Sabtu, 19 April 2025

KEHILANGAN

 

https://depositphotos.com/id/photos/kehilangan-seseorang.html

Tulisan kali ini berkisah tentang kata “kehilangan”. Entah itu kehilangan dalam arti yang sesungguhnya, ataupun kehilangan rasa dari pribadi seseorang. Kehilangan bisa dikatakan sebagai pengalaman yang lumrah dan kerap kali dialami oleh setiap orang di muka bumi.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita pahami terlebih dahulu definisi dari kehilangan. Sebab, pada dasarnya, setiap orang tentu pernah mengalami kehilangan, dalam berbagai bentuk dan situasi.

KBBI mendefinisikan kehilangan sebagai bentuk pasif dari menghilangkan, atau menderita sesuatu karena hilang. Kehilangan juga bisa diartikan sebagai tindakan atau fakta tidak mampu menjaga atau memelihara sesuatu atau seseorang. Kehilangan merupakan hukum alam, bahwa apa yang kita miliki adalah titipan, tidak akan kekal selamanya.

Kehilangan memang merupakan pengalaman yang menyakitkan, namun dengan mengingat ayat-ayat Al-Qur'an dan mempercayakan diri kepada Allah, kita dapat menemukan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Ayat-ayat quran yang membahas tentang kehilangan di antaranya adalah: surah Al-Baqarah ayat 155-157, surah Ali 'Imran ayat 169, surah Al-Insyirah ayat 5-6, Surah Ar-Ra'd ayat 28, dan surah An-Nahl ayat 96. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya sabar, ikhlas, dan mengingat Allah dalam setiap ujian dan cobaan, termasuk kehilangan. 

Menurut saya, kehilangan adalah perasaan ditinggalkan oleh sesuatu atau seseorang yang dianggap milik kita. Misalnya ditinggalkan oleh harta benda, orang yang kita cintai, jabatan, cinta kasih, maupun kepercayaan dari orang lain. Semua peristiwa tersebut meninggalkan hati yang sedih, kecewa, bahkan terluka.

Kita menganggap harta benda yang kita miliki bukan titipan Allah sehingga ketika Allah mengambilnya kembali kita sangat merana. Keluarga yang berada dekat dengan kita akan selamanya berada dalam pelukan, namun ternyata mereka akan meninggalkan kita karena dipanggil pulang oleh Sang Maha Khalik. Begitupula jabatan, cinta kasih, atau kepercayaan dari orang lain, akan meninggalkan kita sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Kilas balik dengan pengalaman saya yang merasakan kehilangan segalanya. Dunia seakan kiamat, kehidupan pun hampa, dan tidak lagi mempunyai harapan untuk bahagia. Ketika tahun 1998, sekitar bulan Mei. Ibuku meninggal dunia dikarenakan mempunyai penyakit liver akut. Kesedihan dan luka hati masih sangat terasa sampai sekarang. Walaupun puluhan tahun sudah berlalu, namun rasa sakit kehilangan masih melekat erat dalam sanubari.

Saya kehilangan orang yang paling dicintai, kehilangan rasa cinta kasih seorang ibu, kehilangan doa-doa yang selalu dipanjatkan setiap sujud dalam salatnya. Dunia pun gelap gulita namun memaksa diri untuk segera bangkit dari keterpurukan. Waktu itu saya merasakan depresi yang sangat luar biasa, krisis kepercayaan kepada Allah SWT. Dalam hati selalu bertanya, “Mengapa semua ini terjadi padaku?”

Kejadian tersebut menimpa ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada salah satu SMAN di Kota Bandung. Titik kesedihan yang paling dalam terjadi padaku, sampai ingin menyusul kepergian ibuku.

Tidak mudah bagi saya, bangkit dari kesedihan karena kehilangan seorang ibu. Namun, secara perlahan Allah membimbingku untuk terus melanjutkan hidup dengan menelan kepahitan. Sering saya mendengar pesan moral dan nasihat dari bapak, keluarga besar, guru-guru, para ustad, dan teman-temanku bahwa dibalik semua yang terjadi ada hikmah yang Allah berikan pada kita. Saya hanya menangis dan berpikir bahwa mereka dapat berbicara seperti itu, karena tidak merasakan apa yang aku rasakan. Namun ada satu kalimat dari temanku yang membuat saya bangkit lagi yaitu “Andai ibumu masih hidup dan masih tinggal bersamamu, dia akan menderita karena sakitnya.”

Kalimat tersebut yang menusuk jantungku, karena memang benar andaikan ibuku bertahan hidup pasti sedang menderita, mungkin dalam jangka waktu yang panjang. Karena para dokter sudah tidak bisa menanganinya lagi, apalagi saya yang hanya seorang gadis muda yang tidak tahu menahu tentang pengobatan. Tentunya saya tidak akan sanggup melihat orang yang paling dicintai menderita dalam waktu lama, sementara saya tidak mampu menolong sedikit pun.

Hari demi hari saya lalui tanpa keberadaan seorang ibu, pahit dan sulit dirasakan namun semuanya harus saya jalani. Saya masih mencari makna dan hikmah dari kepergian ibuku. Tiga tahun kemudian, ketika saya masih di bangku kuliah semester tiga, saya memutuskan untuk menikah. Keputusan yang sangat sulit namun saya yakin akan memperbaiki kisah hidupku.

Gadis muda yang polos tanpa pengalaman atau pengetahuan apapun tentang berumah tangga malah mendapat ujian dan cobaan yang beragam. Ternyata dengan menikah masalah hidup bukannya berkurang namun bertambah. Alhamdulillah, karena persamaan prinsip dan keyakinan yang saya miliki bersama suami, masalah besar menjadi kecil dan masalah kecil menjadi tidak ada. Walau demikian, saya belum sepenuhnya menyadari hikmah dari kehilangan ibuku.

Saya tidak putus asa, selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar ditunjukkan hikmah dari kehilangan ibuku. Kini ketika usia pernikahanku sudah mencapai puluhan tahun (24 tahun) lamanya, baru menyadari sepenuhnya tentang segala hikmah dan makna dari kehilangan ibuku. Mungkin dulu juga sudah banyak hikmahnya, namun sayang saya tidak pernah menyadarinya. Di antara hikmahnya yaitu: saya menjadi wanita kuat, hebat, mandiri, tangguh, dan mampu bertahan dalam kepahitan hidup, dan yang paling penting saya tumbuh menjadi wanita yang tidak pernah putus asa dan pantang menyerah dalam segala hal. Bila ibuku masih ada, kemungkinan besar saya tidak akan menjadi sekuat ini dalam menjalani kehidupan.

Sesi kedua kehilangan mendalam yang saya alami adalah kehilangan bapak tercinta. Tepatnya pada hari Kamis, 10 April 2025, bapak meninggalkan kami semua. Peristiwa itu membuatku terpukul dan menempatkan pada kesehatanku yang memburuk. Sedih yang saya rasakan sampai ke dasar hati. Sakit memang, sedih juga betul, namun mungkin tidak sesakit ketika ditinggalkan ibu dahulu. Mungkin dikarenakan saya sudah dewasa, sehingga dapat mengendalikan emosi jiwa, atau mungkin telah mendapatkan kesakitan yang melebihi peristiwa ini.

Dari pengalaman hidup yang saya lalui, dengan mudah saya mendapatkan makna dan hikmah di balik semuanya. Ibu dan bapakku bukan milikku, mereka titipan yang Allah berikan pada kami anak-anaknya. Dan ketika mereka diambil kembali oleh pemiliknya tentunya kami harus merelakannya. Tidak saya pungkiri, air mata tidak henti-hentinya membasahi pipi disebabkan kesedihan ditinggalkan bapak. Namun saat ini saya lebih ikhlas dan ridha atas takdir yang diberikan-Nya.

Satu hal yang tidak pernah lepas dari hati, adalah kerinduan yang mendalam terhadap ibuku, dan mungkin sekarang kerinduan itu menjadi bertambah kepada bapak. Sudah puluhan tahun berlalu ditinggalkan oleh ibuku, namun kerinduan di hati tetap menyala. Nama ibuku tetap hadir dalam setiap langkahku, dalam setiap kalimat yang saya tuliskan, dalam buku yang saya terbitkan selalu ada nama ibuku menghiasinya. Segala kenangan semasa hidup mendiang ibuku selalu hadir dan menari dalam anganku, dan sekarang menyusul kenangan bapak yang akan tetap hidup menemani hari-hariku selanjutnya.

Ya Allah, Ya Tuhanku, terima kasih Engkau telah memberikan seorang Ibu dan Bapak yang hebat dan luar biasa pada kami. Biarkanlah kerinduan ini tetap abadi dan tersimpan dalam setiap doa pada-Mu. Peluklah mereka dalam cinta kasih-Mu, selamatkan mereka dari siksa kubur dan siksa api neraka, Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. Akhirnya semua kehilangan harus diterima dengan seikhlas-ikhlasnya. Mei, 1998; April, 2025. EAS.

Selasa, 25 Maret 2025

KEBENCIAN

             

https://sellairene.wordpress.com/2015/10/27/renungan-kebencian-beautifulwords/

         

            Dalam beberapa hari ke depan, kita akan bertemu dengan hari besar umat islam, yaitu Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Pada hari tersebut, kita akan melakukan musafahah atau saling bermaafan dengan saudara, sanak, keluarga, serta orang-orang yang selalu hadir dalam kehidupan kita. Sebelum itu, ada baiknya kita memahami dosa dan kesalahan apa saja yang telah kita perbuat sehingga perlu dibersihkan. Salah satunya adalah menjaga kebersihan hati dari sifat benci, atau dengan kata lain, membersihkan hati dan jiwa dari rasa kebencian.

Mari kita awali dengan memahami arti dari kata “kebencian” itu sendiri. Kita sering memaknai bahwa benci itu adalah perasaan tidak suka terhadap sesuatu objek. Apakah benar demikian? Apakah benar “benci” dan “tidak suka” adalah satu hal yang sama?

Menurut sumber yang saya dapatkan, definisi kebencian adalah: 1) A deep and extreme emotional dislike (Ketidaksukaan emosional yang mendalam dan ekstrim); 2)  A deep, enduring, intense expression animosity, anger, and hostility towards a person, group, or object (Ekspresi permusuhan, kemarahan, dan permusuhan yang mendalam, abadi, dan intens terhadap seseorang, kelompok, atau objek); 3) An ego state that wishes to destroy the source of its unhappiness (Keadaan ego yang ingin menghancurkan sumber ketidakbahagiaannya).

Dari definisi di atas, kita dapat membedakan antara benci dan tidak suka. Kata “tidak suka” sangat berbeda dengan kata “benci”. Tidak suka adalah sebuah sikap awal dari lahirnya kebencian. Kebencian diawali dengan sikap tidak suka yang mendalam, dipelihara terus menerus dalam pikiran seseorang, sampai ke tahap ekstrim dan terus hidup dalam jiwa terhadap sesuatu hal, baik itu terhadap sesama manusia maupun terhadap benda-benda lainnya.

Menurut Teori lain yang saya dapatkan, antara “benci” dan “cinta” ada satu persamaan yang signifikan. Keduanya berada pada ranah rasa atau perasaan seseorang yang mendalam. Memang betul, setelah ditelusuri secara mendetail ada rasa mendalam yang terus kita hidupkan dalam jiwa dan pikiran. Orang mencintai dengan orang yang membenci, keduanya terus memikirkan objek yang dibenci atau yang dicinta. Hanya bedanya jika orang yang mencintai memikirkannya bagaimana dapat membahagiakan orang yang dicinta, sedangkan orang yang membenci memikirkan bagaimana dapat menghancurkan orang yang dibenci. Makanya sering sekali kedua rasa ini bertukar posisi, dari benci jadi cinta ataupun sebaliknya.

Kita lihat hakikat dari kebencian itu sendiri, untuk lebih jelasnya ada beberapa perspektif yang dapat kita pahami yaitu:

1.     Perspektif Natural: watak dasar agresi yang bersifat adaftif bagi evolusi spesies (sifatnya instinktif).

2.     Perspektif Psikologi: sejarah pribadi-individual (berbagai ketakutan dan keraguan kita berasal dari ketidakmatangan, yang semua itu berakar dari berbagai kebutuhan akan keamanan yang tidak terpenuhi, sehingga melahirkan orang dewasa yang neurotik).

3.     Perspektif Sosial: hasil dari struktur, pengalaman dan pembelajaran sosial.

Selain hakikat kebencian, kita lihat juga pemicu lahirnya persepsi kebencian. Beberapa pemicu lahirnya kebencian antara lain adalah:

1.     Over Generalization

Peristiwa atau hal-hal kecil yang dianggap mewakili semuanya.

2.     Read The Thought

Menyangka bahwa kita bisa membaca pikiran orang lain, misalnya “pasti dia sedang menertawakanku”.

3.     Emosional Reasoning

Menganggap tanggapan emosional itu merupakan gambaran dari kenyataan. Kebingungan kita, kita anggap merupakan gambaran dari situasi yang memang membingungkan. Padahal mungkin hanya kita yang bingung, sementara orang lain tidak bingung.

4.     Customization

Menganggap satu variabel menjadi sebab lahirnya satu peristiwa, padahal sebenarnya variabel penyebabnya banyak.

5.     Maximization/Minimization

Menganggap satu variabel sebagai sesuatu yang sangat penting atau sangat tidak penting, tanpa peduli kenyataan yang sebenarnya.

6.     Catastrophic Thingking

Melihat satu peristiwa negatif sebagai “kiamat” dan tidak melihatnya sesuai porsi yang seharusnya. Misalnya seorang ibu yang panik saat merasakan benjolan di dadanya, kemudian merasa terkena penyakit kanker lalu merasa akan mati. Ibu tersebut sangat membenci benjolan di dadanya karena akan menjadi penyebab kematiannya.

Itulah enam faktor yang menjadi pemicu lahirnya kebencian dalam diri seseorang. Kita bisa tanyakan lebih jauh ke dalam diri apakah benar anggapan kita dalam membenci sesuatu hal sesuai dengan kenyataan atau faktanya? Jangan-jangan semua itu hanyalah permainan atau dramatisasi pikiran bawah sadar kita dalam menanggapi kehidupan di dunia ini? Atau hanyalah tipu daya manusia lain yang menginginkan kehancuran kita? Setidaknya, andaikan kita tidak menyukai sesuatu, cukup pada ranah “tidak suka” jangan sampai mendalam pada tingkat “kebencian” yang akan menimbulkan rasa dendam.

Harus kita pahami bahwa kebencian yang terus bersarang dan dihidupkan dalam jiwa seseorang akan menghancurkan dirinya sendiri bukan orang lain. Memelihara sesuatu dalam pikiran tentunya akan ada harga untuk membayarnya, untuk membayar rasa benci ini adalah rusaknya jiwa dan mental seorang pembenci. Orang yang terus memelihara rasa benci atau kebencian diibaratkan orang yang meminum racun tapi berharap orang lain yang meninggalnya. Sungguh tidak masuk akal bukan!

Puncak dari kebencian adalah “Genocide” yaitu melakukan pemusnahan besar-besaran/habis-habisan terhadap sesuatu yang dibenci. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam agama Islam justru sangat melarang adanya sifat benci, hasad, ataupun dengki pada orang lain karena sangat merugikan diri sendiri. Banyak ayat Al-Quran yang membahas tentang larangan kita membenci di antaranya: QS. Al-Maidah ayat 8, QS. Al-Hujurat ayat 12, dan QS. Al-Qosos ayat 55.   

Ada dua hadist yang saya kutip tentang rasa benci ini, yang pertama adalah  riwayat Zubair Bin Awwam yang berbunyi: “Telah menyebar di antara kalian penyakit orang-orang sebelum kalian (orang terdahulu), yaitu dengki dan benci. Benci itulah pemangkas yang akan memangkas agama bukan pemangkas rambut.” Sedangkan yang kedua diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang berbunyi:” Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”

Ada beberapa kata bijak dari para Tokoh Dunia tentang “kebencian” di antaranya sebagai berikut:

1.     Friedich Nietzsche

“Loved and hatred are not blind, but are blinded by the fire they bear within them selves.”

2.     Martin Luther King

“Hatred paraliyzes life; love releases it, Hatred confuses life; love harmonizes it, Hatred darkens life; love iluminates it.”

3.     Mahatma Gandhi

“Overcame hatred by loved, lie with truth and violence with patience.”

4.     Nelson Mandela

“No one is burn hating another person because of the color of his skin, or his backgroaund, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than it’s oppsite.”

Pembenci dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai “HATERS”. Apakah itu haters? HATERS adalah akronim dari:           H: Having

                                            A: Anger

                                            T: Towarsd

                                            E: Everyone

                                            R: Reaching

                                            S: Success

Secara sederhana artinya adalah “marah pada siapapun yang sukses”.     

 

            Tulisan ini saya akhiri dengan ucapan selamat menuntaskan ibadah puasa Ramadhan 1446 H, semoga ibadah ini dapat mengikis habis kebencian yang bersemayam dalam diri. Mudah-mudahan kita sampai pada hari yang fitri, hari yang benar-benar mengindikasikan kebersihan lahir batin, jiwa dan raga dari perasaan-perasaan yang merusak kehidupan kita di masa yang akan datang. “Cukuplah berkata tidak suka jangan sampai pada kata benci.” (EAS).          

Jumat, 14 Maret 2025

PUASA 2

 

https://www.genmuslim.id/khazanah/632890536/kisah-inspiratif-imam-al-ghazali-salah-seorang-ulama-tasawuf-yang-bergelar-hujjatul-islam

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang puasa menurut Imam Al Ghazali. Tulisan ini merupakan pembahasan kedua saya tentang “Puasa”. Materi ini diambil dari kitab Ihya Ulumuddin, tepatnya dalam bab Asroru Syiam. Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada baiknya  kita mengetahui terlebih dahulu siapa Imam Al Ghazali.

Menurut sumber Kompas.com, Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada 450 H atau 1058 dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thus. Sejak kecil, ia sudah menjadi anak yatim karena ditinggal ayahnya. Namun, sebelum meninggal, ayahnya menitipkannya ke salah satu sahabatnya untuk mengurus pendidikannya.

Imam Ghazali adalah seorang akademisi serta ahli tasawuf yang telah melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu karya terkenal dari Imam Ghazali berjudul Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama). Semasa muda, Al-Ghazali merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia pandai dalam ilmu tafsir Al Quran, hadis, ilmu kalam, dan filsafat.

Al-Ghazali mendapatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di Kota Thus. Ia belajar ilmu agama bersama seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Al-Ghazali kecil telah pandai berbahasa Arab dan Parsi. Ia kemudian belajar mengenai ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fikih, filsafat, dan mahzab-mahzab besar Islam. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di bidang ilmu fikih di Jarajan. Guru Imam Al-Ghazali saat itu adalah Imam Harmaim di Naisabur.

Selain itu, Al-Ghazali juga mengembara ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu, seperti ke Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem. Berkat kegigihannya dalam belajar, pada 484 H atau 1092, Al-Ghazali diangkat menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Itulah sekelumit biografi dari Imam Al Ghazali, untuk lebih jelasnya, Anda dapat mencari referensi yang lebih lengkapnya secara mandiri.

Puasa menurut Imam Al Ghazali pada hakikatnya adalah sebagai media untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Dan hal tersebut benar-benar berfungsi, apabila orang yang melaksanakan puasa dilandasi oleh kemauan yang kuat dan motivasi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah melalui cara mengalahkan keinginan-keinginan yang bersifat lahiriah.

Mengapa puasa dianggap Istimewa? Karena ada dua variabel makna yang hanya dimiliki oleh ibadah puasa, yakni: 1) Dalam puasa ada rahasia yang tidak terdapat dalam ibadah lainnya yang bisa terlihat, ibadah puasa tidak terlihat dan hanya dapat disaksikan oleh Allah semata; 2) Puasa itu pengekang setan yang menggoda manusia melalui syahwat, sedangkan syahwat hanya bisa diperkuat dengan makan dan minum.

Menurut sumber lainnya, ada beberapa dalil atau hadits yang menerangkan keutamaan puasa, di antara ringkasannya adalah sebagai berikut:

1.     Sesungguhnya setan itu berjalan melewati aliran darah manusia, maka persempitlah jalannya dengan puasa.

2.     Sabda Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah RA: Teruslah menggedor-gedor pintu surga dengan cara lapar (berpuasa).

3.     Setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT minimal 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, kecuali puasa, hanya Allah yang mengetahui balasannya.

4.     Allah SWT membanggakan anak-anak muda yang gemar beribadah, khususnya anak muda yang berpuasa.

5.     Orang yang berpuasa akan bertemu dengan dua kebahagiaan, yang pertama saat buka puasa, dan yang kedua saat bertemu dengan Allah SWT.

Ada tujuh konteks dalam ibadah puasa, yaitu: kepatuhan akan kewajiban dari Allah, pelatihan/riyadah dalam menguasai diri, pengorbanan dalam arti memberikan persembahan ibadah terbaik kepada Allah, penyucian untuk menaikkan kualitas kemanusiaan, perjuangan dalam mengalahkan hawa nafsu, keikhlasan beribadah yang hanya disaksikan oleh Allah, dan hikmah/i’tibar dalam mempelajari manfaat dari pembelajaran puasa.

Sekarang kita pahami tingkatan atau level puasa. Tingkatan puasa menurut Imam Al Ghazali adalah sebagai berikut:

1.     Puasa Awam/Umum

Puasa umum ini menitikberatkan kepada menahan hal-hal yang membatalkan, dalam bentuk kebutuhan perut dan kelamin, tanpa memandang aspek-aspek menahan diri yang lain. Jadi dengan kata lain, puasa umum ini hanya mencegah perut dan kelamin dari memenuhi segala keinginannya.

2.     Puasa Khusus

Puasa khusus yaitu berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.

Puasa khusus ini, disamping mencegah keinginan dan nafsu kelamin, juga menahan keinginan dari anggota badan seluruhnya untuk tidak melakukan dosa dan maksiat.

Orang-orang yang berada pada tingkat puasa khusus memiliki kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah. Tujuannya untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya yakni ketenangan dan keterangan batin.

3.     Puasa Khusus Al Khusus

Puasa Khusus Al Khusus yaitu puasa hati dari segala cita-cita yang hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya daripada selain Allah SWT secara keseluruhan.

Puasa Khusus Al Khusus menurut Imam Al Ghazali adalah puasanya para Nabi dan orang-orang yang siddiq serta dekat dengan Allah SWT, mereka menganggap batal puasanya apabila memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, kecuali masalah-masalah dunia yang mendorong ke arah pemahaman agama, karena hal tersebut dianggap sebagai tanda ingat kepada akhirat.

Orang-orang yang puasa Khusus Al Khusus merasa berdosa apabila hari-harinya terisi dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut bermula dari rasa kurang yakin dengan janji Allah SWT, untuk mencukupkan rizkinya.

Ada rahasia puasa berdasarkan logikanya Imam Al Ghazali. Manusia derajatnya di atas hewan, karena memiliki akal, dan di bawah malaikat karena memiliki hawa nafsu. Saat manusia terjerumus dalam hawa nafsu maka ia akan turun ke tingkat hewan. Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa nafsu, maka ia terangkat ke tingkat malaikat.

Malaikat itu dekat dengan Allah. Mereka yang perilakunya dekat dengan malaikat, berdekatanlah ia dengan Allah, sebagaimana dekatnya para malaikat itu. Inilah rahasia puasa, bukan sekadar menunda makan atau mengumpulkan dua makan ketika malam, kemudian membenamkan diri dalam hawa nafsu yang lain sepanjang hari.

Perumpamaan orang yang mencegah dirinya dari makan dan minum, namun bercampur dengan dosa, adalah seperti orang yang menyapu salah satu daripada anggota tubuhnya pada wudlu tiga kali. Maka sesungguhnya telah sesuai pada dhahir bilangannya, namun ia telah meninggalkan yang penting yaitu membasuh. Maka salatnya akan tertolak lantaran kebodohannya.

Apa yang menjadi “target” dari ibadah puasa ini? Menurut Imam Al Ghazali puasa memiliki target agar manusia menjadi “Taqwa” kepada Allah SWT. Makna Taqwa yang pertama adalah  takut (haybah), sesuai dengan firman Allah (2: 281) yang artinya: “Dan bertaqwalah (takutlah) suatu hari yang kamu dikembalikan kepada Allah.” Makna Taqwa yang kedua adalah taat, sesuai firman Allah (3: 102) yang artinya: “Hai orang yang beriman, bertaqwalah (taatlah) kepada Allah dengan benar-benar taqwa (taat). Makna Taqwa yang ketiga adalah menyucikan hati dari dosa, sesuai dengan firman Allah (24:52) yang artinya: “ Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan”.

Jadi telah teranglah, bahwa bagi tiap-tiap ibadah itu mempunyai dhahir dan batin, kulit dan isi. Dan kulitnya itu memiliki beberapa derajat dan bagi tiap-tiap derajat mempunyai beberapa lapisan. Maka kepadamulah sekarang, untuk memilih, apakah engkau cukupkan dengan kulit saja tanpa isi, atau engkau menceburkan diri kepada lapisan isi.

Saya akan tuliskan beberapa quote yang menarik tentang puasa, yaitu:

1.     “Fasting is the first principle of medicine; fast and see the strength of spirit reveal it self” (Jalaluddin Rumi).

2.     “I believe that there is no prayer without fasting and there is no real fasting without prayer” (Mahatma Gandhi).

3.     “I fast for greater physical and mental efficiency” (Plato).

4.     “Fasting cures diseases, dries up bodily humors, puts demonds to flight, get rid of impure thoughts, makes the mind clearer and the heart purer, the body sanctified, and raises man to the throne of God” (Athenaeus).

5.     “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan kata-kata kotor/kata-kata tidak penting atau konyol. Apalagi melakukan hal-hal kotor/jelek, dan tidak tahu/tidak peduli amat/masa bodoh, Allah tidak butuh lapar dan hausmu”. (Hadits Nabi).

Itulah bahasan tentang puasa menurut Imam Al Ghazali. Terkait hikmah atau manfaat yang akan didapatkan dari ibadah puasa, saya rasa Anda dapat mengetahui dengan menggali sendiri secara lahir maupun batin. Semoga ibadah puasa kita tidak sekadar menahan rasa haus dan lapar, namun ada suatu nilai lebih yang dapat kita persembahkan kepada Allah Subhana Wata’ala. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. (EAS).

Senin, 24 Februari 2025

PUASA

 

https://www.detik.com/jogja/berita/d-7793249/45-poster-menyambut-bulan-ramadhan-2025-terbaru-gratis-lucu-dan-keren

Pada tulisan kali ini, saya akan menjelaskan tentang makna puasa. Hal ini, didasari oleh kenyataan bahwa beberapa hari ke depan, kita akan menyambut Bulan Suci Ramadhan 1446 H. Kita patut  bersyukur kepada Allah SWT, karena masih diberikan kesempatan kembali bertemu dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Semoga kita semua dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk meraih keberkahan di dalamnya.

Sebelumnya, kita akan mengingat kembali definisi puasa Ramadhan menurut Syari’at Islam. Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib dalam Islam yang dijalankan dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Puasa Ramadhan dilakukan selama satu bulan penuh, dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa Ramadhan adalah suatu puasa yang diwajibkan Allah SWT pada seluruh umat muslim di muka bumi. Seperti yang terkandung dalam Quran Surat Al-Baqoroh tentang perintah puasa, yang artinya adalah: “ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Tafsir ayat di atas adalah: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa guna mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, dan menyadarkan bahwa manusia memiliki kelebihan dibandingkan hewan, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu dari umat para nabi terdahulu agar kamu bertakwa dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.” (Tafsir Wajiz).

            Mengapa kita harus menjalankan ibadah puasa ini? Apakah ada manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari? Dua pertanyaan ini yang akan saya jawab. Dari sudut pandang Agama Islam sudah sangat jelas kewajiban kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan yang disertai keutamaan di dalamnya. Selain itu, ada makna yang lain yang terkandung dalam hakikat puasa khususnya puasa Ramadhan.

Menurut beberapa sumber yang saya dapatkan, ada beberapa nilai yang akan kita dapatkan ketika menjalankan ibadah puasa, yaitu:

1.     Nilai Normatif

Adalah nilai yang menjadi norma, aturan, maupun kewajiban yang harus di laksanakan oleh seluruh umat Islam.

2.     Nilai Purifikatif

Adalah nilai pembersihan diri dari kotoran, dosa, kesalahan,  hasrat, hawa nafsu, yang berada dalam diri seorang muslim.

3.     Nilai Preventif

Adalah nilai pencegahan, mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan yang merusak keimanan dan ketaqwaan seorang muslim.

4.     Nilai Preservatif

Adalah nilai untuk memelihara kita, agar sehat jasmani, rohani, mental, dan spiritual. “Shumu tashihhu.” (Berpuasalah, niscaya kamu sehat).

Sedangkan secara intelektual menjalankan ibadah puasa memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita, yaitu: kepatuhan, pelatihan, pengorbanan, penyucian, perjuangan, keikhlasan, dan i’tibar dari kelemahan diri. Dimana semua pelajaran ini sudah terangkum dalam empat nilai puasa di atas. Pelajaran tersebut didapatkan karena ibadah puasa langsung di nilai Allah SWT tanpa sepengetahuan orang lain.

Untuk memberikan motivasi khususnya bagi diri saya sendiri dan umumnya kepada semua pembaca agar lebih semangat dalam menjalankan ibadah puasa. Supaya kita tidak sekadar menggugurkan kewajiban berpuasa secara formalitas atau rutinitas. Maka saya akan menguraikan beberapa pandangan dari para tokoh besar, baik itu yang beragama Islam maupun Non-Islam. Karena umat selain agama Islam pun mengenal dan sering menjalankan ritual ibadah puasa.

1.     Plato: “Aku berpuasa agar fisik dan mentalku sehat.”

2.     Augustinus: “Puasa membersihkan jiwa, meningkatkan pikiran, menspiritualkan yang fisik, menumbuhkan rasa sesal, dan kerendahan hati, menyingkirkan hambatan nafsu, memadamkan ketamakan, dan menyalakan cahaya sejati kesucian.”

3.     Dante Alighieri: “Puasa memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan kesedihan.”

4.     Paracelcus: “Puasa adalah pengobatan terbaik, dokter dalam diri.”

5.     Benjamin Franklin: “ Obat terbaik adalah istirahat dan puasa.”

6.     Fyodor Dostoyevsky: “Ketaatan, puasa, dan doa sering ditertawakan, padahal hanya melalui hal tersebut terdapat jalan untuk kebebasan sejati. Aku memotong keinginan tak terkendali dan tidak penting. Aku tundukkan kesombongan dan ketamakanku dan kuhukum ia dengan kepatuhan dengan pertolongan Tuhan, aku mencapai kemerdekaan jiwa dan kenikmatan spiritual.”

7.     Herman Hesse: “Setiap orang dapat melakukan keajaiban, setiap orang dapat mencapai tujuannya, kalau ia mampu berpikir, kalau ia mampu menunggu, dan kalau ia mampu berpuasa.”

8.     Mahatma Gandhi: “Agamaku mengajarkan kepadaku, bahwa kapanpun muncul tekanan yang tak dapat disingkirkan sendiri, seseorang harus berpuasa dan berdoa.”

9.     Syekh Waliyullah Al-Dihlawi: “Puasa ibarat Tiryaq, Penawar bagi racun-racun setan (semacam “detoksifikasi spiritual”). Dengan puasa Anda memukul naluri kebinatangan (al-bahimiyyah) yang mungkin selama ini menguasai diri Anda.”

10.  Syekh Abdul Wahab Al-Sya’rani: “Puasa membawa kepada pencerahan batin (ghayat an-nuraniyyah) dan peneguhan rohani; serta berbagai kebajikan yang berlimpah tatkala mereka berpuasa.”

11.  Tariq Ramadhan: “Filosofi puasa mengundang kita untuk mengenali diri kita sendiri, menguasai diri kita sendiri, dan mendisiplinkan diri kita sendiri menjadi lebih baik, juga untuk membebaskan diri kita sendiri. Berpuasa berarti mengenali ketergantungan kita dan membebaskan diri kita darinya.”

12.  Suhrawardi Al-Maqtul: “Puasa adalah upaya untuk melepaskan diri dari penjara raga yang material, jalan penjernihan jiwa sehingga mampu memantulkan Cahaya Tuhan (pengetahuan).”

13.  Ibnu Arabi: ”Puasa adalah pencegahan dan peninggian, tiada tindakan yang dilakukan, penafiran keserupaan, dan sifat As-Shamadiyah, yang tebusannya adalah Allah SWT.”

14.  Maulana Jalaluddin Rumi: “Meski ragamu akan memucat sebab puasa, namun jiwamu akan melembut bagai sutra, pintu-pintu langit akan terbuka, Yusuf menjadi pemimpin Mesir yang dicintai, sebab ia bersabar dalam sumur gelap tak terperi.” (Rumi, Divan-e shams, puisi 2344).”

15.  Syekh Siti Jenar: “Puasa secara lahir disubstitusikan dengan kemampuan untuk melaparkan diri. Bukan sekadar mengatur ulang pola makan di bulan Ramadhan, tetapi mampu ngelakoni weteng kudu luwe, membiasakan diri lapar, bukan membiarkan kelaparan. Sehingga terciptalah sistem masyarakat yang terkendali hawa nafsunya.”

Itulah beberapa pandangan tentang keutamaan dalam menjalankan ibadah puasa. Sebenarnya masih banyak lagi pandangan-pandangan dari Tokoh Besar lainnya. Namun, saya hanya menguraikan lima berlas (15) saja, agar para pembaca tidak terlalu banyak dalam mencerna maknanya. Di sini, saya tidak menguraikan tentang kewajiban puasa berdasarkan ilmu fiqihnya, keutamaan puasa di bulan Ramadhan, ataupun tingkatan puasa, karena semua itu berada dalam kapasitas yang berbeda.

Sebagai akhir dari tulisan saya, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya serta sesuai syari’at yang berlaku dalam agama Islam. Dengan demikian, kita dapat menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai waktu untuk muhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aamiin Yaa Robbal’alaamiin. Marhaban Yaa Ramadhan. (EAS).

FILSAFAT CINTA ── ERICH FROMM

  https://www.liputan6.com/feeds/read/5877045/teori-kepribadian-erich-fromm Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kalimat: ‘Love is an a...