Jumat, 10 Januari 2025

Syekh Siti Jenar

 




https://www.kompasiana.com/image/luvetz/65f9500dc57afb769d66dc52/syekh-siti-jenar-figur-mistis-dalam-sejarah-keagamaan-islam-di-indonesia#google_vignette

Syekh Siti Jenar adalah sebuah nama yang menggetarkan hati saya sejak dulu. Berbeda rasanya ketika saya mendengar nama-nama wali songo lainnya seperti Sunan Bonang, Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga; hati saya biasa sekali. Entah mengapa bisa terjadi demikian? Mungkin karena kontroversinya? Atau karena kisah kematiannya? Atau memang keberadaannya masih diragukan? Konon menurut sumber yang saya dapatkan, nama Syekh Siti Jenar adalah nama yang kontroversial di kalangan Muslim, nama yang entah nyata atau hanyalah sebuah mitos belaka. Saya coba mencari berbagai literasinya, namun yang ditemukan hanya sedikit saja. Walaupun sedikit, setidaknya dapat meminimalisir rasa penasaran di hati. Ada di sebuah film tempo dulu, yang mengisahkan para wali, bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari seekor cacing. Benak saya malah semakin penasaran, masa iya seorang manusia terbuat dari seekor cacing tanah?

Iseng-iseng saya mencari menggunakan teknologi dengan menggunakan Meta AI, mendapatkan informasi seperti ini. “Syekh Siti Jenar, yang juga dikenal sebagai Sunan Jepara, merupakan seorang tokoh sufisme dan penyebar agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di Kabupaten Demak. Ia lahir pada tahun 1426 dengan nama asli Hasan Ali, dan meninggal pada tahun 1517. Syekh Siti Jenar dikenal karena ajarannya yang menekankan tentang manunggaling kawula-gusti, yaitu penyatuan diri dengan Tuhan. Ajaran ini membuatnya menjadi kontroversi di kalangan ulama pada masa itu. Ia juga dikenal sebagai salah satu anggota Walisongo, sekelompok ulama yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa.” (AI mengutip dari Wikipedia).

Menurut Sartono Hadisuwarno dalam bukunya (Biografi Lengkap Syekh Siti Jenar, 2018), Syekh Siti Jenar atau dikenal dengan nama Syekh Abdul Jalil, Siti Brit, Lemah Abrit, dan Lemah Abang, sebenarnya adalah putra dari seorang ulama di Malaka bernama Syekh Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi. Syekh Siti Jenar dilahirkan di Cirebon pada sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M, dengan nama kecil Sayyid Hasan Ali Al-Husain. Kata Sayyid dalam nama tersebut menunjukkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari keluarga Hasan.

Serta dalam buku tersebut membantah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari seekor cacing, tapi asli manusia, bukan juga siluman cacing. Bantahan tersebut berbahasa Jawa Kuno seperti di bawah ini.

Wondene kacarios yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing Dhusun Lemahbang” (Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah seorang manusia [rakyat jelata] yang rumahnya di Dusun Lemahbang”).

Dari pernyataan tersebut, terjawab sudah penasaran saya bahwa Syekh Siti Jenar adalah manusia yang asli, bukan manusia berasal dari cacing tanah, atau dari siluman cacing.

Syekh Siti Jenar tumbuh dewasa di lingkungan pesantren Giri Amparan Jati. Di pesantren, Syekh Siti Jenar belajar ilmu-ilmu al-Qur’an, seperti ilmu tajwid, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu makki dan madani, ilmu i’jaz al-Qur’an, ilmu jadal al-Qur’an, ilmu qashas al-Qur’an, dan ilmu-ilmu Qur’an lainnya. Sehingga, dikabarkan Syekh Siti Jenar berhasil menghafalkan kitab suci al-Qur’an pada usia ke-8 tahun. Berarti selisih satu tahun dengan Imam Syafi’i yang dapat menghafalkan al-Qur’an pada usia tujuh tahun.

Menurut sumber lain yang saya dapatkan, ada beberapa banyak orang yang dijadikan guru oleh Syekh Siti Jenar, di antaranya adalah Syekh Datuk Kahfi, Aria Damar, para pertapa Hindu-Buddha, dan Sufisme dari Bagdad (Al-Halaj, Al-Busthami, Al-Kalabadzi, Al-Ghazali, Ibn Arabi, Abdul Karim, dan Al-Jilli). Serta Konon, katanya ketika Syekh Siti Jenar melaksanakan ibadah haji ke Baitul Haram, banyak sekali orang-orang yang beliau temui dan dijadikan guru serta pengalaman yang sangat luar biasa dalam hidupnya.

            Dari uraian-uraian di atas, tidak ada hal yang kontroversial yang saya dapatkan. Semua uraian di atas menyatakan bahwa benar-benar Syekh Siti Jenar adalah manusia asli, bahkan nasabnya merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Pendidikan awal yang beliau jalani adalah pendidikan pondok pesantren Syekh Datuk Kahfi. Beliau seorang hafidz Qur’an juga. Mungkin ketika Syekh Siti Jenar kembali lagi ke Pulau Jawa dan menyebarkan agama Islam, itulah awal mula muncul perbedaan pendapat dengan para ulama lainnya. Apakah itu bermula dari ajaran beliau yang berbeda dengan ulama lainnya? Atau hanyalah cara pengajarannya yang menyalahi aturan tatanan pemerintahan waktu itu?

            Mari kita lanjutkan dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Syekh Siti Jenar, walaupun saya tidak membahas semuanya, ini sebatas referensi yang saya dapatkan dan pahami. Ketika Syekh Siti Jenar kembali ke Pulau Jawa, beliau banyak mengkritik habis-habisan para ulama dan santri pada waktu itu. Dalam kacamata Syekh Siti Jenar, mereka (ulama dan santri) hanya berkutat pada amalan syare’at (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama yang harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas kemudian lupa akan tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.

            Sudah tentu, dengan adanya kritikan yang begitu dahsyat dari Syekh Siti Jenar, banyak sekali ulama dan santri yang tersinggung, termasuk pihak kerajaan (Kerajaan Demak). Karena ada para wali lainnya yang tidak begitu frontal dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling ditentang oleh para wali saat itu adalah ajaran yang disebut “Manunggaling Kawula-Gusti” serta Syekh Siti Jenar mengungkapkan bahwa “Ingsun Iki Allah”. Ajaran inilah yang dipandang para wali dan ulama lainnya sebagai ajaran sesat, yang dapat merusak tatanan hidup beragama di masyarakat. Apalagi waktu itu masyarakat masih baru memeluk agama Islam tentunya masih awam terhadap pemahaman agamanya. Dan hal itu pula yang menjadikan pihak Kerajaan Demak menjadi geram, terutama Rajanya (Raden Patah), karena kata “Ingsun” hanya boleh diucapkan oleh seorang raja. Sehingga Raja Demak mengutus para wali agar menasehati dan memberikan peringatan kepada Syekh Siti Jenar tentang kesesatan ajarannya.

            Terlepas dari semua dugaan sesatnya ajaran Syekh Siti Jenar, saya mencatat satu bagian saja tentang ibadah shalat menurut beliau. Menurut Syekh Siti Jenar, shalat terbagi menjadi tiga bagian; (1) Shalat Syare’at (sembah raga); (2) Shalat Tarek/Tarekat (sembah cipta); (3) Shalat Hakekat/Da’im (sembah rasa). Shalat Syare’at cara mensucikannya dengan sarana air, sedangkan Shalat Tarek cara mensucikannya dengan memerangi hawa nafsu, dan yang terakhir Shalat Hakekat cara mensucikannya dengan zuhud, melepaskan diri dari keinginan raga dan jiwa. Apakah ketiga shalat ini mengandung kesesatan?

            Bila dilihat dari ketiga jenis shalat di atas, saya pasti masih berada pada level satu alias terbawah, yaitu masih shalat syare’at. Kadang saya berpikir shalat saya masih suatu beban dan keterpaksaan atau hanya sebuah pengguguran kewajiban belaka. Untuk mencapai level teratas, saya masih ragu apakah dapat menjangkau ke arahnya? Kemungkinan besar ajaran Syekh Siti Jenar adalah ajaran untuk orang-orang pada makam tertentu (bukan pada level awam), namun untuk level yang sudah betul-betul paham terhadap ilmu agama.

            Kembali lagi kepada Syekh Siti Jenar yang dipanggil oleh para wali atas perintah Raja Demak. Panggilan dan semua nasihat serta wejangan dari para wali lainnya, ternyata tidak digubris oleh beliau. Syekh Siti Jenar tetap mengajarkan semua ajarannya kepada seluruh santri. Para wali memberikan waktu satu tahun kepada Syekh Siti Jenar untuk berpikir dan kembali kepada ajaran yang benar, meninggalkan ajaran sesatnya. Namun tetap saja, tidak dihiraukan kesempatan tersebut. Dan akhirnya, Kerajaan memutuskan untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar agar tidak merusak masyarakat kerajaan.

            Tibalah waktu hukuman dijatuhkan dan Syekh Siti Jenar dieksekusi hukuman mati oleh para wali atas perintah Raden Patah (Raja Demak). Walaupun banyak versi kisah kematian Syekh Siti Jenar, ada sekitar tujuh versi kisah yang ditulis oleh tujuh penulis yang berbeda. Yang menjadi benang merahnya adalah ketika darah Syekh Siti Jenar mengalir, warna darah yang awalnya merah berubah menjadi warna putih bersih dan membentuk lafaz “Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rasulullah”. Selain itu, jenazah Syekh Siti Jenar mengeluarkan wewangian surga, sehingga banyak para ulama yang menciumi jenazah Syekh Siti Jenar.

Pertanyaan yang saya lontarkan, apakah jenazah orang yang mengajarkan ajaran sesat bisa mengeluarkan wewangian surga, dan darahnya pun membentuk kalimat Tauhid seperti itu? Jawabnya wallahu alam bi sawaf. Karena saya tidak tahu serta paham terhadap ilmu tersebut dan bahkan saya tidak mengetahui siapa-siapa saja orang sebagai kekasih Allah yang sesungguhnya.

Tulisan ini tidak mengandung ajakan atau rayuan saya kepada pembaca untuk mengikuti hal-hal yang tidak diyakini dalam hati. Saya hanya ingin menuliskan sebuah keresahan dan rasa penasaran saya terhadap tokoh besar yang bernama Syekh Siti Jenar. Saya menganggap beliau adalah orang suci dan merupakan kekasih Allah SWT yang pernah hidup dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. (EAS).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...