Syekh
Siti Jenar adalah sebuah nama yang menggetarkan hati saya sejak dulu. Berbeda rasanya
ketika saya mendengar nama-nama wali songo lainnya seperti Sunan Bonang, Sunan
Gresik, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan
Kalijaga; hati saya biasa sekali. Entah mengapa bisa terjadi demikian? Mungkin karena
kontroversinya? Atau karena kisah kematiannya? Atau memang keberadaannya masih
diragukan? Konon menurut sumber yang saya dapatkan, nama Syekh Siti Jenar
adalah nama yang kontroversial di kalangan Muslim, nama yang entah nyata atau
hanyalah sebuah mitos belaka. Saya coba mencari berbagai literasinya, namun
yang ditemukan hanya sedikit saja. Walaupun sedikit, setidaknya dapat meminimalisir
rasa penasaran di hati. Ada di sebuah film tempo dulu, yang mengisahkan para
wali, bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari seekor cacing. Benak saya malah
semakin penasaran, masa iya seorang manusia terbuat dari seekor cacing tanah?
Iseng-iseng
saya mencari menggunakan teknologi dengan menggunakan Meta AI, mendapatkan informasi
seperti ini. “Syekh Siti Jenar, yang juga dikenal sebagai Sunan Jepara,
merupakan seorang tokoh sufisme dan penyebar agama Islam di Pulau Jawa,
khususnya di Kabupaten Demak. Ia lahir pada tahun 1426 dengan nama asli Hasan
Ali, dan meninggal pada tahun 1517. Syekh Siti Jenar dikenal karena ajarannya
yang menekankan tentang manunggaling kawula-gusti, yaitu penyatuan diri dengan
Tuhan. Ajaran ini membuatnya menjadi kontroversi di kalangan ulama pada masa
itu. Ia juga dikenal sebagai salah satu anggota Walisongo, sekelompok ulama
yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa.” (AI mengutip dari
Wikipedia).
Menurut
Sartono Hadisuwarno dalam bukunya (Biografi Lengkap Syekh Siti Jenar, 2018), Syekh
Siti Jenar atau dikenal dengan nama Syekh Abdul Jalil, Siti Brit, Lemah Abrit,
dan Lemah Abang, sebenarnya adalah putra dari seorang ulama di Malaka bernama Syekh
Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi. Syekh Siti Jenar dilahirkan di Cirebon pada
sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M, dengan nama kecil Sayyid Hasan Ali
Al-Husain. Kata Sayyid dalam nama tersebut menunjukkan bahwa Syekh Siti Jenar
adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari keluarga Hasan.
Serta
dalam buku tersebut membantah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari seekor cacing,
tapi asli manusia, bukan juga siluman cacing. Bantahan tersebut berbahasa Jawa
Kuno seperti di bawah ini.
“Wondene
kacarios yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun
inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing Dhusun Lemahbang”
(Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah seorang manusia [rakyat jelata] yang
rumahnya di Dusun Lemahbang”).
Dari pernyataan
tersebut, terjawab sudah penasaran saya bahwa Syekh Siti Jenar adalah manusia
yang asli, bukan manusia berasal dari cacing tanah, atau dari siluman cacing.
Syekh
Siti Jenar tumbuh dewasa di lingkungan pesantren Giri Amparan Jati.
Di pesantren, Syekh Siti Jenar belajar ilmu-ilmu al-Qur’an, seperti ilmu
tajwid, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu makki dan
madani, ilmu i’jaz al-Qur’an, ilmu jadal al-Qur’an, ilmu qashas al-Qur’an, dan
ilmu-ilmu Qur’an lainnya. Sehingga, dikabarkan Syekh Siti Jenar berhasil menghafalkan
kitab suci al-Qur’an pada usia ke-8 tahun. Berarti selisih satu tahun dengan
Imam Syafi’i yang dapat menghafalkan al-Qur’an pada usia tujuh tahun.
Menurut sumber lain yang saya dapatkan, ada beberapa banyak orang yang
dijadikan guru oleh Syekh Siti Jenar, di antaranya adalah Syekh Datuk Kahfi,
Aria Damar, para pertapa Hindu-Buddha, dan Sufisme dari Bagdad (Al-Halaj,
Al-Busthami, Al-Kalabadzi, Al-Ghazali, Ibn Arabi, Abdul Karim, dan Al-Jilli). Serta
Konon, katanya ketika Syekh Siti Jenar melaksanakan ibadah haji ke Baitul
Haram, banyak sekali orang-orang yang beliau temui dan dijadikan guru serta
pengalaman yang sangat luar biasa dalam hidupnya.
Dari
uraian-uraian di atas, tidak ada hal yang kontroversial yang saya dapatkan. Semua
uraian di atas menyatakan bahwa benar-benar Syekh Siti Jenar adalah manusia asli,
bahkan nasabnya merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Pendidikan awal yang
beliau jalani adalah pendidikan pondok pesantren Syekh Datuk Kahfi. Beliau seorang
hafidz Qur’an juga. Mungkin ketika Syekh Siti Jenar kembali lagi ke Pulau Jawa
dan menyebarkan agama Islam, itulah awal mula muncul perbedaan pendapat dengan
para ulama lainnya. Apakah itu bermula dari ajaran beliau yang berbeda dengan
ulama lainnya? Atau hanyalah cara pengajarannya yang menyalahi aturan tatanan
pemerintahan waktu itu?
Mari
kita lanjutkan dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Syekh Siti Jenar, walaupun
saya tidak membahas semuanya, ini sebatas referensi yang saya dapatkan dan
pahami. Ketika Syekh Siti Jenar kembali ke Pulau Jawa, beliau banyak mengkritik
habis-habisan para ulama dan santri pada waktu itu. Dalam kacamata Syekh Siti Jenar,
mereka (ulama dan santri) hanya berkutat pada amalan syare’at (sembah raga). Padahal
masih banyak tugas manusia yang lebih utama yang harus dilakukan untuk mencapai
tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma dan ketakutan neraka serta bujuk
rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia
menjadi terkungkung rutinitas kemudian lupa akan tugas beratnya. Manusia demikian
menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.
Sudah
tentu, dengan adanya kritikan yang begitu dahsyat dari Syekh Siti Jenar, banyak
sekali ulama dan santri yang tersinggung, termasuk pihak kerajaan (Kerajaan
Demak). Karena ada para wali lainnya yang tidak begitu frontal dalam
menyebarkan ajaran agama Islam. Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling ditentang
oleh para wali saat itu adalah ajaran yang disebut “Manunggaling Kawula-Gusti” serta
Syekh Siti Jenar mengungkapkan bahwa “Ingsun Iki Allah”. Ajaran inilah yang
dipandang para wali dan ulama lainnya sebagai ajaran sesat, yang dapat merusak tatanan
hidup beragama di masyarakat. Apalagi waktu itu masyarakat masih baru memeluk
agama Islam tentunya masih awam terhadap pemahaman agamanya. Dan hal itu pula
yang menjadikan pihak Kerajaan Demak menjadi geram, terutama Rajanya (Raden Patah),
karena kata “Ingsun” hanya boleh diucapkan oleh seorang raja. Sehingga Raja Demak
mengutus para wali agar menasehati dan memberikan peringatan kepada Syekh Siti
Jenar tentang kesesatan ajarannya.
Terlepas
dari semua dugaan sesatnya ajaran Syekh Siti Jenar, saya mencatat satu bagian
saja tentang ibadah shalat menurut beliau. Menurut Syekh Siti Jenar, shalat terbagi
menjadi tiga bagian; (1) Shalat Syare’at (sembah raga); (2) Shalat
Tarek/Tarekat (sembah cipta); (3) Shalat Hakekat/Da’im (sembah rasa). Shalat
Syare’at cara mensucikannya dengan sarana air, sedangkan Shalat Tarek cara
mensucikannya dengan memerangi hawa nafsu, dan yang terakhir Shalat Hakekat
cara mensucikannya dengan zuhud, melepaskan diri dari keinginan raga dan jiwa. Apakah
ketiga shalat ini mengandung kesesatan?
Bila
dilihat dari ketiga jenis shalat di atas, saya pasti masih berada pada level
satu alias terbawah, yaitu masih shalat syare’at. Kadang saya berpikir shalat
saya masih suatu beban dan keterpaksaan atau hanya sebuah pengguguran kewajiban
belaka. Untuk mencapai level teratas, saya masih ragu apakah dapat menjangkau
ke arahnya? Kemungkinan besar ajaran Syekh Siti Jenar adalah ajaran untuk
orang-orang pada makam tertentu (bukan pada level awam), namun untuk level yang
sudah betul-betul paham terhadap ilmu agama.
Kembali
lagi kepada Syekh Siti Jenar yang dipanggil oleh para wali atas perintah Raja Demak.
Panggilan dan semua nasihat serta wejangan dari para wali lainnya, ternyata
tidak digubris oleh beliau. Syekh Siti Jenar tetap mengajarkan semua ajarannya
kepada seluruh santri. Para wali memberikan waktu satu tahun kepada Syekh Siti
Jenar untuk berpikir dan kembali kepada ajaran yang benar, meninggalkan ajaran sesatnya.
Namun tetap saja, tidak dihiraukan kesempatan tersebut. Dan akhirnya, Kerajaan memutuskan
untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar agar tidak merusak masyarakat kerajaan.
Tibalah
waktu hukuman dijatuhkan dan Syekh Siti Jenar dieksekusi hukuman mati oleh para
wali atas perintah Raden Patah (Raja Demak). Walaupun banyak versi kisah
kematian Syekh Siti Jenar, ada sekitar tujuh versi kisah yang ditulis oleh
tujuh penulis yang berbeda. Yang menjadi benang merahnya adalah ketika darah Syekh
Siti Jenar mengalir, warna darah yang awalnya merah berubah menjadi warna putih
bersih dan membentuk lafaz “Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rasulullah”. Selain
itu, jenazah Syekh Siti Jenar mengeluarkan wewangian surga, sehingga banyak
para ulama yang menciumi jenazah Syekh Siti Jenar.
Pertanyaan yang saya lontarkan, apakah jenazah orang yang mengajarkan
ajaran sesat bisa mengeluarkan wewangian surga, dan darahnya pun membentuk kalimat
Tauhid seperti itu? Jawabnya wallahu alam bi sawaf. Karena saya tidak tahu
serta paham terhadap ilmu tersebut dan bahkan saya tidak mengetahui siapa-siapa
saja orang sebagai kekasih Allah yang sesungguhnya.
Tulisan ini tidak mengandung ajakan atau rayuan saya kepada pembaca untuk
mengikuti hal-hal yang tidak diyakini dalam hati. Saya hanya ingin menuliskan
sebuah keresahan dan rasa penasaran saya terhadap tokoh besar yang bernama Syekh
Siti Jenar. Saya menganggap beliau adalah orang suci dan merupakan kekasih
Allah SWT yang pernah hidup dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar