https://id.lovepik.com/images/png-studentslearn.html
Sering
kita mendengar nasihat-nasihat yang diberikan oleh para orang tua tentang
keharusan untuk belajar. Di antaranya: Rajin-rajinlah kamu belajar agar kamu
menjadi orang pintar! Rajinlah belajar agar kamu mendapatkan pekerjaan yang
bagus kelak! Rajin-rajinlah agar dapat menjadi orang kaya! dan nasihat lainnya.
Semua nasihat itu ditujukan kepada semua anak agar bersemangat dalam belajar
mencari ilmu pengetahuan. Sementara, pernyataan yang sering saya dengar sejak kecil
adalah “Tuntutlah ilmu, meskipun ke negeri Cina.” Dan agama Islam pun sangat
menganjurkan agar setiap muslim menjalankan proses belajar dalam mencari ilmu.
Banyak
ayat-ayat al-Quran yang berisi tentang keharusan dalam menuntut ilmu, seperti
yang terdapat dalam Al-Quran di bawah
ini.
(QS.
Al-Mujadilah ayat 11)
Artinya:
"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah
dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Anbiya
ayat 7)
Artinya: ”Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu
(Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada
mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada
mengetahui.”
(QS. Al-Fath
ayat 11)
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.”
Saya
kutip beberapa hadits yang berisi tentang keutamaan dalam mencari ilmu
pengetahuan. Di antaranya sebagai berikut.
1.
“Belajarlah kamu
semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku
baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR. Tabrani).
2.
“Barang siapa
menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
3.
“Jika seorang
manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim).
4. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat dan terlaknat pula isinya, kecuali berdzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang orang yang belajar.” (HR. At-Tirmidzi no. 2322).
Dan menurut KH. Muhammad Hasyim Asy’arie
dalam bukunya “Etika Seorang Guru dan Orang yang Belajar,” terdapat hadits
tentang keutamaan belajar. Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra., ia berkata: ”Pelajarilah
ilmu pengetahuan, karena mempelajarinya adalah suatu kebajikan, mencarinya
adalah suatu ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad,
menyerahkannya adalah upaya pendekatan diri kepada Allah SWT, dan
mengajarkannya kepada orang yang tidak berilmu adalah shadaqah.”
Terlihat
jelas berbagai keutamaan belajar yang akan kita dapatkan dari ayat suci Al-Quran
maupun dari hadits-hadits. Semua itu agar setiap anak cucu Adam mempunyai semangat
belajar dalam menuntut ilmu. Apabila kita menjadi orang yang berilmu, sudah
tentu Allah dan rasul-Nya akan senang pula. Untuk soal pahala dan lainnya,
anggap saja sebagai bonus; kita serahkan kepada-Nya, jangan sampai kita hanya
menghitung-hitung pahala karena bukan ranahnya manusia.
Kita
lihat terlebih dahulu definisi dari belajar dan menuntut ilmu, apakah sama atau
berbeda pengertiannya. Menurut sumber yang saya dapatkan, antara belajar dan
mencari ilmu memiliki makna yang mirip namun tidak sama persis. Perbedaannya
terdapat pada tujuan, lingkup belajar, serta motivasi yang menyertainya. Namun,
pada tulisan ini saya akan menyetarakan antara konteks belajar dan menuntut
ilmu.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi belajar adalah “Proses memperoleh
pengetahuan atau keterampilan dengan cara mempelajari atau mendengarkan,
mempelajari atau mendalami ilmu pengetahuan, mengubah perilaku melalui proses
pengalaman dan latihan.” Sedangkan
pengertian menuntut ilmu menurut KBBI adalah: “Proses mencari dan mempelajari
ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh, mengikuti pelajaran atau pendidikan
untuk memperoleh ilmu pengetahuan.”
Memang dari segi definisi antara kata “belajar”
dan frasa “menuntut ilmu” ada sedikit perbedaan saja, namun saya tidak
persoalkan itu semua. Seperti yang diutarakan pada paragraf sebelumnya, bahwa
di dalam tulisan ini, saya samakan pengertian belajar dan menuntut ilmu. Jadi,
apabila saya menuliskan belajar, berarti saya sedang berbicara tentang menuntut
ilmu. Dan saya tidak berbicara jauh tentang teori-teori belajar yang diturunkan
oleh banyak ilmuwan. Hanya konsep belajar yang secara umum terjadi di
masyarakat.
Hakikatnya,
belajar adalah untuk diri kita sendiri, agar dapat menguasai dunia dan seisinya
dengan ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari, ada konsep yang salah
kaprah. Seakan-akan dengan belajar kita akan dan wajib menjadi orang pintar,
dan akan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Memang tidak ada salahnya juga
pemahaman kalau kita belajar, kecenderungannya kita akan jadi pintar. Namun, lebih tepatnya
dengan belajar kita akan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan akan mampu
bertahan dalam melangsungkan hidup di dunia. Dengan belajar, kita dapat memecahkan
semua masalah kehidupan atau mencari solusi dari masalah yang datang menerpa diri.
Kita
ambil contoh, belajar di sekolah (SMA) negeri ataupun swasta. Setiap hari kita
pergi kemudian pulang sekolah, tentunya sangat melelahkan jiwa raga. Manfaatnya
melatih daya tahan tubuh agar tetap sehat dan kuat, melatih kesabaran
menghadapi materi-materi pelajaran yang terkadang sangat membingungkan, melatih
ketajaman berpikir dalam mencari solusi dari soal-soal atau ujian-ujian yang
didapatkan di sekolah. Andai kita rajin dalam menjalani prosesnya untuk belajar
di sekolah, kita akan dapat sesuatu yaitu otak kita akan menjadi tajam dan mampu
berpikir apapun, atau dengan kata lain kita menjadi pintar dengan belajar. Tapi
jika kita tidak mendapatkan kepintaran walaupun sudah berusaha semampunya untuk
belajar, minimal kita punya jiwa raga yang sehat, kesabaran yang kuat, dan kebaikan
dalam mencari ilmu.
Dengan
datangnya ke sekolah setiap hari, bertemu dengan banyak orang misalnya teman
sekelas, teman satu angkatan, adik kelas, kakak kelas, guru, ataupun
orang-orang yang ada di jalan yang kita lewati. Secara tidak langsung kita
belajar dari orang-orang yang kita temui. Belajar bersosialisasi dengan banyak
orang, membaca situasi dan kondisi orang lain, mempelajari sifat dan karakter
orang lain, dan yang paling penting kita bisa saling memberi salam dan senyum
kepada orang lain. Karena salam dan senyum saja sudah merupakan kebaikan yang
harus kita lakukan setiap waktunya.
Kita
bisa belajar sepanjang hayat, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Contoh belajar
di luar sekolah, misalnya adalah bagaimana caranya kita bertingkah laku di
masyarakat dengan memantaskan perilaku seorang pelajar SMA ataupun seorang guru.
Selama hayat masih dikandung badan, wajiblah kita terus melakukan proses pembelajaran demi suatu kebajikan
di manapun kita berada.
Jadi,
belajar itu bukan hanya kewajiban murid dan guru yang melaksanakan rutinitas PBM
(Proses Belajar Mengajar) di kelas. Karena PBM di kelas itu hanyalah sebuah
kegiatan formalitas dan rutinitas yang diadakan oleh institusi negeri/swasta. Ketika
menjadi seorang pedagang pun harus tetap belajar, bagaimana cara agar dagangannya
cepat laku? Bagaimana agar keuntungan yang didapatkan lebih meningkat? Bagaimana
cara mengembangkan usahanya ke arah yang lebih baik? Tentunya, sang pedagang
harus belajar mencari ilmu pengetahuan agar bisa menjawab pertanyaan tersebut. Begitupun
yang terjadi pada profesi lainnya, sama-sama harus tetap melakukan proses
belajar agar tetap hidup bahagia dengan profesinya.
Dari
tulisan ini, semoga kita mendapatkan berkah dari belajar/menuntut ilmu agar
kita menjadi orang yang lebih baik, lebih arif, lebih bijak, dan lebih siap serta mampu
menghadapi semua ujian dalam kehidupan. Dengan kata lain, dengan belajar,
kita dapat bertahan hidup sampai hari ini dalam kondisi yang sangat baik serta sehat
jiwa/raga. Walaupun semua itu tidak terlepas dari bantuan dan pertolongan dari
Allah SWT. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar