Sabtu, 08 Februari 2025

NPD

 

https://www.tempo.co/gaya-hidup/penderita-gangguan-narsistik-rentan-mengidap-depresi-1178725


Kali ini saya akan membahas tentang Narcissistic Personality Disorder (NPD). Apa itu NPD? Apakah berbahaya jika kita berteman dengan seorang NPD? Atau jangan-jangan kita sendiri termasuk dalam kategori NPD? Mari kita bahas secara gamblang tentang definisi dan ciri-ciri dari NPD ini.  

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), narsisistik atau narsis adalah sikap yang menunjukkan kepedulian yang berlebihan kepada diri sendiri. sifat narsisistik ini bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian narsistik (NPD). NPD merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan untuk terus dikagumi, serta kurangnya empati terhadap orang lain.

Ciri-ciri NPD adalah: percaya diri yang berlebihan, sikap arogan dan egois, mudah kecewa dengan kritik, bahkan terhadap kritik yang bersifat konstruktif, serta sangat sensitif terhadap penilaian orang lain. Mereka tampak percaya diri, tetapi sebenarnya penuh ketergantungan pada pujian, Selain itu,  individu dengan NPD cenderung mau menang sendiri dan defensif, mudah marah atau meledak saat menghadapi sudut pandang yang berbeda, merasa diri paling hebat, serta merendahkan orang lain untuk meningkatkan harga dirinya.

Menurut sumber lain, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa cinta dan kebanggaan berlebihan terhadap diri sendiri, yang kerap ditunjukkan secara berlebihan kepada orang lain. Individu dengan NPD memiliki hasrat kuat untuk dipuji dan diakui, bahkan tak segan untuk meremehkan dan merendahkan orang lain demi meningkatkan citra dirinya.

Orang-orang dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD)  sering memanfaatkan media sosial sebagai sarana aktualisasi diri dengan memamerkan “kehebatan-kehebatan” mereka, yang terkadang hanya ilusi semata dan tidak sesuai dengan kenyataanya. Perilaku narsistik ini cenderung lebih sering muncul pada remaja, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perilaku konsumtif, yang kemudian difasilitasi oleh media sosial seperti Instagram, TikTok. Selain itu, perilaku tersebut juga didukung oleh keyakinan untuk meningkatkan harga diri atau self esteem.

Namun, apakah NPD ini hanya berlaku di kalangan remaja saja? Jangan terburu-buru untuk menjawab. Mari kita tuntaskan pembahasan ini terlebih dahulu.

Istilah narsisme secara bahasa berasal dari Bahasa Belanda, yaitu narcism, dan dari Bahasa Inggris, yaitu narcissism, yang keduanya memiliki arti yaitu sebuah perasaan cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan.

Sedangkan, dalam Kamus Psikologi, narsisme diartikan sebagai cinta diri atau perhatian yang berlebihan terhadap diri sendiri. Secara istilah, narsisme berasal dari kata narcissistic, dan orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist).

Sebenarnya, jika masih dalam tahap wajar, sifat narsis bukanlah masalah dan cenderung dimiliki oleh semua orang. Namun, jika kadarnya sudah terlalu berlebihan, hal itu bisa menjadi pertanda adanya gangguan kepribadian narsistik (Narcisstic Personality Disorder/NPD). (Halo doc).

Secara umum, orang dengan gangguan kepribadian narsitik (NPD) memiliki kebutuhan  mendalam untuk diperhatikan dan dikagumi. Mereka  juga cenderung kurang bisa berempati terhadap orang lain. Jika perhatian atau penghormatan yang mereka harapkan tidak didapatkan, mereka mudah merasa tersakiti dan sangat kecewa.

Secara sains, tidak ditemukan sebab yang pasti yang menjelaskan penyebab narsisme. Namun, berbagai riset yang menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang menandakan seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik (NPD) antara lain: 1) Merasa dirinya sangat penting dan ingin dikenal oleh orang lain. 2) Merasa diri unik dan istimewa. 3) Suka dipuji dan jika perlu memuji diri sendiri. 4) Kecanduan difoto atau dishooting. 5) Suka berlama-lama di depan cermin. 6) Kebanggaan berlebih. 7) Mengambil keuntungan dari orang lain demi kepentingan diri sendiri. 8) Perilaku congkak atau sombong. (Jurnal penelitian dari Saidah, Afidatur Rohmah).

Menurut Saidah, Istilah narsisme lebih mengarah pada sebuah sifat takabur. Dalam khazanah Islam, takabur memiliki beberapa kata semakna seperti: fakhur (sombong), hasad (iri dengki), ‘ujub (berbangga diri), riya (pamer amal), dan ‘utuw (melampaui batas). Beberapa sifat ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai perilaku yang tercela dan dilarang dalam ajaran agama.

Sifat-sifat tersebut tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga dapat mengikis nilai-nilai kebaikan dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk senantiasa waspada terhadap perilaku ini dan berusaha menjauhinya.

Secara umum, mencintai diri sendiri adalah hal  yang natural dan penting. Setiap manusia membutuhkan rasa cinta pada dirinya agar bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Namun, ketika rasa cinta diri tersebut berubah menjadi obsesi yang berlebihan, bahkan sampai memaksa orang lain untuk mengakui atau memuja dirinya, maka hal itu akan berdampak negatif baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

Sikap ini dapat menjadi cikal bakal munculnya gangguan mental, seperti gangguan kepribadian narsistik yang akhirnya mengganggu hubungan sosial dan kesehatan mental individu tersebut. Oleh karena itu, memiliki keseimbangan antara mencintai diri sendiri dan menjaga empati terhadap orang lain sangatlah penting.

Perkembangan dunia modern saat ini, khususnya dalam bidang sosial media mengubah gaya hidup seluruh manusia di dunia. Kebutuhan aktualisasi diri berubah menjadi kebutuhan utama bagi kebanyakan orang. Kebutuhan ini tewujud dengan aksi pamer atau flexing di media sosial. Mempertontonkan segala bentuk pencapaian hidupnya dan wajib mendapat validasi serta penghargaan dari orang lain. Kebutuhan ini menjadi pendorong untuk menyebarnya Narsisme.

Pertanyaannya, apakah yang menggunakan media sosial itu hanya kalangan remaja? Tidak adakah orang dewasa yang menggunkan media sosial untuk mengaktualisasi diri? Sudah menjadi rahasia umum, bahwa media sosial digunakan oleh kalangan muda maupun dewasa. Tidak sedikit orang dewasa yang melakukan playing flexing di media sosialnya. Dengan memamerkan semua kehebatannya, akan melahirkan sifat sombong bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Dengan demikian, jawaban pertanyaan pada paragraf sebelumnya segera terjawab. Bahwa perilaku Narcissistic Personality Disorder (NPD) bisa juga di miliki oleh orang dewasa, tidak hanya kalangan remaja.

Saya mengasumsikan bahwa Narcissistic Personality Disorder (NPD) ini adalah gangguan mental yang berbahaya dan dapat dikategorikan sebagai penyakit hati. Seperti halnya penyakit hati lainnya, NPD sulit dideteksi oleh diri sendiri. bahkan dalam banyak kasus, penderita tidak menyadari bahwa mereka sudah mengalami gangguan tersebut.

Namun, jika seseorang mampu menyadari bahwa dirinya menunjukkan gejala NPD, Langkah terbaik adalah segera mencari pertolongan professional, seperti terapi dengan psikiater atau psikolog. Dengan terapi yang tepat, gangguan ini bisa diatasi secara bertahap, sehingga individu dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari yang lebih sehat, baik secara mental, emosional, maupun sosial.

Penderita NPD jarang menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan tersebut. Hal ini terjadi karena rasa egois yang begitu kuat dalam dirinya, serta kecenderungan untuk membenarkan dan memantaskan setiap tindakan yang dilakukan. Mereka memandang pencapaian pribadi sebagai bukti superioritas, seolah-olah keberhasilan itu adalah tanda bahwa mereka memang layak dibanggakan. Alasannya sederhana, tidak semua orang dapat mencapai level kekuasaan, kehebatan, atau prestasi yang telah mereka raih.

Pertanyaan yang muncul bagaimana jika yang mempunyai NPD adalah anggota keluarga sendiri? Jawaban yang mungkin adalah dengan menasehatinya secara persuasif serta membujuk untuk melakukan konsultasi kepada pihak yang kompeten di bidangnya. Kendatipun diucapkan sangat mudah, tapi ketika akan dilaksanakan akan terjadi halangan dan rintangan yang tidak mudah.

Sekarang, bagaimana jika orang dengan perilaku NPD itu adalah teman, rekan sejawat, atau bahkan atasan kita di kantor? Tentu tidak mudah, untuk menasehati atau menyarankan mereka melakukan pemeriksaan. Apalagi, kebanyakan orang dengan NPD tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan mental tersebut. Sebaliknya, mereka justru sering memperlakukan orang lain dengan buruk, meremehkan, atau bahkan merendahkan demi mempertahankan citra diri yang mereka banggakan.

Menghadapi situasi seperti ini membutuhkan strategi yang bijak dan penuh kahati-hatian, bukan konfrontasi langsung yang justru bisa memperburuk keadaan.

Bagaimana tetap bergaul dengan orang NPD? Tentu ini bukan hal yang mudah. Berinteraksi terus menerus dengan seorang yang mengidap NPD dapat memengaruhi kesehatan mental kita sendiri. Bahkan, dalam jangka panjang, kita bisa rentan mengalami stress, gangguan kecemasan, atau lebih ekstrem, justru terpengaruh dan meniru perilaku narsistik tersebut.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengenali ciri-ciri orang dengan NPD sejak awal dan memahami cara tepat dalam menghadapinya. Solusinya adalah dengan belajar mencari ilmu dan strategi yang tepat dalam berinteraksi dengan mereka.

Berinteraksi dengan orang yang berperilaku NPD memang membutuhkan strategi khusus agar kita tetap sehat secara mental. Berikut beberapa strategi yang dapat kita lakukan adalah: menerima kondisi, jaga jarak emosional, tetap tenang, tolak dengan tegas, jangan takut di “cut off” orang lain, dan teguhkan prinsip serta keyakinan diri dalam menjalani hubungan sosial dalam kehidupan.

Namun, ada hal penting yang harus kita pahami. Jangan sampai kita dengan mudah menuduh orang lain sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD),  padahal mungkin justru kitalah  yang sebenarnya mengalami gangguan mental tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan kehati-hatian dalam menafsirkan ciri-ciri dan karakteristik dari NPD. Tidak semua perilaku yang tampak seperti narsisme berarti seseorang mengalami gangguan mental.

 Kesimpulan dan penilaian sangat bergantung pada pemahaman ilmu serta pengalaman masing-masing individu. Jangan biarkan prasangka membuat kita salah menilai orang lain. Sebaiknya, serahkan diagnosis kepada tenaga professional.

Satu pesan dari saya:

“Tetaplah menjaga kesehatan mental Anda. Jangan sampai Anda menjadi racun dalam kehidupan orang lain.”  (EAS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...