https://www.tempo.co/gaya-hidup/penderita-gangguan-narsistik-rentan-mengidap-depresi-1178725
Kali
ini saya akan membahas tentang Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Apa itu NPD? Apakah berbahaya jika kita berteman dengan seorang NPD? Atau jangan-jangan
kita sendiri termasuk dalam kategori NPD? Mari kita bahas secara gamblang
tentang definisi dan ciri-ciri dari NPD ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), narsisistik
atau narsis adalah sikap yang menunjukkan kepedulian yang berlebihan
kepada diri sendiri. sifat narsisistik ini bisa berkembang menjadi
gangguan kepribadian narsistik (NPD). NPD merupakan gangguan
kesehatan mental yang ditandai dengan rasa penting diri yang berlebihan,
kebutuhan untuk terus dikagumi, serta kurangnya empati terhadap orang lain.
Ciri-ciri NPD adalah: percaya diri yang berlebihan,
sikap arogan dan egois, mudah kecewa dengan kritik, bahkan terhadap kritik yang
bersifat konstruktif, serta sangat sensitif terhadap penilaian orang lain. Mereka
tampak percaya diri, tetapi sebenarnya penuh ketergantungan pada pujian, Selain
itu, individu dengan NPD cenderung mau
menang sendiri dan defensif, mudah marah atau meledak saat menghadapi sudut
pandang yang berbeda, merasa diri paling hebat, serta merendahkan orang lain
untuk meningkatkan harga dirinya.
Menurut
sumber lain, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan
kepribadian yang ditandai dengan rasa cinta dan kebanggaan berlebihan terhadap
diri sendiri, yang kerap ditunjukkan secara berlebihan kepada orang lain. Individu
dengan NPD memiliki hasrat kuat untuk dipuji dan diakui, bahkan tak segan untuk
meremehkan dan merendahkan orang lain demi meningkatkan citra dirinya.
Orang-orang
dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering memanfaatkan media sosial sebagai sarana
aktualisasi diri dengan memamerkan “kehebatan-kehebatan” mereka, yang terkadang
hanya ilusi semata dan tidak sesuai dengan kenyataanya. Perilaku narsistik ini cenderung
lebih sering muncul pada remaja, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
perilaku konsumtif, yang kemudian difasilitasi oleh media sosial seperti Instagram,
TikTok. Selain itu, perilaku tersebut juga didukung oleh keyakinan untuk
meningkatkan harga diri atau self esteem.
Namun, apakah NPD
ini hanya berlaku di kalangan remaja saja? Jangan terburu-buru untuk menjawab. Mari
kita tuntaskan pembahasan ini terlebih dahulu.
Istilah
narsisme secara bahasa berasal dari Bahasa Belanda, yaitu narcism,
dan dari Bahasa Inggris, yaitu narcissism, yang keduanya memiliki arti
yaitu sebuah perasaan cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan.
Sedangkan,
dalam Kamus Psikologi, narsisme diartikan sebagai cinta diri atau
perhatian yang berlebihan terhadap diri sendiri. Secara istilah, narsisme
berasal dari kata narcissistic, dan orang yang mengalami gejala ini
disebut narsisis (narcissist).
Sebenarnya, jika masih dalam tahap wajar, sifat narsis bukanlah masalah
dan cenderung dimiliki oleh semua orang. Namun, jika kadarnya sudah terlalu
berlebihan, hal itu bisa menjadi pertanda adanya gangguan kepribadian narsistik
(Narcisstic Personality Disorder/NPD). (Halo doc).
Secara
umum, orang dengan gangguan kepribadian narsitik (NPD) memiliki kebutuhan mendalam untuk diperhatikan dan dikagumi. Mereka
juga cenderung kurang bisa berempati
terhadap orang lain. Jika perhatian atau penghormatan yang mereka harapkan
tidak didapatkan, mereka mudah merasa tersakiti dan sangat kecewa.
Secara
sains, tidak ditemukan sebab yang pasti yang menjelaskan penyebab narsisme. Namun,
berbagai riset yang menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang
menandakan seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik (NPD) antara lain:
1) Merasa dirinya sangat penting dan ingin dikenal oleh orang lain. 2) Merasa
diri unik dan istimewa. 3) Suka dipuji dan jika perlu memuji diri sendiri. 4)
Kecanduan difoto atau dishooting. 5) Suka berlama-lama di depan cermin. 6)
Kebanggaan berlebih. 7) Mengambil keuntungan dari orang lain demi kepentingan
diri sendiri. 8) Perilaku congkak atau sombong. (Jurnal penelitian dari Saidah,
Afidatur Rohmah).
Menurut
Saidah, Istilah narsisme lebih mengarah pada sebuah sifat takabur. Dalam khazanah
Islam, takabur memiliki beberapa kata semakna seperti: fakhur (sombong), hasad
(iri dengki), ‘ujub (berbangga diri), riya (pamer amal), dan ‘utuw (melampaui
batas). Beberapa sifat ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai perilaku
yang tercela dan dilarang dalam ajaran agama.
Sifat-sifat
tersebut tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga dapat mengikis
nilai-nilai kebaikan dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, penting bagi kita
untuk senantiasa waspada terhadap perilaku ini dan berusaha menjauhinya.
Secara
umum, mencintai diri sendiri adalah hal yang natural dan penting. Setiap manusia membutuhkan
rasa cinta pada dirinya agar bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh
Sang Maha Pencipta. Namun, ketika rasa cinta diri tersebut berubah menjadi obsesi
yang berlebihan, bahkan sampai memaksa orang lain untuk mengakui atau memuja
dirinya, maka hal itu akan berdampak negatif baik bagi dirinya sendiri maupun
lingkungan sekitar.
Sikap
ini dapat menjadi cikal bakal munculnya gangguan mental, seperti gangguan
kepribadian narsistik yang akhirnya mengganggu hubungan sosial dan kesehatan
mental individu tersebut. Oleh karena itu, memiliki keseimbangan antara
mencintai diri sendiri dan menjaga empati terhadap orang lain sangatlah
penting.
Perkembangan
dunia modern saat ini, khususnya dalam bidang sosial media mengubah gaya hidup seluruh
manusia di dunia. Kebutuhan aktualisasi diri berubah menjadi kebutuhan utama
bagi kebanyakan orang. Kebutuhan ini tewujud dengan aksi pamer atau flexing
di media sosial. Mempertontonkan segala bentuk pencapaian hidupnya dan wajib mendapat
validasi serta penghargaan dari orang lain. Kebutuhan ini menjadi pendorong
untuk menyebarnya Narsisme.
Pertanyaannya,
apakah yang menggunakan media sosial itu hanya kalangan remaja? Tidak adakah
orang dewasa yang menggunkan media sosial untuk mengaktualisasi diri? Sudah menjadi
rahasia umum, bahwa media sosial digunakan oleh kalangan muda maupun dewasa. Tidak
sedikit orang dewasa yang melakukan playing flexing di media sosialnya. Dengan
memamerkan semua kehebatannya, akan melahirkan sifat sombong bahwa dirinya
lebih hebat daripada orang lain. Dengan demikian, jawaban pertanyaan pada paragraf
sebelumnya segera terjawab. Bahwa perilaku Narcissistic Personality Disorder
(NPD) bisa juga di miliki oleh orang dewasa, tidak hanya kalangan
remaja.
Saya
mengasumsikan bahwa Narcissistic Personality Disorder (NPD) ini
adalah gangguan mental yang berbahaya dan dapat dikategorikan sebagai penyakit
hati. Seperti halnya penyakit hati lainnya, NPD sulit dideteksi oleh diri
sendiri. bahkan dalam banyak kasus, penderita tidak menyadari bahwa mereka sudah
mengalami gangguan tersebut.
Namun,
jika seseorang mampu menyadari bahwa dirinya menunjukkan gejala NPD, Langkah terbaik
adalah segera mencari pertolongan professional, seperti terapi dengan psikiater
atau psikolog. Dengan terapi yang tepat, gangguan ini bisa diatasi secara
bertahap, sehingga individu dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari yang
lebih sehat, baik secara mental, emosional, maupun sosial.
Penderita
NPD jarang menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan tersebut. Hal ini terjadi
karena rasa egois yang begitu kuat dalam dirinya, serta kecenderungan untuk membenarkan
dan memantaskan setiap tindakan yang dilakukan. Mereka memandang pencapaian
pribadi sebagai bukti superioritas, seolah-olah keberhasilan itu adalah tanda
bahwa mereka memang layak dibanggakan. Alasannya sederhana, tidak semua orang
dapat mencapai level kekuasaan, kehebatan, atau prestasi yang telah mereka
raih.
Pertanyaan
yang muncul bagaimana jika yang mempunyai NPD adalah anggota keluarga sendiri? Jawaban
yang mungkin adalah dengan menasehatinya secara persuasif serta membujuk
untuk melakukan konsultasi kepada pihak yang kompeten di bidangnya. Kendatipun diucapkan
sangat mudah, tapi ketika akan dilaksanakan akan terjadi halangan dan rintangan
yang tidak mudah.
Sekarang,
bagaimana jika orang dengan perilaku NPD itu adalah teman, rekan sejawat, atau
bahkan atasan kita di kantor? Tentu tidak mudah, untuk menasehati atau menyarankan
mereka melakukan pemeriksaan. Apalagi, kebanyakan orang dengan NPD tidak
menyadari bahwa mereka memiliki gangguan mental tersebut. Sebaliknya, mereka
justru sering memperlakukan orang lain dengan buruk, meremehkan, atau bahkan
merendahkan demi mempertahankan citra diri yang mereka banggakan.
Menghadapi
situasi seperti ini membutuhkan strategi yang bijak dan penuh kahati-hatian,
bukan konfrontasi langsung yang justru bisa memperburuk keadaan.
Bagaimana
tetap bergaul dengan orang NPD? Tentu ini bukan hal yang mudah. Berinteraksi terus
menerus dengan seorang yang mengidap NPD dapat memengaruhi kesehatan mental
kita sendiri. Bahkan, dalam jangka panjang, kita bisa rentan mengalami stress,
gangguan kecemasan, atau lebih ekstrem, justru terpengaruh dan meniru perilaku
narsistik tersebut.
Dengan
demikian, penting bagi kita untuk mengenali ciri-ciri orang dengan NPD sejak
awal dan memahami cara tepat dalam menghadapinya. Solusinya adalah dengan
belajar mencari ilmu dan strategi yang tepat dalam berinteraksi dengan mereka.
Berinteraksi
dengan orang yang berperilaku NPD memang membutuhkan strategi khusus agar kita
tetap sehat secara mental. Berikut beberapa strategi yang dapat kita lakukan
adalah: menerima kondisi, jaga jarak emosional, tetap tenang, tolak dengan
tegas, jangan takut di “cut off” orang lain, dan teguhkan prinsip serta
keyakinan diri dalam menjalani hubungan sosial dalam kehidupan.
Namun,
ada hal penting yang harus kita pahami. Jangan sampai kita dengan mudah menuduh
orang lain sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD),
padahal mungkin justru kitalah yang sebenarnya mengalami gangguan mental
tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan ciri-ciri
dan karakteristik dari NPD. Tidak semua perilaku yang tampak seperti narsisme
berarti seseorang mengalami gangguan mental.
Kesimpulan dan penilaian sangat bergantung pada
pemahaman ilmu serta pengalaman masing-masing individu. Jangan biarkan
prasangka membuat kita salah menilai orang lain. Sebaiknya, serahkan diagnosis
kepada tenaga professional.
Satu pesan dari
saya:
“Tetaplah menjaga
kesehatan mental Anda. Jangan sampai Anda menjadi racun dalam kehidupan orang
lain.” (EAS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar