https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/menulis-surat-cinta
Saya
adalah seseorang yang mencintai kegiatan menulis, baik secara manual ataupun
digital. Menulis, bagi saya, adalah suatu keharusan agar tetap bisa berpikir
jernih dan menjaga kesehatan mental serta spiritual. Meskipun saya bukan lulusan
sarjana bahasa dan sastra, saya adalah lulusan ilmu kimia murni dan pendidikan
guru sekolah dasar. Namun, entah mengapa hati ini terasa nyaman dan tentram
ketika berhadapan dengan sebuah tulisan.
Saya
sering mengagumi hasil tulisan dari para penulis terkenal yang isinya sangat
luar biasa memberikan pencerahan dan kebahagian dalam hati. Saya juga berpikir,
andai saja tulisan saya seindah dan sebagus mereka, oh betapa senangnya diri
ini. Namun, semua itu tidak akan tercapai tanpa usaha dan kesungguhan untuk
mengasah keterampialn menulis. Tidak ada yang gratis untuk meraih hasil yang
sangat baik, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Tentunya,
untuk menjadi seorang penulis andal dan professional, dibutuhkan keseriusan dan
latihan yang terus-menerus. Bukan hanya mengandalkan senang dan bakat menulis, tetapi
juga wajib melatihnya secara konsisten agar menghasilkan karya yang diinginkan.
Saya sangat menyadari bahwa ada banyak tipe penulis dengan berbagai genre
tulisan yang memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas inilah yang selalu
dipertahankan oleh para penulis professional. Saya pun harus memiliki ciri khas
dalam setiap tulisan saya.
Mari
kita ingat kembali pengertian menulis. Menurut saya, pengertian menulis itu
adalah menuangkan segala ide, gagasan, dan imajinasi ke dalam bentuk tulisan
nyata. Imajinasi harus liar dan bebas berselancar untuk menciptakan keindahan dalam
sebuah tulisan. Tulisan berawal dari ide liar yang kita tangkap dengan cepat,
karena ide itu selalu datang tiba-tiba dan tidak mau menunggu lama. Jika tidak segera
ditangkap, ide itu akan menghilang di telan udara yang terus bergerak. Terlebih,
sebagai manusia, kita sering dihinggapi sifat lupa dan cenderung mengabaikan
sesuatu.
Kesenagan
saya dalam menulis mungkin terbentuk dari pola asuh orang tua saya sejak kecil.
Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya sering dibelikan
buku-buku dan majalah bekas sebagai hadiah ulang tahun. Harganya memang murah, tetapi
banyak ilmu dan hiburan yang saya dapatkan dari buku-buku tersebut. Dari situlah
saya mulai menyukai membaca dan menulis. Kadang menulis puisi, syair lagu, dan cerita-cerita
yang tidak beraturan (asal menulis cerita). Maklum, waktu kecil saya belum
memahami konsep tulisan seperti cerpen atau cerbung.
Setelah
memasuki jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama), ketertarikan saya pada buku
semakin bertambah. Mungkin karena adanya fasilitas perpustakaan sekolah yang
menyediakan berbagai jenis buku, sehingga saya bisa membaca secara gratis dan
puas. Selain membaca buku pelejaran, saya pun bisa meminjam buku-buku novel dan
sastra. Kegemaran ini terus berlanjut hingga jenjang sekolah menengah atas
(SMA). Selain membaca, saya juga sering menulis puisi dan cerpen yang saya
kirimkan ke majalah atau koran. Sedikit banyak, ada honor menulis dari hasil karya
tersebut. Meskipun tidak banyak, honor itu cukup untuk sekadar uang jajan.
Ketika
memasuki masa perkuliahan, aktivitas saya sebagai penulis dan pembaca mulai
menurun. Hal ini terjadi karena semester tiga saya sudah berumah tangga.
Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus istri, terasa sangat menyita waktu.
Meski begitu saya masih meluangkan waktu untuk membaca, karena aktivitas
ini dapat menghibur hati saat suasana sedang semrawut. Selain itu, membaca juga
membantu saya mencari referensi untuk mata kuliah yang sedang saya tempuh.
Dari
perkuliahan yang saya jalani sebanyak tiga kali di tiga perguruan tinggi, saya
mendapatkan pengalaman baru dalam menulis karya-karya ilmiah, termasuk menulis
skripsi dan PTK. Pengetahuan baru ini menjadi
sumber penghasilan saya saat itu. Lucu, tapi rasanya sangat berkesan. Saya
membantu orang lain menulis karya ilmiah dan mendapatkan honor. Selain rupiah
yang saya terima, ada hal lain yang saya rasakan dari aktivitas menulis ini. Kira-kira,
apa yang saya dapatkan dari menulis?
Ternyata,
banyak sekali ilmu dan manfaat yang saya dapatkan dari menjadi seorang penulis
(meskipun penulis amatir). Saya memperoleh tambahan ilmu pengetahuan, kenyamanan hati, kesehatan mental maupun spiritual, serta kepuasan batin yang sungguh luar
biasa. Segala gundah gulana dan unek-unek yang ada dalam hati hilang seketika. Mungkin
energinya terserap oleh fokus dan pikiran yang bekerja keras untuk menuangkan
seluruh ide dan gagasan ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada lagi rasa menggerutu
dalam jiwa tentang semua kenyataan yang terjadi, karena semuanya telah tertuang
melalui kalmat-kalimat dalam tulisan saya.
Oleh
sebab itu, saya anjurkan kepada anak-anak, murid, keluarga, handai tolan, dan
para pembaca lainnya untuk meluangkan waktu untuk menulis. Misalnya, sekadar
menulis buku harian tentang kejadian suka maupun duka, itu sangat berdampak
positif bagi kesehatan jiwa dan raga kita. Dulu. saya pun mempunyai buku harian
dari mulai SD hingga perguruan tinggi. Semua emosi jiwa saya tuangkan dalam
buku harian, dicurahkan sedalam-dalamnya, dan sangat aman karena tidak ada yang
mengetahui tulisan itu kecuali jika hilang bukunya.
Saya pernah membaca sebuah artikel
tentang cara atau terapi menyembuhkan orang yang mengalami depresi berat. Ternyata,
dengan memberikan satu lembar kertas dan pulpen dalam setiap hari, pasien
diminta untuk menuliskan semua emosi jiwanya. Dalam kesimpulan artikel tersebut,
pasien yang mengalami depresi berat tersebut berangsur-angsur sembuh. Kasus ini
hampir mirip dengan kesaksian dokter ahli jiwa yang menangani anak kecanduan
permainan online di gadget. Setiap harinya, anak tersebut diberikan beberapa lembar kertas HVS ukuran
besar untuk di corat-coret atau digambar sesuai dengan kondisi kejiwaannya. Beberapa
bulan kemudian penyakit kecanduannya sembuh.
Memahami dua kasus di atas, ternyata
menulis apa pun itu dapat membuat jiwa dan hati kita menjadi lebih sehat. Jangankan
menulis dengan serius, dengan memahami arah dan tujuan kita menulis, bahkan
menulis tanpa arah pun bisa dijadikan terapi pengobatan. Untuk lebih meyakinkannya,
mungkin perlu dilakukan penelitan lebih lanjut oleh para dokter dan psikiater. Namun,
pengalaman saya pun mengatakan hal yang sama; selama saya rajin menulis, saya
jarang sekali terkena sakit. Namun, ketika saya enggan menulis, penyakit
berbondong-bondong menghampiri. Sangat menarik fenomena tersebut bukan?
Melihat salah satu manfaat menulis
yang dapat dijadikan obat hati, saya semakin tertarik untuk terus menulis. Menulis
tentang apa pun, tentang siapapun, atau harapan-harapan yang ingin dicapai
dalam kehidupan ini. Bahan tulisan kita bisa berupa kenyataan atau hasil dari daya
imajinasi dan khayalan yang kita ciptakan sendiri. Kadang, saya menciptakan sebuah
sosok atau tokoh yang sangat sempurna sifatnya, sebuah tokoh ideal yang tidak
mungkin ada kecuali baginda Muhammad SAW. Untuk apa? Agar kita tertarik dengan daya
imajinasi dan membuat hidup tulisan yang dibuat.
Pesan saya, jangan sibuk
membandingkan tulisan kita dengan tulisan orang lain, karena setiap penulis memiliki
ciri khas masing-masing dan tujuan yang berbeda pula. Mari luangkan waktu untuk
menulis, sekadar untuk menjaga kesehatan mental, jiwa, dan raga kita. Hal ini sejalan dengan pepatah Latin
yang saya kagumi, yaitu: “Mens sana in corpore sano,” yang artinya “Jiwa yang
sehat terdapat dalam tubuh yang sehat.”
Mulailah menulis dari hal-hal kecil,
lama kelamaan akan menjadi besar, dari hal-hal yang dekat dengan diri hingga yang
sangat jauh. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam setiap ide dan gagasan
yang akan kita tuliskan. Aamiin Ya Rabbal’Alamin. (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar