Dokumen Pribadi
Sebagai salah seorang pendidik di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri, saya
harus paham betul karakteristik para murid yang sangat beraneka ragam. Tentu dibutuhkan bekal ilmu untuk menghadapi dan mencari solusi bagaimana saya harus melaksanakan
semua tupoksi sebagai pendidik. Kita sering mendengar bahwa masa-masa SMA
adalah masa-masa pemberontakan anak terhadap apapun yang tidak diinginkannya. Apakah
betul demikian?
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tentang masa remaja
adalah fase kehidupan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dari usia 10
hingga 19 tahun. Di masa ini penting untuk meletakkan dasar kesehatan yang
baik. Perkembangan remaja pada usia ini termasuk pertumbuhan fisik, kognitif,
dan psikososial yang pesat. Hal ini memengaruhi cara mereka merasakan,
berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka.
Pada
umumnya, siswa SMA berada di masa remaja akhir, yaitu usia 15–18
tahun. Di masa ini, anak-anak mengalami perubahan psikologis dan fisik
yang signifikan. Beberapa perkembangan psikologis yang
terjadi pada remaja adalah mencari identitas diri, memikirkan tujuan hidupnya,
merasa lebih mandiri, mengalami emosi yang naik turun, belajar memaafkan,
merasa nyaman dengan lawan jenis, tertarik menjalin hubungan romantis, suasana
hati yang berubah-ubah, lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman, mulai
berpikir kritis, merasa sudah mampu menjadi orang dewasa, dan lebih memperhatikan
penampilan.
Menurut
Danmanik (2023), masa remaja merupakan fase perkembangan yang sangat kritis
dalam rentang kehidupan manusia. Pada tahap ini, individu mengalami perubahan
signifikan dalam berbagai aspek fisik, kognitif, emosional, sosial, dan
spiritual. Mereka berada pada fase remaja akhir yang penuh dengan dinamika dan
tantangan yang kompleks. Perkembangan peserta didik SMA bersifat multidimensi
dan saling terkait. Secara fisik, mereka mengalami perubahan hormonal yang
signifikan, seperti pertumbuhan pesat tinggi badan, perubahan berat badan, dan
perkembangan karakteristik seksual sekunder. Perubahan ini seringkali
menyebabkan kekhawatiran tentang penampilan fisik dan citra tubuh.
Pada
fase ini, sangat dibutuhkan dukungan, bantuan, dan pemahaman yang baik dari
semua orang dewasa, termasuk guru dan orang tua. Karena untuk menjalani semua
proses pada fase ini anak sangat rentan tergelincir pada hal-hal yang tidak
diinginkan sehingga muncullah yang dinamakan kenakalan remaja. Dukungan dari
orang tua sebagai guru utama dan pertama seorang remaja sangatlah mewarnai cara
dari anak tersebut dalam menjalani hal terkait pada fase hidupnya.
Tidak
dapat dipungkiri, pada zaman yang serba digital seperti sekarang ikatan batin
antara remaja dengan kedua orang tuanya sangat berjarak. Cukup dengan pesan
singkat, atau secara online saja untuk menjalankan sebuah komunikasi. Sulit sekali
remaja mencari waktu untuk mencurahkan semua isi hatinya kepada kedua orang
tua, karena merasa kedua belah pihak tak punya waktu atau sibuk dengan urusannya
masing-masing. Belum lagi masalah remaja yang broken home akan menambah
pelik kehidupan yang dilaluinya.
Dengan
kurangnya hubungan atau ikatan batin dengan kedua orang tua, banyak sekali
remaja yang mengalami konflik terkait penentuan minat, nilai-nilai dan tujuan
hidup. Sehingga remaja tersebut akan merasa sendiri, kesepian, tertekan, kebingungan
dalam mencari arah, dan akhirnya stres yang melanda.
Ada
juga kasus yang berlainan seperti hubungan dengan kedua orang tua sangat baik,
bahkan orang tua sangat terbuka dan membimbing setiap langkah yang akan diambil
oleh anaknya. Namun, karena merasa semua masa depan anak adalah tanggung jawab
sepenuhnya dari orang tua, maka orang tua dengan seenaknya mendikte dan
memaksakan setiap keputusan untuk sang anak. Hal ini pula dapat memicu konflik
pada jiwa dan psikologi seorang anak. Karena anak merasa tidak bebas dengan apa
yang dia inginkan dan apa yang orang tua inginkan. Akhirnya timbul ketidakpercayaan
pada diri sendiri untuk memutuskan segala sesuatunya. Andaikata bisa mengiyakan
apa kata orang tua, namun ada jiwa yang terluka dan hendak memberontak terhadap
apa yang terjadi.
Selain
itu, remaja SMA juga menghadapi tantangan dalam membina hubungan interpersonal
yang sehat dan berkualitas, baik dengan teman sebaya maupun orang dewasa.
Masalah seperti konflik dengan teman, penolakan dari kelompok sebaya, dan
kesulitan berkomunikasi dengan para guru di sekolahnya dapat muncul. Remaja-remaja
yang merasa ditolak oleh teman sebayanya atau merasa diperlakukan tidak adil oleh
gurunya di sekolah, akan berdampak buruk pada perkembangan emosi dan jiwanya. Jadi
konflik anak itu dapat muncul dari faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor
internal adalah faktor-faktor yang muncul dari dalam diri anak remaja tersebut
misalnya, mengapa kondisi fisik saya begini? Mengapa saya terlahir dari keluarga
yang begini? Mengapa saya tidak seperti orang lain? dan pada akhirnya menyalahkan
dirinya sendiri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar
diri anak, misalnya dari faktor lingkungan teman, orang tua, keluarga, guru,
dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dan kedua faktor itu akan terus saling
berganti menghantui jiwa anak dalam fase ini.
Kehadiran
seseorang dalam fase ini akan sangat berdampak sekali, misalnya seseorang yang
dapat mengerti semua perasaan hati dan keinginannya, akan mengubah arah hidupnya.
Nah, ketika hal ini terjadi tanpa sepengetahuan orang tua, atau guru bisa
berdampak negatif juga. Karena tidak semua teman dekat itu bermaksud baik, ada
saja teman dekat yang hanya ingin menjerumuskan ke dalam jurang kehancuran. Apabila
secara langsung keberadaan teman dekat ini terawasi oleh para orang dewasa,
tidak akan terlalu dalam kehancuran yang akan terjadi. Namun sebaliknya, jika
orang tua dan guru di sekolah bersikap acuh tak acuh, di sanalah celah-celah
yang akan mengubah segala arah tujuan yang akan dijalani. Syukur-syukur berubah
ke arah yang lebih baik, namun yang dikhawatirkan perubahan ke arah sebaliknya.
Seorang
guru harus sangat paham dengan semua gejolak yang sedang melanda dunia remaja
akhir-akhir ini. Dan jangan sekali-kali memperlakukan tidak adil pada salah
seorang murid, atau menganakemaskan seorang murid lainnya. Karena akan banyak
konflik yang akan muncul, selain membunuh karakter dan kepercayaan diri
seseorang, juga akan menimbulkan rasa iri, dengki, dendam, dan patah hati. Luka
yang dialami pada fase remaja akhir ini akan terus diingat sampai akhir
hidupnya. Apabila ada kenakalan remaja yang timbul, untuk menanggulanginya lebih
baik melakukan pendekatan secara persuasif dan memberikan contoh suri teladan
kepada anak yang bermasalah tersebut.
Seperti
pengalaman yang saya alami dalam mendidik murid yang bermasalah, mereka diminta
datang lebih awal daripada teman lainnya. Mereka harus melapor terlebih dahulu
kepada saya membawa format laporan, mengerjakan salat duha, dan tadarus bersama
di masjid (dalam pengawasan saya). Dan yang wajib kita lakukan juga adalah
ketika memberikan pendidikan kedisiplinan kepada anak yang kurang disiplin, kita
harus jadi contoh dan teladannya, katakanlah sebagai role model yang
harus ditiru oleh murid.
Akhir
dari tulisan, saya berikan untuk seluruh murid yang sedang berada pada fase sulit
ini, ikhlaskan segala sesuatu yang sudah menjadi ketentuan dan takdir Allah tentang diri kita. Dan
komunikasikanlah segala sesuatunya dengan orang-orang yang kamu percayai,
khususnya orang tua dan guru, serta ambillah contoh yang baik-baiknya saja dari kami
sebagai pendidik. Sebab saya pun, bukanlah manusia sempurna namun sekadar
manusia yang sedang berusaha untuk menjadi guru yang baik. Semoga kalian semua
sukses di dunia dan akhirat. Aamiin YRA. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar