Kamis, 16 Januari 2025

Menulis Adalah Obat Hati

 



https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/menulis-surat-cinta

Saya adalah seseorang yang mencintai kegiatan menulis, baik secara manual ataupun digital. Menulis, bagi saya, adalah suatu keharusan agar tetap bisa berpikir jernih dan menjaga kesehatan mental serta spiritual. Meskipun saya bukan lulusan sarjana bahasa dan sastra, saya adalah lulusan ilmu kimia murni dan pendidikan guru sekolah dasar. Namun, entah mengapa hati ini terasa nyaman dan tentram ketika berhadapan dengan sebuah tulisan.

Saya sering mengagumi hasil tulisan dari para penulis terkenal yang isinya sangat luar biasa memberikan pencerahan dan kebahagian dalam hati. Saya juga berpikir, andai saja tulisan saya seindah dan sebagus mereka, oh betapa senangnya diri ini. Namun, semua itu tidak akan tercapai tanpa usaha dan kesungguhan untuk mengasah keterampialn menulis. Tidak ada yang gratis untuk meraih hasil yang sangat baik, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan.

Tentunya, untuk menjadi seorang penulis andal dan professional, dibutuhkan keseriusan dan latihan yang terus-menerus. Bukan hanya mengandalkan senang dan bakat menulis, tetapi juga wajib melatihnya secara konsisten agar menghasilkan karya yang diinginkan. Saya sangat menyadari bahwa ada banyak tipe penulis dengan berbagai genre tulisan yang memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas inilah yang selalu dipertahankan oleh para penulis professional. Saya pun harus memiliki ciri khas dalam setiap tulisan saya.

Mari kita ingat kembali pengertian menulis. Menurut saya, pengertian menulis itu adalah menuangkan segala ide, gagasan, dan imajinasi ke dalam bentuk tulisan nyata. Imajinasi harus liar dan bebas berselancar untuk menciptakan keindahan dalam sebuah tulisan. Tulisan berawal dari ide liar yang kita tangkap dengan cepat, karena ide itu selalu datang tiba-tiba dan tidak mau menunggu lama. Jika tidak segera ditangkap, ide itu akan menghilang di telan udara yang terus bergerak. Terlebih, sebagai manusia, kita sering dihinggapi sifat lupa dan cenderung mengabaikan sesuatu.

Kesenagan saya dalam menulis mungkin terbentuk dari pola asuh orang tua saya sejak kecil. Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya sering dibelikan buku-buku dan majalah bekas sebagai hadiah ulang tahun. Harganya memang murah, tetapi banyak ilmu dan hiburan yang saya dapatkan dari buku-buku tersebut. Dari situlah saya mulai menyukai membaca dan menulis. Kadang menulis puisi, syair lagu, dan cerita-cerita yang tidak beraturan (asal menulis cerita). Maklum, waktu kecil saya belum memahami konsep tulisan seperti cerpen atau cerbung.

Setelah memasuki jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama), ketertarikan saya pada buku semakin bertambah. Mungkin karena adanya fasilitas perpustakaan sekolah yang menyediakan berbagai jenis buku, sehingga saya bisa membaca secara gratis dan puas. Selain membaca buku pelejaran, saya pun bisa meminjam buku-buku novel dan sastra. Kegemaran ini terus berlanjut hingga jenjang sekolah menengah atas (SMA). Selain membaca, saya juga sering menulis puisi dan cerpen yang saya kirimkan ke majalah atau koran. Sedikit banyak, ada honor menulis dari hasil karya tersebut. Meskipun tidak banyak, honor itu cukup untuk sekadar uang jajan.

Ketika memasuki masa perkuliahan, aktivitas saya sebagai penulis dan pembaca mulai menurun. Hal ini terjadi karena semester tiga saya sudah berumah tangga. Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus istri, terasa sangat menyita waktu. Meski begitu saya masih meluangkan waktu untuk membaca, karena aktivitas ini dapat menghibur hati saat suasana sedang semrawut. Selain itu, membaca juga membantu saya mencari referensi untuk mata kuliah yang sedang saya tempuh.

Dari perkuliahan yang saya jalani sebanyak tiga kali di tiga perguruan tinggi, saya mendapatkan pengalaman baru dalam menulis karya-karya ilmiah, termasuk menulis skripsi dan PTK.  Pengetahuan baru ini menjadi sumber penghasilan saya saat itu. Lucu, tapi rasanya sangat berkesan. Saya membantu orang lain menulis karya ilmiah dan mendapatkan honor. Selain rupiah yang saya terima, ada hal lain yang saya rasakan dari aktivitas menulis ini. Kira-kira, apa yang saya dapatkan dari menulis?

Ternyata, banyak sekali ilmu dan manfaat yang saya dapatkan dari menjadi seorang penulis (meskipun penulis amatir). Saya memperoleh tambahan ilmu pengetahuan, kenyamanan hati, kesehatan mental maupun spiritual, serta kepuasan batin yang sungguh luar biasa. Segala gundah gulana dan unek-unek yang ada dalam hati hilang seketika. Mungkin energinya terserap oleh fokus dan pikiran yang bekerja keras untuk menuangkan seluruh ide dan gagasan ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada lagi rasa menggerutu dalam jiwa tentang semua kenyataan yang terjadi, karena semuanya telah tertuang melalui kalmat-kalimat dalam tulisan saya.

Oleh sebab itu, saya anjurkan kepada anak-anak, murid, keluarga, handai tolan, dan para pembaca lainnya untuk meluangkan waktu untuk menulis. Misalnya, sekadar menulis buku harian tentang kejadian suka maupun duka, itu sangat berdampak positif bagi kesehatan jiwa dan raga kita. Dulu. saya pun mempunyai buku harian dari mulai SD hingga perguruan tinggi. Semua emosi jiwa saya tuangkan dalam buku harian, dicurahkan sedalam-dalamnya, dan sangat aman karena tidak ada yang mengetahui tulisan itu kecuali jika hilang bukunya.

      Saya pernah membaca sebuah artikel tentang cara atau terapi menyembuhkan orang yang mengalami depresi berat. Ternyata, dengan memberikan satu lembar kertas dan pulpen dalam setiap hari, pasien diminta untuk menuliskan semua emosi jiwanya. Dalam kesimpulan artikel tersebut, pasien yang mengalami depresi berat tersebut berangsur-angsur sembuh. Kasus ini hampir mirip dengan kesaksian dokter ahli jiwa yang menangani anak kecanduan permainan online di gadget. Setiap harinya, anak tersebut  diberikan beberapa lembar kertas HVS ukuran besar untuk di corat-coret atau digambar sesuai dengan kondisi kejiwaannya. Beberapa bulan kemudian penyakit kecanduannya sembuh.

        Memahami dua kasus di atas, ternyata menulis apa pun itu dapat membuat jiwa dan hati kita menjadi lebih sehat. Jangankan menulis dengan serius, dengan memahami arah dan tujuan kita menulis, bahkan menulis tanpa arah pun bisa dijadikan terapi pengobatan. Untuk lebih meyakinkannya, mungkin perlu dilakukan penelitan lebih lanjut oleh para dokter dan psikiater. Namun, pengalaman saya pun mengatakan hal yang sama; selama saya rajin menulis, saya jarang sekali terkena sakit. Namun, ketika saya enggan menulis, penyakit berbondong-bondong menghampiri. Sangat menarik fenomena tersebut bukan?

           Melihat salah satu manfaat menulis yang dapat dijadikan obat hati, saya semakin tertarik untuk terus menulis. Menulis tentang apa pun, tentang siapapun, atau harapan-harapan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Bahan tulisan kita bisa berupa kenyataan atau hasil dari daya imajinasi dan khayalan yang kita ciptakan sendiri. Kadang, saya menciptakan sebuah sosok atau tokoh yang sangat sempurna sifatnya, sebuah tokoh ideal yang tidak mungkin ada kecuali baginda Muhammad SAW. Untuk apa? Agar kita tertarik dengan daya imajinasi dan membuat hidup tulisan yang dibuat.

           Pesan saya, jangan sibuk membandingkan tulisan kita dengan tulisan orang lain, karena setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing dan tujuan yang berbeda pula. Mari luangkan waktu untuk menulis, sekadar untuk menjaga kesehatan mental, jiwa,  dan raga kita. Hal ini sejalan dengan pepatah Latin yang saya kagumi, yaitu: “Mens sana in corpore sano,” yang artinya “Jiwa yang sehat terdapat  dalam tubuh yang sehat.”

            Mulailah menulis dari hal-hal kecil, lama kelamaan akan menjadi besar, dari hal-hal yang dekat dengan diri hingga yang sangat jauh. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam setiap ide dan gagasan yang akan kita tuliskan. Aamiin Ya Rabbal’Alamin. (EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...