolahnya dapat muncul. Remaja-remaja yang merasa ditolak oleh teman sebayanya atau merasa diperlakukan tidak adil oleh gurunya di sekolah, akan berdampak buruk pada perkembangan emosi dan jiwanya. Jadi konflik anak itu dapat muncul dari faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor-faktor yang muncul dari dalam diri anak remaja tersebut misalnya, mengapa kondisi fisik saya begini? Mengapa saya terlahir dari keluarga yang begini? Mengapa saya tidak seperti orang lain? dan pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar diri anak, misalnya dari faktor lingkungan teman, orang tua, keluarga, guru, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dan kedua faktor itu akan terus saling berganti menghantui jiwa anak dalam fase ini.

Kehadiran seseorang dalam fase ini akan sangat berdampak sekali, misalnya seseorang yang dapat mengerti semua perasaan hati dan keinginannya, akan mengubah arah hidupnya. Nah, ketika hal ini terjadi tanpa sepengetahuan orang tua, atau guru bisa berdampak negatif juga. Karena tidak semua teman dekat itu bermaksud baik, ada saja teman dekat yang hanya ingin menjerumuskan ke dalam jurang kehancuran. Apabila secara langsung keberadaan teman dekat ini terawasi oleh para orang dewasa, tidak akan terlalu dalam kehancuran yang akan terjadi. Namun sebaliknya, jika orang tua dan guru di sekolah bersikap acuh tak acuh, di sanalah celah-celah yang akan mengubah segala arah tujuan yang akan dijalani. Syukur-syukur berubah ke arah yang lebih baik, namun yang dikhawatirkan perubahan ke arah sebaliknya.

Seorang guru harus sangat paham dengan semua gejolak yang sedang melanda dunia remaja akhir-akhir ini. Dan jangan sekali-kali memperlakukan tidak adil pada salah seorang murid, atau menganakemaskan seorang murid lainnya. Karena akan banyak konflik yang akan muncul, selain membunuh karakter dan kepercayaan diri seseorang, juga akan menimbulkan rasa iri, dengki, dendam, dan patah hati. Luka yang dialami pada fase remaja akhir ini akan terus diingat sampai akhir hidupnya. Apabila ada kenakalan remaja yang timbul, untuk menanggulanginya lebih baik melakukan pendekatan secara persuasif dan memberikan contoh suri teladan kepada anak yang bermasalah tersebut.

Seperti pengalaman yang saya alami dalam mendidik murid yang bermasalah, mereka diminta datang lebih awal daripada teman lainnya. Mereka harus melapor terlebih dahulu kepada saya membawa format laporan, mengerjakan salat duha, dan tadarus bersama di masjid (dalam pengawasan saya). Dan yang wajib kita lakukan juga adalah ketika memberikan pendidikan kedisiplinan kepada anak yang kurang disiplin, kita harus jadi contoh dan teladannya, katakanlah sebagai role model yang harus ditiru oleh murid.

Akhir dari tulisan, saya berikan untuk seluruh murid yang sedang berada pada fase sulit ini, ikhlaskan segala sesuatu yang sudah menjadi  ketentuan dan takdir Allah tentang diri kita. Dan komunikasikanlah segala sesuatunya dengan orang-orang yang kamu percayai, khususnya orang tua dan guru, serta ambillah contoh yang baik-baiknya saja dari kami sebagai pendidik. Sebab saya pun, bukanlah manusia sempurna namun sekadar manusia yang sedang berusaha untuk menjadi guru yang baik. Semoga kalian semua sukses di dunia dan akhirat. Aamiin YRA. (EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...